Bola.com, Jakarta - Apa yang sebenarnya terjadi dengan Cristiano Ronaldo dan Erik ten Hag di Manchester United masih mendapat atensi, meski situasi itu sudah terjadi beberapa tahun silam.
Menurut Mantan asisten pelatih MU, Steve McClaren, konflik Cristiano Ronaldo dan Erik ten Hag ternyata tidak hanya berdampak di lapangan, tetapi juga memecah suasana ruang ganti Manchester United.
McClaren mengungkap bahwa perbedaan pandangan antara Ronaldo dan Ten Hag membuat skuad terbelah dalam dua kubu.
Ronaldo kembali ke Manchester United pada 2021, tetapi masa keduanya di Old Trafford hanya berlangsung sedikit lebih dari setahun. Hubungannya dengan Ten Hag memburuk akibat perbedaan peran dan tuntutan taktik.
Setelah melontarkan kritik secara terbuka, kontrak Ronaldo pun diputus sebelum ia melanjutkan karier ke Al Nassr.
"Erik mencoba menerapkan gaya bermainnya, dan itu yang membuat konflik dengan Ronaldo terus terjadi," ungkap McClaren kepada The Athletic.
"Saya sudah bilang ke Erik sejak awal, 'Ini antara kamu atau dia.'
Tuntutan Taktik
Menurut McClaren, masalah utama terletak pada tuntutan permainan tanpa bola yang diminta Ten Hag kepada Ronaldo, sesuatu yang tidak sepenuhnya dijalankan sang bintang.
"Ronaldo sebenarnya tidak bermasalah, tapi dia tidak mau menjalankan peran yang diinginkan Erik. Atau mungkin merasa tidak mampu melakukannya," kata McClaren.
Ia menjelaskan instruksi yang diberikan cukup spesifik: begitu kehilangan bola, Ronaldo diminta langsung menutup ruang di tengah, menjadi pemain pertama yang melakukan pressing, lalu melakukan pergerakan berulang, bahkan hingga dua atau tiga kali dalam satu fase permainan.
"Saya bilang ke Ronnie, 'Kalau mau main, itu yang harus kamu lakukan.' Dia menjawab, 'Tidak ada yang mau pressing.' Saya bilang, ;Mereka masih muda, mereka bisa melakukannya.'"
Picu Perpecahan
McClaren menegaskan bahwa dalam sistem permainan modern, seluruh pemain harus terlibat dalam menyerang dan bertahan.
"Kalau 11 pemain menyerang maka 11 pemain juga harus bertahan. Bukan 11 menyerang, 10 bertahan. Jadi, saya bilang, 'Kamu harus berlari, itu sederhana. Kalau tidak, kamu tidak akan bermain.'"
Situasi itu memicu perpecahan di dalam tim.
"Anda mungkin punya setengah tim yang merasa Ronaldo benar, dan setengah lainnya mendukung Erik," kata McClaren.
Perubahan Sikap
McClaren, yang pernah bekerja di bawah Sir Alex Ferguson pada periode 1999-2001, juga menyoroti perubahan karakter pemain dari generasi ke generasi.
Menurutnya, rasa hormat langsung terhadap pelatih tidak lagi sekuat dulu.
"Pertanyaan pertama pemain sekarang adalah, 'Apakah orang ini bisa membantu kami memenangkan pertandingan?' Bukan soal jadi teman atau hal lain," ujarnya.
"Setiap kali Anda tidak menang, mereka mulai mempertanyakan, 'Kenapa kita melakukan ini?' Rasa hormat itu tidak otomatis lagi. Sepak bola sudah berubah," cetus McClaren.
Era Alex Ferguson
Ia membandingkan situasi tersebut dengan era Ferguson, yang dikenal memiliki otoritas mutlak di ruang ganti.
"Di masa Fergie, dia selalu benar, kalau tidak, Anda keluar. Kalau Anda tidak sejalan dan dia tahu, Anda pasti pergi," ungkapnya.
McClaren juga menyebut tantangan yang dihadapi Ten Hag sebenarnya bukan hal baru.
"Masalah yang dihadapi Erik di awal, Fergie juga mengalaminya. Dia pernah cerita harus menghadapi pemain-pemain yang gemar minum setiap hari."
Namun, menurutnya, perbedaan utama terletak pada waktu yang diberikan.
"Fergie punya waktu untuk membangun itu. Erik tidak mendapat waktu yang sama. Di satu sisi, saya bisa memahaminya, tapi di sisi lain juga sulit diterima karena dia sempat memenangkan Piala Liga dan Piala FA," imbuh McClaren.
Sumber: SI