Bola.com, Jakarta - Mikel Arteta tengah berada di persimpangan penting bersama Arsenal. Dalam hitungan pekan, musim mereka bisa berubah menjadi kisah kejayaan atau kembali menghadirkan rasa pahit sebagai “nyaris juara”.
The Gunners saat ini memimpin klasemen Premier League dan berada dalam posisi menjanjikan jelang leg kedua semifinal Liga Champions UEFA melawan Atletico Madrid. Peluang meraih dua gelar masih terbuka lebar.
Hasil imbang 3-3 Manchester City kontra Everton semakin memperbesar optimisme di kubu Arsenal bahwa gelar liga yang lama dinanti bisa segera menjadi kenyataan.
Namun, di tengah tekanan hasil, satu hal yang mulai mengemuka adalah masa depan Arteta. Terlepas dari apa yang terjadi di akhir musim, posisi sang manajer dinilai tidak seharusnya ditentukan oleh trofi semata.
Arsenal Sudah Punya Sosok yang Tepat
Negosiasi kontrak baru antara Arsenal dan Arteta memang masih dalam tahap awal. Sang pelatih sebelumnya memilih menunda pembahasan hingga akhir musim, mengingat kontraknya masih berlaku hingga 2027.
Meski begitu, manajemen klub sudah memberikan sinyal jelas bahwa mereka ingin mempertahankannya. Proses negosiasi diperkirakan tidak akan singkat, mengingat kontrak terakhirnya yang ditandatangani pada 2025 juga melalui pembicaraan panjang, dengan nilai mencapai £12 juta per tahun dan bisa meningkat hingga £15 juta dengan bonus.
Keputusan Arsenal untuk bergerak lebih awal bukan tanpa alasan. Musim ini saja, mereka sudah meraih 40 kemenangan dari 58 pertandingan. Jika mampu menyingkirkan Atletico Madrid, Arsenal akan menyamai rekor klub untuk jumlah kemenangan terbanyak dalam satu musim sejak 1970-1971.
Lebih dari itu, Arteta sukses mengangkat Arsenal dari fase pembangunan menjadi penantang serius, baik di kompetisi domestik maupun Eropa. Konsistensi finis di papan atas liga dalam beberapa musim terakhir menjadi bukti nyata perkembangan tersebut.
Stabilitas Jadi Kunci Keunggulan
Di tengah dinamika sepak bola Inggris yang penuh perubahan, stabilitas menjadi nilai lebih bagi Arsenal. Banyak rival justru sedang menghadapi ketidakpastian.
Pep Guardiola berpotensi meninggalkan Manchester City, sementara Liverpool menghadapi fase transisi setelah kepergian Mohamed Salah. Di klub lain, pergantian pelatih dan restrukturisasi skuad menjadi hal yang lumrah.
Sebaliknya, Arsenal tampil dengan fondasi yang jelas: identitas permainan yang kuat, skuad muda bertalenta, serta manajer yang selaras dengan visi jangka panjang klub.
Kondisi ini membuat Arsenal berada dalam posisi ideal untuk terus bersaing, tidak hanya musim ini tetapi juga dalam beberapa tahun ke depan.
Masa Depan Arteta Tak Boleh Dipertaruhkan
Membiarkan kontrak Arteta mendekati akhir masa berlaku bisa menjadi langkah berisiko. Situasi tersebut berpotensi memicu spekulasi yang justru mengganggu stabilitas tim.
Di sisi lain, kritik tetap ada. Arteta belum meraih trofi besar sejak memenangkan Piala FA pada 2020. Jika Arsenal kembali gagal musim ini, suara sumbang akan semakin nyaring.
Namun, risiko terbesar justru datang dari dalam diri Arteta sendiri. Sosok yang dikenal perfeksionis itu bisa saja mempertanyakan masa depannya jika kembali gagal mencapai target.
Jika skenario itu terjadi, manajemen Arsenal harus memastikan sang pelatih tetap bertahan. Sebab, mencari pengganti dengan kualitas setara bukan perkara mudah.
Sebaliknya, jika Arteta mampu mempersembahkan gelar Premier League atau Liga Champions, maka semua perdebatan akan berakhir dengan sendirinya.
Yang jelas, di dalam klub, satu kesimpulan tampaknya sudah terbentuk: Arteta adalah sosok yang tepat untuk memimpin Arsenal.
Dan akan terasa janggal jika hanya empat atau lima pertandingan ke depan dijadikan penentu nasib seorang manajer yang telah membawa klub ini kembali ke ambang kejayaan.