FIFA Technical Study Group Mengklaim Set-piece King ala Arsenal Bakal Minim di Piala Dunia 2026

Tren sepak bola modern saat ini semakin identik dengan kekuatan situasi bola mati. Banyak klub elite dunia mulai menjadikan skema set-piece sebagai senjata utama untuk mencetak gol dan membongkar pertahanan lawan.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 12 Mei 2026, 21:15 WIB
Gol West Ham ke gawang Arsenal dianulir wasit. (Dok. X/The Touchline)

Bola.com, Jakarta - Tren sepak bola modern saat ini semakin identik dengan kekuatan situasi bola mati. Banyak klub elite dunia mulai menjadikan skema set-piece sebagai senjata utama untuk mencetak gol dan membongkar pertahanan lawan.

Namun, kelompok studi teknis FIFA menilai situasi tersebut kemungkinan besar tidak akan terlalu mendominasi di ajang Piala Dunia 2026. Minimnya waktu persiapan tim nasional dianggap menjadi alasan utama.

Advertisement

Hal itu disampaikan dalam diskusi media FIFA yang digelar sebulan sebelum turnamen Piala Dunia dengan format 48 tim pertama dimulai di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Dalam forum tersebut, sejumlah anggota Technical Study Group (TSG) membahas berbagai tren baru dalam sepak bola modern, termasuk spesialisasi bola mati ala Arsenal.

Arsenal sendiri sedang mendapat sorotan besar musim ini. Klub pemuncak Premier League itu bahkan dijuluki sebagai “raja set-piece” setelah memecahkan rekor gol terbanyak dari situasi sepak pojok dalam satu musim Premier League.

 


Gilberto Silva Ragu Tren Arsenal Terjadi di Piala Dunia

Callum Wilson dari West Ham, tengah, mencetak gol yang kemudian dibatalkan setelah peninjauan video selama pertandingan Liga Inggris antara West Ham dan Arsenal di London, Minggu, 10 Mei 2026. (Foto AP/Ian Walton)

Mantan gelandang Arsenal sekaligus juara dunia 2002 bersama Timnas Brasil, Gilberto Silva, mengaku tertarik melihat bagaimana tim-tim peserta Piala Dunia memanfaatkan situasi bola mati nanti.

“Kami melihat musim ini, terutama di Premier League bersama Arsenal. Dalam beberapa tahun terakhir, tendangan sudut dan bola panjang tidak terlalu sering digunakan dibanding ketika saya masih bermain dulu,” ujar Gilberto Silva.

“Dalam beberapa tahun terakhir, permainan berkembang dengan tim membangun serangan dari penjaga gawang.”

Meski demikian, Silva tidak yakin pola tersebut akan terlalu dominan di level Piala Dunia.

“Tapi saya tidak yakin Piala Dunia akan sama, karena Anda tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan tim dalam turnamen seperti ini. Tentu saja itu bisa menjadi senjata dan tim akan menggunakannya, tetapi bukan sebagai senjata utama.”

“Saya memperkirakan pertandingan akan berjalan ketat, dengan banyak aspek praktis dan tim mencoba memanfaatkan transisi untuk menembus pertahanan lawan,” lanjutnya.

 


Cuaca Panas Diprediksi Jadi Faktor Penting

Kiper Arsenal, David Raya, berusaha menjangkau bola di depan gawang dalam pertandingan Liga Inggris antara West Ham United FC melawan Arsenal FC di Stadion London Stadium, London timur, pada 10 Mei 2026. (Adrian Dennis / AFP)

Selain membahas tren taktik, FIFA juga menyoroti dampak cuaca panas yang kemungkinan memengaruhi jalannya pertandingan di Piala Dunia 2026.

Ajang Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat tahun lalu disebut menjadi simulasi penting sebelum turnamen utama digelar.

Pemimpin Football Performance Insights FIFA, Tom Gardner, mengatakan intensitas pertandingan di Piala Dunia Antarklub relatif mirip dengan Piala Dunia 2022.

“Secara umum, Piala Dunia Antarklub menunjukkan tingkat intensitas pertandingan yang sangat mirip dibanding Piala Dunia 2022 ketika kami melihat beberapa laga penting,” ujar Gardner.

“Saya yakin cuaca panas bisa menjadi faktor dalam cara tim mengelola kondisi pemain. Tetapi kami tidak memperkirakan output fisik akan benar-benar sama seperti 2022, sebagaimana yang terlihat di Piala Dunia Antarklub 2025.”

 


Arsene Wenger Pimpin Kelompok Studi FIFA

Kelompok studi teknis FIFA nantinya akan memberikan analisis untuk seluruh pertandingan sepanjang Piala Dunia 2026 berlangsung.

TSG dipimpin kepala pengembangan sepak bola global FIFA, Arsène Wenger. Selain Gilberto Silva, kelompok tersebut juga diisi sejumlah nama besar lain seperti Jürgen Klinsmann dan Pablo Zabaleta.

Mereka akan dibantu tim analis dan spesialis data untuk memantau perkembangan taktik serta tren permainan selama turnamen berlangsung.

Berita Terkait