Bola.com, Jakarta - Pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps, bertekad menutup perjalanan panjang bersama Les Bleus dengan manis di Piala Dunia 2026. Setelah 14 tahun, Deschamps dipastikan akan mundur setelah timnya mengikuti turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu.
Prancis datang ke Piala Dunia 2026 dengan status salah satu favorit juara. Les Bleus saat ini berada di puncak ranking dunia FIFA dan berambisi mencapai final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah menjadi juara pada 2018 dan runner-up pada 2022.
Deschamps pertama kali ditunjuk sebagai pelatih Prancis pada 2012, ketika sepak bola Prancis sedang berada dalam masa sulit usai kegagalan di Piala Dunia 2010 yang diwarnai konflik internal pemain dengan pelatih Raymond Domenech.
Di bawah kepemimpinannya, Prancis kembali menjadi salah satu kekuatan paling menakutkan di sepak bola internasional.
“Itu perasaan yang aneh,” ujar Deschamps saat mengumumkan skuad Piala Dunia terakhirnya.
“Saya biasanya mencoba menyembunyikan emosi saya. Namun, saya baik-baik saja dengan semua ini. Apa yang terjadi ada di masa lalu, dan semuanya berjalan cukup baik. Kalau tidak, saya tidak mungkin masih berada di sini setelah 14 tahun.”
“Sekarang seluruh energi saya tertuju pada Piala Dunia ini,” tambahnya.
Rekam Jejak Luar Biasa Sebagai Pemain dan Pelatih
Didier Deschamps bukan hanya sukses sebagai pelatih, tetapi juga memiliki karier gemilang sebagai pemain. Ia pernah menjadi kapten Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998 di kandang sendiri dan Euro 2000.
Sebagai gelandang, Deschamps juga memimpin Marseille menjuarai Liga Champions 1993. Ia kemudian kembali merasakan trofi Liga Champions bersama Juventus sebelum pensiun sebagai pemain pada usia 32 tahun.
Karier kepelatihannya juga tidak kalah mengesankan. Ia membawa AS Monaco mencapai final Liga Champions 2004 dan mempersembahkan gelar Liga Prancis untuk Marseille pada 2010.
Bersama Timnas Prancis, Deschamps membawa Les Bleus mencapai perempat final Piala Dunia 2014, final Euro 2016, juara Piala Dunia 2018, hingga final Piala Dunia 2022.
Selain itu, Prancis juga memenangkan UEFA Nations League 2021 di bawah arahannya.
Mbappe dan Generasi Emas Jadi Harapan Utama
Keberhasilan Deschamps membangun generasi emas Prancis menjadi salah satu kunci kesuksesan dalam satu dekade terakhir. Nama seperti Paul Pogba dan Antoine Griezmann menjadi fondasi awal, sebelum kemudian muncul Kylian Mbappe.
Mbappe melakukan debut bersama timnas senior pada 2017 saat masih berusia 18 tahun dan langsung menjadi bintang ketika Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia.
Pada final Piala Dunia 2022 melawan Argentina, Mbappe bahkan mencetak hattrick meski Prancis akhirnya kalah lewat adu penalti dari tim yang dipimpin Lionel Messi di lini serang itu.
Kini, Deschamps memiliki lini serang yang semakin berbahaya dengan kombinasi Mbappe, peraih Ballon d'Or Ousmane Dembele, serta bintang Bayern Munchen Michael Olise.
Prancis juga mulai memainkan sistem 4-2-3-1 yang membuat lini serang mereka terlihat lebih agresif dan efektif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Berpeluang Ukir Sejarah Baru
Jika berhasil membawa Prancis ke final Piala Dunia 2026, Deschamps akan mencatat sejarah besar. Hanya Brasil (1994, 1998, 2002) dan Jerman Barat (1982, 1986, 1990) yang pernah mencapai tiga final Piala Dunia secara beruntun.
Bila Prancis mampu menjadi juara di final yang akan digelar di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026, Deschamps juga akan menjadi pelatih kedua dalam sejarah yang memenangkan dua gelar Piala Dunia, mengikuti jejak Vittorio Pozzo bersama Italia pada era 1930-an.
Meski begitu, Deschamps tetap membuka peluang untuk tantangan baru setelah meninggalkan timnas Prancis.
“Saya tidak menutup kemungkinan apa pun. Saya tersedia, seperti yang semua orang tahu. Kita lihat saja nanti,” kata Deschamps.
Sumber: France24