Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diperkirakan menghadapi tantangan besar di luar lapangan.
Sebuah laporan dari para peneliti Imperial College London mengungkapkan bahwa suhu panas ekstrem berpotensi menjadi ancaman serius bagi pemain dan penonton selama turnamen berlangsung pada Juni hingga Juli mendatang.
Menurut penelitian tersebut, perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia telah meningkatkan kemungkinan terjadinya suhu berbahaya di 16 kota tuan rumah. Para peneliti memperkirakan sekitar seperempat pertandingan Piala Dunia 2026 akan dimainkan dalam suhu yang melebihi batas aman bagi aktivitas fisik intensif.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa sedikitnya lima pertandingan berpotensi berlangsung dalam kondisi yang masuk kategori berbahaya berdasarkan standar suhu bola basah atau Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), hampir dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 1994 yang juga digelar di Amerika Serikat.
WBGT merupakan ukuran yang memperhitungkan suhu udara, kelembapan, intensitas sinar matahari, dan kecepatan angin untuk menilai tekanan panas terhadap tubuh manusia.
Surat Terbuka ke FIFA
Kekhawatiran tersebut mendapat dukungan dari 60 pemain sepak bola profesional aktif maupun mantan pemain yang menandatangani surat terbuka kepada FIFA.
Mereka meminta badan sepak bola dunia itu memperbarui pedoman terkait cuaca panas ekstrem sebelum turnamen dimulai. Para pemain menilai suhu tinggi dapat menyebabkan pusing, kelelahan, kram otot, hingga menurunkan intensitas permainan secara signifikan.
Profesor ilmu iklim dari Imperial College London, Friederike Otto, mengatakan risiko suhu tinggi pada laga-laga Piala Dunia menunjukkan bahwa perubahan iklim kini memiliki dampak nyata terhadap penyelenggaraan ajang olahraga terbesar di dunia.
Bahkan, laga final yang dijadwalkan berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, memiliki kemungkinan mengalami suhu yang mendekati ambang batas berbahaya.
Pengaruh bagi Atlet
Pakar kesehatan olahraga dari Korey Stringer Institute, Douglas Casa, menjelaskan bahwa suhu ekstrem dapat meningkatkan denyut jantung, mempercepat kelelahan otot, serta memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu internal tetap stabil.
"Dalam kondisi tertentu, atlet dapat mengalami kelelahan berat yang membuat mereka tidak mampu mempertahankan performa maksimal," katanya.
Mantan pemain Timnas Brasil, Sávio, yang pernah merasakan panas saat Piala Dunia 1994, mengakui bahwa atlet modern memiliki metode persiapan yang lebih baik dibanding generasinya. Namun, ia menegaskan bahwa suhu yang terlalu tinggi tetap berdampak langsung terhadap tempo permainan dan kemampuan fisik para pemain di lapangan.
Langkah Antisipasi
Sebagai langkah antisipasi, para ahli menyarankan FIFA menyediakan fasilitas pendinginan yang lebih baik di stadion, memperpanjang waktu jeda hidrasi, serta mempertimbangkan penundaan pertandingan jika suhu mencapai tingkat berbahaya.
Selain pemain, para penonton juga diimbau menjaga asupan cairan karena risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas ekstrem tetap mengintai selama turnamen berlangsung.
Dengan semakin meningkatnya suhu global akibat perubahan iklim, Piala Dunia 2026 diperkirakan bukan hanya menjadi ajang persaingan tim-tim terbaik dunia, tetapi juga ujian besar bagi FIFA dalam menjaga keselamatan pemain dan jutaan penggemar yang akan hadir di stadion.
Sumber: Inside Climate News