Insiden Tendangan Kung Fu Bisa Bikin Fadly Alberto Dijatuhi Hukuman Berat, Pengamat: Tak Perlu Sanksi Seumur Hidup!

Fadly Alberto Hengga sedang menjadi sorotan setelah sebuah insiden bersama klubnya, Bhayangkara FC U-20 di Elite Pro Academy (EPA) 2025/2026.

BolaCom | Vincentius AtmajaDiterbitkan 21 April 2026, 16:00 WIB
Striker Timnas Indonesia U-16, Fadly Alberto berusaha melewati adangan bek Singapura, Muhammad Luth Harith pada laga matchday pertama Grup A Piala AFF U-16 2024 di Stadion Manahan, Solo, Jumat (21/6/2024). (Bola.com/Radifa Arsa)

Bola.com, Jakarta - Fadly Alberto Hengga sedang menjadi sorotan setelah sebuah insiden bersama klubnya, Bhayangkara FC U-20 di Elite Pro Academy (EPA) 2025/2026. Pemain muda yang bersinar di Timnas Indonesia U-17 tersebut kini terancam sanksi berat karena tendangan kung fu.

Fadly Alberto kedapatan melakukan aksi tidak terpuji dalam duel Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 pada laga lanjutan EPA 2025/2026. Tepatnya setelah laga yang berlangsung di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (19/4/2026).

Advertisement

Duel kedua tim berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Dewa United dan berujung keributan. Semula hanya adu mulut dan ofisial dari kedua tim.

Namun, tiba-tiba Fadly Albero berlari kencang ke arah pemain Dewa United U-20, dengan langsung melancarkan tendangan kung fu tepat ke badan pemain lawan hingga terjatuh dan keributan makin pecah.

 


Sanksi Berat

Aksi Faldy Alberto Hengga bersama Bhayangkara FC U-20 di EPA Super League U-20 2025/2026. (Dok. Bhayangkara Youth)

Akibat peristiwa tersebut, Fadly Alberto kini terancam sanksi berat. Dalam kericuhan di Semarang, Fadly menjadi salah satu terduga pelaku tendangan ke pemain Dewa United.

PSSI melalui Sekretaris Jenderal Yunus Nusi, memastikan laporan insiden tersebut sudah diterima dan menegaskan proses penanganan akan berjalan cepat melalui Komisi Disiplin (Komdis).

Yunus menegaskan sikap tegas federasi terhadap insiden tersebut. Dia menyebut tindakan Fadly tidak bisa ditoleransi dan akan diproses dengan prioritas tinggi.

Langkah cepat ini menunjukkan keseriusan PSSI dalam menjaga integritas kompetisi, terutama di level pembinaan seperti EPA U-20. Kasus ini juga menjadi pengingat keras bagi pemain muda agar tetap menjaga emosi saat bertanding.

PSSI turut menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Yunus menilai insiden seperti ini seharusnya tidak lagi muncul di kompetisi usia muda yang berfokus pada pengembangan karakter dan kualitas pemain.

 


Tanggung Jawab Semua Pihak

Pengamat sepak bola nasional, Aris Budi Sulistyo, berpendapat tindakan yang dilakukan Fadly Albero maupun pemain hingga pelatih kiper dalam keributan di Stadion Citarum kemarin sangat disayangkan, dan jelas tidak terpuji.

Seorang atlet atau olahragawan seharusnya menjunjung tinggi sportivitas, bukan perkelahian membabi buta dan tak terkendali semacam itu. Mantan pemain Arseto Solo, Arema Malang, sampai Persik Kediri itu menilai pentingnya menanamkan karakter santun dan sportif sejak usia dini.

"Menanggapi insiden keributan pemain di EPA U-20 kemarin, itu jelas tindakan tidak terpuji apalagi pemain yang disiapkan untuk ke Timnas Indonesia. Saya berharap kepada pelatih, manajer, dan pengurus klub selalu memberi edukasi ke setiap pemain, untuk lebih santun, lebih bijak di dalam pertandingan," terangnya kepada Bola.com, Selasa (21/4/2026).

"Kecewa pasti ada, karena selama 90 menit tidak sesuai keinginan atau karena lain. Saya juga pernah menjadi pemain, emosi ingin mengajak berantem, tapi sepak bola Indonesia perlahan sudah berbenah dan maju," lanjut Aris Budi Sulistyo.

"Buat seluruh pemain yang terbiasa emosional, mulai sekarang belajar menerima kekalahan, menerima ejekan, kita bisa melaporkan karena ada komisi disiplin yang menindaklanjuti. PSSI sudah tegas sekarang, dan tidak akan tebang pilih dalam memberi sanksi,"jelasnya.

 


Sanksi Ideal

Pria yang mengantarkan Persik Kediri promosi ke ISL pada musim 2013 tersebut berharap ada sanksi tegas dari Komdis PSSI kepada Fadly Alberto dan juga pemain lain maupun asisten pelatih yang terlibat dalam kericuhan di Semarang kemarin.

Hanya saja, ia tak setuju jika Fadly Alberto harus dihukum seumur hidup dari sepak bola. Menurut Aris Budi, Fadly Alberto adalah aset besar masa depan sepak bola Indonesia, yang masih bisa dididik.

"Saya pernah mencari rezeki dari sepak bola, tentu menyayangkan apabila nantinya disanksi seumur hidup dilarang bermain sepak bola atas insiden kemarin. Tapi beri edukasi dan pembelajaran ke pemain, untuk dijadikan peringatan," bebernya.

"Sepak bola masih di lingkup olahraga dan ada komdis, karena bisa mematikan karier pemain. Sanksi tidak perlu seumur hidup, mungkin bisa cukup dengan skorsing 5 tahun atau denda uang. Hukuman seperti itu saja bisa membuat seorang pemain bakal jera, dan menjadi pembelajaran bagi pemain-pemain lain."

"Pelatih kiper sampai ikut-ikutan dalam insiden kemarin juga perlu diberi sanksi. Untuk pemain yang bersangkutan bisa diberi sanksi yang sifatnya mendidik, bukan mematikan karier. Usia mereka masih sangat muda, punya talenta, dan muaranya nanti ke Timnas Indonesia," pungkas Aris Budi Sulistyo.

Berita Terkait