Bola.com, Lamongan - Suasana Stadion Surajaya, Lamongan, jadi lebih hidup pada Rabu (6/5/2026). Pihak keamanan dan panitia pelaksana pertandingan mulai berjaga sejak siang hari. Demikian halnya dengan para pedagang.
Pegadaian Championship 2025/2026 sebenarnya telah merampungkan fase penyisihan. Kompetisi itu juga akan memasuki fase akhir dengan menyisakan tiga laga saja, yakni play-off degradasi, play-off promosi, dan partai final.
Persela Lamongan, klub penyewa Stadion Surajaya, juga tidak memiliki laga tersisa musim ini. Bahkan, mereka mendapat sanksi menggelar laga kandang tanpa penonton sejak awal musim. Lantas, mengapa stadion ini begitu ramai?
Manajemen Laskar Joko Tingkir mengadakan laga persahabatan bertajuk Anniversary Game melawan Deltras FC, Rabu malam. Bukan laga resmi kompetisi, mereka bisa menjual tiket dan menggelarnya dengan dihadiri penonton.
Persela sebenarnya berulang tahun pada 18 April, tepatnya yang ke-59 pada tahun ini. Saat itu kompetisi masih bergulir, laga ini pun digelar setelah semua laga resmi rampung. Melawan Deltras yang sesama Jawa Timur pun sudah cukup untuk perayaan.
Pemandangan atmosfer stadion memang berbeda dibandingkan dengan sepanjang musim yang digelar tanpa penonton. Personel keamanan tentu ditambah. Jumlah pedagang makanan meningkat. Pun suporter Persela ikut memadati.
Rindu Mengawal Kebanggaan
Persela sempat menjadi klub musafir selama dua musim pada 2023/2024 dan 2024/2025 dengan berkandang di Tuban Sport Center (TSC). Penyebabnya, Surajaya saat itu sedang direnovasi.
Sialnya, sempat terjadi kerusuhan dalam laga menjamu Persijap Jepara pada 18 Februari 2025 di TSC. Suporter Persela turun ke lapangan karena tidak puas melihat timnya kalah 0-1 di menit ke-79. Hasil itu membuat peluang promosi mereka mengecil.
Hasil sidang Komdis PSSI muncul dan Persela mendapat hukuman sanksi laga kandang tanpa penonton selama 2025/2026. Ini tentu jadi pukulan telak bagi publik Lamongan. Apalagi, musim ini mereka bisa kembali ke Surajaya yang telah rampung direnovasi.
Manajemen klub sempat mengajukan banding, namun ditolak. Pihak klub maupun suporter harus legowo dengan keputusan tersebut.
Persela sendiri sempat menggelar laga persahabatan kontra Persekat Tegal pada 14 Maret 2026 lalu. Digelar pada hari Sabtu dalam suasana bulan Ramadan, sebanyak 7.889 penonton menghadiri laga yang berakhir 0-0 tersebut.
Duel kontra Deltras tak jauh berbeda. Dari pengamatan Bola.com, para suporter mulai hadir sejak sore. Setelah maghrib, suasana kian ramai.
Baik parkir motor maupun mobil tersisi. Gairah publik Lamongan pun kembali terasa untuk mendukung klub kebanggaan mereka.
“Ya, ini kesempatan langka musim ini, Mas. Kami ingin nonton Persela di Liga 2 (Championship), tapi kan enggak bisa. Begitu manajemen membuka tiket, semua pasti ingin datang,” kata Aryo, seorang suporter Persela, yang datang bersama pasangannya.
Baik tua atau muda, pria maupun wanita, ikut memadati Stadion Surajaya. Atmosfer kian hidup karena elemen suporter Persela, LA Mania dan Curva Boys, mulai bernyanyi diiringi dengan tabuhan drum.
“Persela Laskar Joko Tingkir. Persela Laskar Joko Tingir,” demikian nyanyian dari Curva Boys yang terasa khas dengan kostum serba hitam mereka di tribune utara. Kerinduan mengawal kebanggaan pun berhasil diobati.
Kali ini, tercatat 7.494 penonton menyaksikan laga ini. Angkanya memang tidak memenuhi kapasitas stadion yang mencapai 11 ribu. Namun, ini sudah cukup menghidupkan lagi Surajaya yang dikenal legendaris.
Geliat Ekonomi Terasa
Stadion Surajaya telah mencatatkan jejak penting dalam perjalanan kompetisi Tanah Air. Persela tercatat berkompetisi di kasta teratas sejak era Divisi Utama, Indonesia Super League, hingga Liga 1. Fakta ini tentu saja ikut memberikan dampak bagi warga Lamongan.
Sayangnya, mereka harus turun kasta setelah Liga 1 2021/2022. Memasuki Liga 2 2022/2023, kompetisi harus dihentikan akibat Tragedi Kanjuruhan.
Persela tercatat sudah berkompetisi di kasta kedua selama tiga musim beruntun. Sayangnya, tidak semua pertandingan digelar di Surajaya selama periode tersebut.
Laga persahabatan kontra Deltras bukan cuma berpengaruh bagi klub. Masyarakat sekitar yang berdagang di Surajaya juga ikut ketiban rezeki. Mulai dari pedagang jersey di area stadion misalnya.
“Saya biasanya jualan di pasar, di online shop juga ada. Namun, kalau di stadion akan berbeda. Suporter biasanya menyempatkan beli jersey atau kaos di stadion. Jadi penjualan juga meningkat,” ungkap Khoirul, seorang pedagang jersey.
Para pedagang makanan juga ikut merasakan dampak positif. Ada beberapa stan penjual kopi dan makanan ringan di area luar dan seberang stadion. Belum lagi penjual lumpia dan es teh yang berada tepat di luar pagar.
“Saya sudah jualan lumpia bertahun-tahun, Mas. Agak kecewa juga kalau enggak ada penonton. Saya sempat coba tetap jualan waktu enggak ada penonton. Paling yang beli panpel sama keamanan. Kalau ada penonton gini, rezekinya sudah pasti lebih banyak,” tutur Sri, seorang penjual makanan.
Berbagai pihak pun ikut merasakan dampak positif. Apalagi, penonton yang hadir bukan hanya warga Lamongan. Suporter Deltras juga hadir sebanyak 200-an ditempatkan di sisi tribune timur stadion ikut meramaikan.
Pelajaran untuk Musim Depan
Sayangnya, Persela gagal mendulang kemenangan di laga kontra Deltras ini. Skor berakhir 3-3 dengan melahirkan jual beli serangan selama 90 menit.
Laskar Joko Tingkir sudah dua kali menggelar laga persahabatan yang dihadiri penonton dan semua berakhir tanpa kemenangan.
Persela harus puas finis di posisi keenam klasemen akhir Grup Timur Championship musim ini, tepat satu strip di bawah Deltras. Performa mereka cukup apik sepanjang musim, meski sempat mengalami pergantian manajemen.
“Ya, pertandingan ini bertujuan menghibur LA Mania dan Curva Boys. Ada banyak gol. Masyarakat datang ingin melihat gol. Soal menang kalah, Persela dan Deltras adalah saudara. Semoga Persela bisa lebih baik,” kata Bima Sakti, pelatih Persela.
Kapten Persela, Hendro Siswanto, berharap timnya bisa melakukan perbaikan untuk menatap musim depan.
“Hasil ini yang terbaik dan adil. Harapan saya, semoga Persela musim depan lebih baik lagi, siapapun pemainnya dan pelatihnya. Dan semoga bisa ke Liga 1,” ujar gelandang asli Tuban itu.
Duel kontra Deltras ini memberikan banyak pelajaran penting. Bagi tim, mereka perlu melakukan pembenahan untuk menatap musim baru. Tentu banyak evaluasi yang perlu dilakukan.
Manajemen klub pun mulai mencoba menata kembali penyelenggaraan pertandingan dalam kondisi Stadion Surajaya yang sudah direnovasi. Catatan ini muncul demi membuat suporter lebih nyaman memadati stadion.
“Kami punya evaluasi. Kami perlu standardisasi keamanan. Pastinya, musim depan akan lebih baik dan lebih aman. Kami ingin memasang target musim depan lebih baik lagi,” ucap Pradita Aditya, Direktur Bisnis Persela.
Perjalanan panjang Persela di kompetisi Tanah Air tentu jadi bagian dari cerita menarik di sepak bola Indonesia. Sebagai klub daerah, mereka terus belajar dari peristiwa masa untuk berbenah.
Suporter Lamongan pun juga merindukan klub kebanggaan mereka kembali ke kasta tertinggi. Untuk yang satu, jalannya tidak mudah karena setiap musim selalu muncul klub baru yang memasang target promosi.