Bola.com, Jakarta - Ronaldo Kwateh merasa bersyukur punya orang tua yang sangat mendukungnya untuk menjadi seorang pemain sepak bola profesional.
Sukses Ronaldo Kwateh menggapai mimpi bahkan menjadi pemain Timnas Indonesia tak lepas dari support orang tua, terlebih sang ayah Roberto Kwateh.
Roberto Kwateh bukan nama asing di telinga pecinta sepak bola dalam negeri. Di masa aktifnya sebagai pesepakbola, Roberto Kwateh yang berasal dari Liberia pernah memperkuat sejumlah tim seperti PSIM Yogyakarta, PSIS Semarang, Deltras Sidoarjo, Persiwa Wamena, PSIR Rembang, Persipasi Bekasi, dan Persitara Jakarta Utara.
Buah jatuh tak jauh dari pohon, bakat Roberto Kwateh mengalir deras ke tubuh Ronaldo Kwateh. Di usia muda, Ronaldo Kwateh bukan cuma pernah memperkuat tim-tim beken macam Madura United dan Semen Padang.
Sayang, kariernya di Kabau Sirah tak bertahan lama karena masalah cedera ACL. Di timnas kelompok umur, penyerang berusia 21 tahun kelahiran Bantul, pernah jadi bintang di U-20 dan U-23.
Ia juga menjadi pemain termuda yang melakoni debut di timnas senior kala Skuad Garuda bentrok kontra Timor Leste dalam laga uji coba pada 27 Januari 2022. Kala itu, eks pemain Muangthong United, Thailand, masih berusia 17 tahun, tiga bulan, delapan hari.
Sejak Kecil Lihat Papa Main Sepak Bola
Lewat kanal YouTube Sport77 belum lama ini, Ronaldo Kwateh bicara panjang lebar, termasuk awal perkenalannya dengan sepak bola serta dukungan penuh kedua orang tuanya.
"Waktu kecil sih sudah sering lihat papa. Terus kalau papa juga latihan saya sudah ikut ke lapangan terus. Jadi memang dari kecil sudah tahu sih kalau papa itu pemain sepak bola," kata Ronaldo Kwateh.
"Kalau mengertinya sih waktu papa main di Deltras Sidoarjo. Waktu papa main di Deltras, saya berusia empat atau lima tahun. Saat itu Deltras main di Liga 2, tapi naik ke ISL (Indonesia Super League). Papa yang bantu Deltras jadi runner up," imbuhnya.
"Disaat itulah saya mulai paham kalau papa seorang pemain sepak bola. Saya selalu dibawa ke stadion. Pokoknya dari kecil sampai akhirnya pas SD baru netap di Jogja. Jadi selama sebelum SD itu, ikut papa ke mana-mana. Sama ibu juga".
"Paling jauh sampai ke Wamena, saya ikut juga. Selain Deltras, papa juga pernah main di Persiwa Wamena," ungkapnya.
Usia 4 Tahun Sudah Masuk SSB
Memasuki usia empat tahun, Ronaldo Kwateh masuk sekolah sepak bola (SSB) di Jogjakarta. Dari segi usia, ia sebenarnya belum memenuhi syarat. Tapi ibunya tetap 'memaksa' untuk bergabung ke SBB.
"Saya masuk SSB itu umur 4 tahun. Karena dulu, padahal enggak boleh. Jadi waktu masuk ke SSB itu enggak boleh. Cuma kata mama, 'Sudah, biarin aja, biar main di situ'. Karena kalau di rumah merusak semua barang-barang. Saya tendangin semua," kata Ronaldo Kwateh seraya tertawa.
"Umur 5 tahun sudah mulai paham, umur 6 tahun baru paham instruksi pelatih. Waktu umur 4 tahun tuh, mama di pinggir lapangan. Tapi pakai baju SSB gitu biar aku ngerti kayak ini teman-teman main bola," tambahnya.
Support Sang Ibu
Meski ayahnya tak ada waktu untuk mengantar dan menemani karena harus bertanding ke luar kota, peran tersebut diambil alih oleh ibunya. Dengan setia, sang ibu mengantar dan menemani Ronaldo Kwateh berlatih.
"Mama justru support banget. Dulu, waktu sudah menetap di Jogja, papa waktu main di luar kota pastinya, itu mama support banget. Ngantar latihan, terus ditungguin."
"Enggak pernah ditinggal. Jadi emang dari kecil, Puji Tuhan, papa sama mama support banget," kata Ronaldo Kwateh yang namanya terinspirasi dari idola ayahnya, Ronaldo de Lima, legenda Brasil.