Bola.com, Jakarta - Keputusan mengejutkan datang dari sepak bola Afrika. Gelar Senegal di Piala Afrika 2025 resmi dicabut setelah Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengabulkan banding yang diajukan Maroko terkait insiden di partai final.
Dalam putusan yang tergolong langka, CAF bahkan memberikan kemenangan 3-0 sekaligus trofi kepada Maroko.
Keputusan itu diambil setelah Senegal memilih meninggalkan pertandingan saat final sebagai bentuk protes terhadap penalti yang diberikan kepada Maroko di menit-menit akhir.
Kasus ini menambah daftar panjang tim-tim yang pernah kehilangan gelar juara, bahkan setelah pertandingan final berakhir.
Berikut beberapa contoh lain dalam sejarah sepak bola.
Marseille
Marseille 1992/93
Marseille sempat meraih dua gelar sekaligus pada musim 1992/93, yakni Ligue 1 dan Liga Champions. Namun, gelar liga domestik mereka kemudian dicabut setelah klub terbukti terlibat dalam pengaturan skor.
Presiden klub saat itu, Bernard Tapie, diketahui menawarkan suap sebesar 250 ribu franc kepada tiga pemain Valenciennes, yakni Christophe Robert, Jorge Burruchaga, dan Jacques Glassman, agar tidak tampil maksimal dalam laga krusial di akhir musim.
Valenciennes memang kalah dalam pertandingan tersebut, yang memastikan gelar bagi Marseille. Namun, Glassman melaporkan upaya suap itu kepada wasit setelah menolaknya.
Akibatnya, Marseille dijatuhi hukuman degradasi ke Ligue 2. Mereka tetap diizinkan mempertahankan gelar Liga Champions, meskipun muncul tuduhan lain terkait pengaturan skor dan doping.
Juventus
Juventus 2004/05 dan 2005/06
Kasus Calciopoli menjadi satu di antara skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Italia. Dua gelar Serie A Juventus, musim 2004/05 dan 2005/06, dicabut akibat skandal tersebut.
Manajer umum Juventus ketika itu, Luciano Moggi, dinyatakan bersalah karena memanipulasi penunjukan wasit agar menguntungkan Juventus dalam jangka waktu panjang.
Ia lantas dijatuhi larangan seumur hidup dari sepak bola, sementara Juventus diturunkan ke Serie B.
Hingga kini, Juventus tidak pernah menerima keputusan tersebut. Mereka tetap memasukkan dua gelar itu dalam catatan tidak resmi dan sempat menggugat keputusan pemberian Scudetto 2005/06 kepada Inter.
Genoa
Genoa 2004/05
Kasus lain di Italia terjadi pada musim yang sama, ketika Genoa kehilangan gelar Serie B akibat skandal suap.
Pada laga terakhir musim 2004/05, Genoa hanya perlu menang atas Venezia, tim yang sudah terdegradasi dan dilanda masalah finansial, untuk memastikan promosi ke Serie A.
Namun, manajemen Genoa tetap mencoba mengamankan hasil dengan menyuap manajer umum Venezia, Giuseppe Pagliara, sebesar 250 ribu euro agar mengalah. Uang tersebut kemudian ditemukan di mobilnya.
Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) merespons dengan mencabut gelar Genoa dan menempatkan mereka di posisi terbawah klasemen akhir, yang berarti degradasi otomatis ke Serie C1.
Belakangan terungkap pula bahwa rival promosi mereka, Torino, juga sempat membayar Venezia agar tampil lebih serius melawan Genoa.
Elgin City
Elgin City 1992/93
Elgin City tampil dominan di Highland League musim 1992/93 dan memastikan gelar setelah menang 6-0 atas Forres Mechanics di laga terakhir.
Namun, pertandingan tersebut digelar pada Jumat malam, bukan Sabtu seperti jadwal semula. Perubahan itu memungkinkan Elgin memainkan sejumlah pemain yang seharusnya terkena skorsing.
Satu di antaranya adalah pemain-merangkap-manajer John Teasdale, yang membuat klaim "kesalahan tidak disengaja" sulit dipercaya.
Akibatnya, gelar mereka dicabut. Namun, tim peringkat kedua, Cove Rangers, menolak dinobatkan sebagai juara. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad, kompetisi Liga Skotlandia tersebut berakhir tanpa pemenang.
Pada 2018, Elgin sempat mengajukan banding agar medali pemain mereka dikembalikan, tetapi ditolak.
Shanghai Shenhua
Shanghai Shenhua 2003
Shanghai Shenhua sempat menjadi satu di antara klub besar di China, bahkan dikenal jor-joran mendatangkan pemain bintang pada era 2010-an, seperti Didier Drogba, Nicolas Anelka, dan Carlos Tevez.
Namun, pada awal 2000-an, praktik yang mereka lakukan berbeda. Klub ini terlibat dalam skandal suap terhadap wasit.
Pada 2011 terungkap bahwa manajer umum klub, Lou Shifang, mengatur suap untuk wasit dalam laga derbi Shanghai delapan tahun sebelumnya.
Awalnya gelar mereka tidak dicabut. Namun, kemudian terungkap bahwa Shenhua juga terlibat pengaturan skor dalam pertandingan melawan Shaanxi Guoli.
Sepuluh tahun setelah kejadian, gelar liga mereka pada 2003 akhirnya dicabut dan musim tersebut dinyatakan tanpa juara.
Sumber: Planet Football