BRI Super League: Pelatih PSIM Jean-Paul van Gastel Menikmati Tahun Perdana di Indonesia

BRI Super League 2025/2026 memberikan banyak pengalaman baru bagi pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel.

BolaCom | Ana DewiDiterbitkan 18 Mei 2026, 21:45 WIB
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel pada laga kontra Persita Tangerang pada pertandingan pekan kesembilan BRI Super League 2025/2026. (Muhammad Iqbal Ichsan/Bola.com)

Bola.com, Yogyakarta - BRI Super League 2025/2026 memberikan banyak pengalaman baru bagi pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel. Ia mengaku menikmati seluruh proses yang dijalani selama mengarungi kompetisi musim ini.

Klub berjuluk Laskar Mataram itu menutup laga kandang terakhir musim ini dengan kemenangan, setelah menekuk Madura United 2-1 dalam pekan ke-33 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (17/5/2026) malam WIB.

Advertisement

Didatangkan pada Juli 2025, Van Gastel sejauh ini mempersembahkan 11 kemenangan, 12 imbang, plus 10 kekalahan dari 33 laga. Catatan itu membawa PSIM bercokol di posisi ke-11 klasemen sementara dengan koleksi 45 poin.

Skuad Laskar Mataram masih menyisakan satu pertandingan pamungkas dengan bertandang ke markas Arema FC pada pekan ke-34 di Stadion Kanjuruhan, Jumat (22/5/2026) pukul 15.30 WIB.


Adaptasi Panjang di Indonesia

Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel sedang memberikan arahan kepada anak asuhnya saat bertanding melawan PSIM Yogyakarta pada BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (8/8/2025). (Bola.com/Abdul Aziz) 

Jean-Paul van Gastel mengatakan perjalanan panjang selama kompetisi jadi tantangan tersendiri bagi debutan seperti dirinya. Situasi itu berbeda dibanding pengalaman yang pernah ia rasakan di Eropa.

"Secara umum saya sangat menikmati tahun pertama saya di sini. Perjalanannya sangat jauh dan banyak, jadi saya harus beradaptasi dengan hal itu. Terkadang kami harus bepergian selama empat hari dan bagi saya itu adalah hal baru," ujarnya.

"Jadi, itu juga menjadi pengalaman yang bagus bagi saya sendiri untuk mengelola tim dan mencari persiapan terbaik untuk menghadapi situasi tersebut. Saya menilai liga ini sangat kompetitif."

"Saya sangat menikmati pertandingan yang dihadiri oleh banyak suporter. Contohnya malam ini, pertandingan terakhir musim ini, kami bisa mengakhiri musim dengan positif lewat kemenangan kandang," imbuh dia.


Atmosfer Suporter Jadi Pengalaman Berkesan

Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, saat memimpin timnya menghadapi Persik Kediri pada laga pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jawa Timur, Jumat (13/2/2026) sore WIB. Sayangnya, PSIM harus puas bermain imbang 2-2 kontra Persik. (dok. PSIM Yogyakarta)

Selain atmosfer kompetisi, Van Gastel terkesan dengan antusiasme suporter di Indonesia. Ia menyebut laga dengan kehadiran puluhan ribu penonton adalah pengalaman berkesan sepanjang musim ini.

"Pertandingan di Jakarta dan di Bandung yang dihadiri banyak sekali orang. Menurut saya, esensi sepak bola adalah itu bermain untuk suporter di hadapan banyak orang," kata Van Gastel.

"Namun sayangnya di liga ini banyak sekali pertandingan yang harus dimainkan tanpa penonton dan menurut saya itu sangat disayangkan karena seperti yang saya bilang kami bermain untuk suporter."

"Secara keseluruhan saya sangat senang bisa datang ke sini karena hal ini memberikan warna baru dalam hidup saya, tidak hanya dari segi sepak bola tetapi juga kehidupan pribadi. Saya bertemu orang-orang baru dan merasakan budaya yang berbeda lagi," lanjutnya.


Alasan Bertahan di PSIM

Pelatih asal Belanda itu menegaskan dirinya merasa nyaman menjalani kehidupan di Kota Gudeg. Selain sisi sepak bola, ia juga menikmati pengalaman budaya dan kehidupan pribadi selama berada di Indonesia.

"Bagi saya ini adalah pencapaian yang besar. Itulah salah satu alasan mengapa saya sekarang melatih di sini. Saya melihat klub ini stabil, manajemen dan pemilIKNya punya kemauan kuat untuk membuat klub ini benar-benar stabil agar bisa berkembang selangkah demi selangkah," ucapnya.

"Salah satu tugas dan fokus saya di sini adalah membantu mereka berkembang secara bertahap di semua lini struktur organisasi. Tentu saja sisi sepak bola sangat penting karena pada akhirnya kami membutuhkan hasil."

"Itulah mengapa saya ingin bertahan di sini karena saya dan pacar saya sangat suka tinggal di sini, kami sangat senang untuk bertahan," pungkas juru taktik berusia 54 tahun tersebut.

Berita Terkait