William Saliba Overthinking Peluang Gelar Arsenal, sampai Tidur Terganggu

William Saliba mengungkapkan bahwa peluang gelar yang tengah diperjuangkan Arsenal musim ini begitu membebani pikirannya.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 25 April 2026, 17:45 WIB
Erling Haaland mencoba melewati William Saliba dalam laga final Piala Liga Inggris antara Arsenal vs Manchester City di Wembley Stadium, 23 Maret 2026. (AP Photo/Maja Smiejkowska)

Bola.com, Jakarta - Bek William Saliba mengungkapkan bahwa peluang gelar yang tengah diperjuangkan Arsenal musim ini begitu membebani pikirannya, bahkan hingga mengganggu waktu tidurnya.

The Gunners saat ini berada dalam tekanan besar dalam perburuan gelar Premier League. Mereka wajib meraih kemenangan saat menghadapi Newcastle United pada laga akhir pekan untuk kembali ke puncak klasemen, meski telah memainkan satu pertandingan lebih banyak dibanding pemuncak sementara, Manchester City.

Advertisement

Dalam wawancaranya bersama Men in Blazers, Saliba mengakui bahwa ambisi meraih trofi membuatnya terus memikirkan target tersebut tanpa henti.

“Bahkan saat tidur, saya masih memikirkannya. Ketika Anda begitu dekat dengan impian untuk memenangkan Liga Champions dan Premier League, hal itu selalu ada di pikiran,” ujarnya.


Belum Pernah Raih Trofi Besar

Pemain Arsenal, William Saliba (kiri), berduel dengan striker Man City, Erling Haaland, pada pekan 5 Liga Inggris 2025/2026 di Emirates Stadium, Minggu (21/9/2025) malam WIB. (AP Photo/Kin Cheung)

Pemain asal Prancis itu juga menegaskan bahwa dirinya belum pernah meraih trofi besar sepanjang kariernya, sehingga ia bertekad memberikan segalanya demi mewujudkan ambisi tersebut.

“Saya belum memenangkan apa pun yang besar dalam karier saya. Tapi saya akan memberikan segalanya untuk memenangkan liga dan Liga Champions. Yang pertama selalu paling sulit, tapi setelah itu saya yakin akan lebih mudah,” tambahnya.

Meski demikian, Saliba mengakui performa Arsenal dalam beberapa pertandingan terakhir belum memuaskan. Namun, ia tetap optimistis timnya mampu bangkit.

“Beberapa pertandingan terakhir memang tidak berjalan baik, tetapi kami belajar dari itu dan akan fokus pada laga berikutnya untuk mengubah segalanya,” tutupnya. 


Kehilangan Momentum

Christian Kofane dan William Saliba berebut bola dalam laga leg kedua babak 16 besar Liga Champions antara Arsenal vs Leverkusen di Emirates Stadium, 18 Maret 2026. (AP Photo/Ian Walton)

Arsenal dan Manchester City kembali menjadi sorotan utama dalam perburuan gelar Premier League musim ini. Dua tim dengan pendekatan berbeda kini berada di titik krusial, di mana setiap pertandingan bisa menentukan arah juara.

City dikenal sebagai tim yang selalu tepat waktu dalam fase akhir musim. Ketika persaingan gelar memasuki tahap penentuan, tim asuhan Pep Guardiola kerap menemukan performa terbaiknya.

Situasi ini kembali terlihat musim ini. Setelah pertandingan terakhir, City berhasil merebut posisi puncak klasemen setelah 200 hari dikuasai Arsenal. Mereka bahkan masih menyimpan satu laga tunda. Hal ini membuat persaingan tidak hanya soal poin, tetapi juga selisih gol dan momentum.


Melempem di Waktu Krusial

Mikel Arteta memberikan instruksi pada skuad Arsenal di laga lawan Manchester City di pekan kelima Liga Inggris 2025/26 di Emirates Stadium, Minggu (21/09/2025). (AP Photo/Kin Cheung)

Arsenal musim ini sempat dianggap sebagai salah satu tim paling solid di Eropa. Mereka mampu mengontrol pertandingan besar, termasuk di Liga Champions, serta memiliki pertahanan yang sulit ditembus.

Namun, pendekatan ini memiliki konsekuensi. Arsenal mengorbankan sebagian agresivitas serangan demi stabilitas permainan. Akibatnya, banyak gol mereka lahir dari situasi terstruktur seperti tendangan sudut dan bola mati.

Secara keseluruhan, Arsenal tampil sebagai tim yang fokus pada kualitas peluang, bukan kuantitas. Mereka tidak mengejar permainan terbuka, melainkan mengatur ritme pertandingan.

Di sisi bertahan, Arsenal juga sangat disiplin. Mereka membatasi peluang berbahaya lawan dan menjaga struktur lini belakang tetap rapat, bahkan saat ditekan.

Namun, dalam beberapa laga terakhir, terlihat sedikit penurunan produktivitas serangan dan meningkatnya tekanan dari lawan. Meski tidak drastis, perubahan kecil ini mulai terasa dalam perebutan gelar.

Sumber: Daily Mail

Berita Terkait