Bola.com, Jakarta - MotoGP era akhir 2000-an dan awal 2010-an selalu identik dengan label The Aliens. Lima pembalap papan atas: Valentino Rossi, Marc Marquez, Casey Stoner, Jorge Lorenzo, dan Dani Pedrosa, menjadi penguasa lintasan yang tak tersentuh oleh pembalap lainnya.
Namun, di balik dominasi tersebut, ada kisah menarik tentang rivalitas sengit dan aliansi tak terduga. Dani Pedrosa baru saja membuka rahasia bagaimana kehadiran Casey Stoner di MotoGP memaksa dia dan Jorge Lorenzo mengesampingkan ego demi satu tujuan: mengalahkan sang pembalap Australia tersebut.
Pedrosa dan Lorenzo adalah dua musuh bebuyutan sejak masih mengawali kariernya. Pertarungan mereka bukan sekadar di atas aspal, tapi juga merembet ke dukungan fans, sponsor, hingga sorotan media.
"Hubungan saya dengan Jorge? Sangat rumit. Kami punya kepribadian yang sangat berbeda sejak kecil. Persaingan kami sangat nyata, kami tidak pernah menyembunyikan apa pun, dan kami memang tidak saling menyukai," ujar Pedrosa dalam podcast Fast & Curious.
Pedrosa: Terlecut karena Stoner
Menurut Pedrosa, publik saat itu terbelah menjadi dua kubu, layaknya "Yin dan Yang". Fans seolah dipaksa memilih antara mendukung Pedrosa atau Lorenzo.
Situasi berubah drastis ketika Casey Stoner muncul sebagai kekuatan yang sulit dibendung. Stoner memulai debutnya di kelas utama pada 2006, sementara Lorenzo menyusul pada 2008.
Kehadiran Stoner justru membuat Pedrosa dan Lorenzo mencapai pemahaman yang saling menghormati. Keduanya sadar bahwa jika ingin menjadi yang terbaik, mereka harus menaikkan standar penampilan mereka.
"Kami akhirnya punya rival yang sama, yaitu Stoner. Cara dia menekan saya dan cara saya harus bekerja keras untuk mengalahkannya, begitu juga sebaliknya, membuat kami berdua menjadi pembalap yang lebih baik," Pedrosa menuturkan.
"Kami terpaksa melakukan hal-hal yang mungkin awalnya enggan kami lakukan, hanya karena sisi yang lain (Stoner) sedang melakukannya," tambahnya.
Pengakuan Lorenzo
Lorenzo sendiri mengakui bahwa dia sangat mengagumi insting balap Pedrosa dan Stoner. Baginya, mereka adalah lawan dengan insting alami paling tajam yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa di balik ketatnya persaingan MotoGP, ada rasa saling menghormati yang lahir dari keinginan untuk terus melampaui batas kemampuan diri sendiri.
Sumber: Motogpnews