Bola.com, Jakarta - Declan Rice punya lebih dari sekadar alasan untuk merayakan malam bersejarah di Emirates Stadium. Gelandang andalan Arsenal itu tampil sebagai man of the match saat The Gunners memastikan tiket ke final Liga Champions dengan mengalahkan Atletico Madrid 1-0 pada leg kedua semifinal, Rabu (6/5/2026) dini hari WIB.
Gol tunggal Bukayo Saka pada menit ke-44 sudah cukup untuk membawa tim asuhan Mikel Arteta melangkah ke partai puncak dengan keunggulan agregat 2-1. Ini merupakan final Liga Champions pertama Arsenal sejak 2006, mengakhiri penantian 20 tahun yang terasa panjang bagi seluruh basis suporter tim yang tidak pernah terkalahkan dalam 13 laga di kompetisi Eropa musim ini.
Di final yang dijadwalkan di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/2026) dini hari WIB, Arsenal akan menantang pemenang semifinal lain antara PSG dan Bayern München. Namun sebelum itu, sorotan malam ini tertuju pada sosok yang menjadi motor penggerak dari segala yang berhasil dibangun Arteta musim ini.
Ironinya, perjalanan Rice menuju malam keemasan di Emirates berawal dari rasa sakit yang cukup dalam. Pemain berusia 26 tahun itu memulai karier mudanya di akademi Chelsea, sebelum dilepas pada usia 14 tahun tanpa pernah diberi kesempatan untuk membuktikan diri.
West Ham Beri Segalanya, Chelsea Tidak Memberi Apa-apa
Setelah dilepas Chelsea, Rice bergabung dengan akademi West Ham United pada 2014 dan menemukan rumah yang sesungguhnya di London Timur. Dari sana kariernya melesat, debut senior di usia 18 tahun, kapten klub di usia 23, hingga mengangkat trofi UEFA Europa Conference League pada 2023 sebagai puncak persembahan terindah untuk tim yang telah membesarkan namanya.
Satu musim setelah trofi itu, klub yang pernah membuangnya datang menginginkannya kembali. Arsenal menebus Rice dari West Ham dengan nilai transfer £100 juta atau sekitar Rp2,32 triliun pada Juli 2023, menjadikannya salah satu rekrutan termahal dalam sejarah Premier League.
Usai menjungkalkan Atletico, Rice menegaskan kepada siapa ia berhutang karier gemilang ini. Ia menyebut West Ham sebagai satu-satunya klub yang benar-benar mempercayainya, berbanding terbalik dengan Chelsea yang memilih melepasnya tanpa kesempatan.
"Klub itu memberi saya segalanya, tanpa West Ham tidak akan ada saya seperti sekarang. Saya sungguh percaya itu. Mereka memberi saya kesempatan ketika Chelsea tidak memberikannya," ucap Rice kepada Prime Video.
Kenangan Manis, Tapi Tugas Belum Selesai
Ironi perjalanan Rice tidak berhenti di situ. Akhir pekan ini, Arsenal justru dijadwalkan bertandang ke markas West Ham dalam laga yang berdampak besar di dua sisi berlawanan, persaingan gelar untuk The Gunners sekaligus pertarungan hidup mati di zona degradasi bagi tim yang pernah membesarkan sang gelandang.
Bagi Rice, laga itu tentu menyimpan campuran emosi yang tidak sederhana. Ia mengakui ada rasa tidak nyaman melihat kondisi West Ham saat ini, namun profesionalisme seorang pemain kelas dunia mengharuskannya menaruh sentimentalitas di tempat yang tepat.
"Ini soal sepak bola dan saya punya pekerjaan yang harus dilakukan pada hari Minggu. Kami sedang berusaha memenangkan gelar Liga Premier, kami ingin memenangkan setiap pertandingan, dan saya yakin mereka juga menginginkannya, jadi biarkan tim terbaik yang menang," tuturnya.