Kontroversi Panas, Burnley Dituding Tak Niat Bersaing di Premier League demi Cuan

Tuduhan panas ke Burnley, naik-turun liga demi cuan?

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 03 Mei 2026, 10:15 WIB
Striker Burnley asal Belanda #19 Zian Flemming (C) merayakan setelah mencetak gol pertama mereka di menit-menit akhir pertandingan Liga Inggris antara Chelsea dan Burnley di Stamford Bridge, London, pada 21 Februari 2026. (Ben STANSALL/AFP)

Bola.com, Jakarta - Kritik keras mengiringi performa buruk Burnley sepanjang Premier League musim ini.

Di tengah ketatnya persaingan papan atas antara Arsenal dan Manchester City, serta perebutan tiket kompetisi Eropa dan upaya menghindari degradasi, Burnley justru menjadi sorotan karena performa yang dianggap jauh dari standar.

Advertisement

Dengan tiga pertandingan tersisa, Burnley terpuruk di posisi ke-19 dengan 20 poin. Mereka tertinggal 14 angka dari Tottenham Hotspur di posisi ke-18, dan hanya dua poin di atas juru kunci, Wolverhampton Wanderers.

Situasi ini membuat Burnley sudah resmi turun kasta ke Championship bersama Wolverhampton Wanderers, sementara satu tempat degradasi lainnya masih diperebutkan antara Tottenham Hotspur dan West Ham.

Sorotan paling tajam datang dari koresponden utama sepak bola talkSPORT, Alex Crook. Dalam ulasannya, Crook tidak sekadar mengkritik, tetapi juga mempertanyakan keseriusan Burnley bersaing di level tertinggi.

"Burnley akan kembali ke tempat asal mereka, yaitu Championship. Untuk musim kedua beruntun di Premier League, mereka benar-benar merusak kualitas kompetisi," kata Crook.


Bukti Tak Serius

Kemenangan penting ini membuat Leeds semakin menjauh dari zona degradasi Liga Inggris. (Martin Rickett/PA via AP)

Ia menilai ekspektasi terhadap Burnley sempat cukup tinggi, terutama setelah catatan pertahanan solid di Championship musim lalu di bawah asuhan Scott Parker. Namun, realitas di lapangan jauh berbeda.

"Kami semua berpikir Burnley di bawah Scott Parker, dengan rekor pertahanan musim lalu dan banyaknya clean sheet di Championship, akan datang ke Premier League dan mampu bersaing," ujarnya.

"Faktanya, mereka benar-benar menyedihkan. Empat kemenangan dari 34 pertandingan dan 22 kekalahan. Mereka bahkan kebobolan lebih banyak dibanding Wolves, yang sepanjang musim juga tampil buruk," ulasnya.

Crook juga menyoroti kebijakan transfer klub yang dinilainya tidak masuk akal, termasuk perekrutan Armando Broja.

"Setiap klub Premier League yang merekrut Broja seharusnya pantas diberi sanksi pemecatan. Mereka bahkan menjual kiper utama sebelum memainkan satu pertandingan pun di Premier League. Padahal, dia adalah bagian penting dari kesuksesan musim lalu," ujarnya.

Menurutnya, keputusan itu mencerminkan minimnya ambisi bertahan di kasta tertinggi.

"Itu menunjukkan mereka tidak punya niat untuk bertahan di Premier League. Kalau serius, Anda tidak akan menjual pemain terbaik sebelum pertandingan pertama dimulai," tudingnya.


Tuduhan Memainkan Sistem

Gelandang Liverpool asal Jerman bernomor punggung 07, Florian Wirtz (kiri), tendangannya berhasil ditepis saat pertandingan Liga Inggris antara Liverpool dan Burnley di Anfield, Liverpool, barat laut Inggris pada 17 Januari 2026. (Oli SCARFF/AFP)

Lebih jauh, Crook melontarkan teori kontroversial. Ia menilai Burnley sengaja tidak maksimal bersaing karena memanfaatkan struktur finansial antara Premier League dan Championship.

"Saya akan memakai argumen yang dulu membuat saya diblokir Norwich. Burnley pada dasarnya sedang memainkan sistem," ucapnya.

"Mereka naik ke Premier League tanpa upaya serius untuk bersaing. Lalu turun lagi dan mendapatkan uang parasut," lanjut Crook.

Ia menyebut pola itu bisa terus berulang.

"Mereka mungkin akan promosi lagi musim depan dengan manajer yang tepat, lalu siklusnya diulang lagi," imbuhnya.


Parachute Payments

Wasit memberikan kartu merah pada Lesley Ugochukwu di laga Burnley vs Liverpool di Turf Moor di pekan keempat Liga Inggris 2025/2026, Minggu (14/09/2025). (AP Photo/Jon Super)

Memang, nilai ekonomi di balik promosi ke Premier League sangat besar. Final play-off Championship kerap disebut sebagai pertandingan paling bernilai dalam sepak bola, dengan potensi pemasukan mencapai sekitar 135 juta paun musim ini.

Klub yang terdegradasi juga tetap menerima kompensasi finansial berupa "parachute payments".

Crook bahkan mengusulkan aturan baru untuk menutup celah tersebut.

"Jika sebuah klub terdegradasi dua kali dalam tiga musim, mereka seharusnya dilarang promosi selama lima tahun berikutnya," katanya.

Ia menutup komentarnya dengan nada satir.

"Saya belum pernah ke Turf Moor, dan setelah komentar ini, saya rasa tidak akan pernah diundang ke sana," katanya lagi.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait