Bola.com, Jakarta - Warisan kepelatihan Pep Guardiola berpotensi melampaui nama-nama besar seperti Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger, dan Jurgen Klopp. Indikasinya tak hanya soal gelar, tetapi juga bagaimana ia meninggalkan fondasi tim untuk masa depan.
Saat Ferguson mengakhiri masa jabatannya di Manchester United pada 2013, ia melangkah pergi dengan medali juara Premier League di lehernya.
Namun, ada konsekuensi besar: ia menguras habis potensi skuad yang sudah menua. Proses estafet ke David Moyes menjadi pengalaman pahit yang dampaknya masih terasa hingga kini.
Berbeda dengan itu, Klopp tidak meninggalkan Liverpool sebagai juara saat berpisah dengan Anfield dua tahun lalu.
Meski begitu, ia mewariskan skuad dalam kondisi cukup baik kepada Arne Slot, terbukti dari keberhasilan meraih gelar hanya 12 bulan setelah kepergiannya.
Sementara itu, Wenger mengakhiri perjalanannya di Arsenal pada 2018 tanpa meninggalkan trofi liga maupun skuad yang siap bersaing di level tersebut. Dibutuhkan perombakan besar oleh Mikel Arteta untuk mengembalikan Arsenal sebagai penantang serius.
Fakta-fakta tersebut menegaskan satu hal: peralihan dari pelatih yang sudah lama menjabat hampir selalu rumit.
Posisi Unik
Kini, Manchester City berpotensi menghadapi situasi serupa. Masa depan Guardiola mulai dipertanyakan, apakah ia masih akan memimpin tim pada Agustus mendatang.
Namun, jika ia benar-benar pergi, posisinya tergolong unik dalam era Liga Inggris, berpeluang menutup masa jabatannya dengan gelar sekaligus meninggalkan skuad yang secara teori masih akan berkembang.
Kendati belum ada konfirmasi resmi, keyakinan bahwa Guardiola akan pergi di akhir musim makin kuat.
Pelatih berusia 55 tahun itu masih terikat kontrak hingga Juni 2027, tetapi perpanjangan kontrak yang ia tandatangani pada November 2024, berdurasi dua tahun, bukan satu tahun, sempat menimbulkan tanda tanya.
Tidak akan mengejutkan jika ia tidak menyelesaikan tahun terakhir kontraknya.
Pengumuman resmi pun kecil kemungkinan dilakukan selama Man City masih bersaing dalam perburuan trofi. Guardiola dikenal selalu berupaya meminimalkan gangguan.
Warisan yang Ditinggalkan
Kemenangan atas Arsenal pada Minggu malam lalu membuat selisih poin di papan atas tinggal tiga angka dengan lima pertandingan tersisa, ditambah satu laga simpanan.
Man City juga akan menghadapi Southampton di semifinal Piala FA akhir pekan ini. Artinya, peluang meraih treble domestik masih terbuka setelah menundukkan Arsenal di Carabao Cup, Maret lalu.
Bahkan Ferguson pun tidak mengakhiri kariernya dengan skenario seperti itu.
Selain itu, Ferguson meninggalkan MU dalam kondisi yang mendekati fase transisi sulit. Gelar musim 2012/2013 diraih dengan ketergantungan besar pada pemain-pemain senior, seperti Patrice Evra, Rio Ferdinand, Nemanja Vidix, Michael Carrick, Ryan Giggs, Paul Scholes, serta Robin van Persie.
Dari nama-nama tersebut, hanya Carrick yang masih bertahan setelah 2015.
Giggs bahkan pernah mengatakan dalam sebuah podcast bersama Ferdinand, "Salah satu tanda pelatih hebat adalah tim yang ia tinggalkan."
Moyes memang melakukan sejumlah kesalahan, tetapi tugasnya menjadi jauh lebih berat karena kondisi skuad yang diwarisi.
Pendekatan Berbeda
Guardiola mengambil pendekatan berbeda. Dalam 18 bulan terakhir, ia melepas sejumlah pemain berpengalaman seperti Ederson, Kyle Walker, Ilkay Gündogan, dan Kevin De Bruyne.
Sebagai gantinya, ia memberi ruang bagi pemain muda seperti Marc Guehi, Josko Gvardiol, Abdukodir Khusanov, Nico O'Reilly, Antoine Semenyo, dan Rayan Cherki.
Rata-rata usia skuad Man City musim ini berada di angka 26,1 tahun. Bahkan, susunan pemain utama saat menghadapi Arsenal lebih muda lagi, yakni 25,3 tahun.
Terlepas dari apakah Guardiola bertahan atau pergi, investasi tambahan tetap akan dilakukan pada musim panas nanti.
Namun, perekrutan akan lebih terarah, misalnya mencari gelandang pengganti Bernardo Silva yang akan hengkang, serta kemungkinan bek kanan, bukan perombakan total. Fondasi tim masa depan Man City pada dasarnya sudah terbentuk.
Guardiola menyatakan bahwa Man City akan menjadi lebih baik musim depan.
Pernyataan itu memunculkan harapan di kalangan suporter bahwa ia mungkin memilih bertahan untuk menikmati hasilnya, alih-alih menyerahkan "tiket emas" kepada penerus, entah itu mantan asistennya, Enzo Maresca, atau sosok lain.
Dampak bagi Man City
Mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munchen itu memang pernah menunda rencana hengkang sebelumnya, termasuk saat memperpanjang kontrak pada November 2022. Kesempatan sekali lagi untuk menjuarai Liga Champions juga bisa menjadi godaan.
Manajemen The Citizens selalu tenang menyikapi masa depan Guardiola. Mereka percaya hubungan yang terjalin begitu kuat sehingga sang pelatih akan mempertimbangkan kepentingan klub sekaligus dirinya sendiri.
Itu pula yang membuat tidak ada kekhawatiran internal saat ia berpotensi pergi musim panas lalu, meski performa tim saat itu kurang memuaskan, karena ia memahami bahwa transisi di tengah jadwal padat, termasuk Piala Dunia Antarklub, akan menyulitkan klub.
Kapan pun Guardiola memutuskan pergi, dampaknya tentu besar bagi Man City.
Sejak kedatangannya pada 2016, klub ini dibentuk sesuai visinya, dan hasilnya adalah deretan trofi. Ia bahkan masih berpeluang menutup masa jabatannya sebagai juara, sembari meninggalkan tim yang siap menambah koleksi gelar di masa depan.
Sesuatu yang bahkan belum pernah dicapai oleh Ferguson, Klopp, maupun Wenger.
Sumber: ESPN