Persib Kena Sanksi FIFA karena Kasus Daisuke Sato, Manajemen Beberkan Kronologi Lengkap dan Pastikan Segera Tuntas

Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan memberikan perjalanan rinci terkait kasus yang melibatkan mantan pemain Maung Bandung, Daisuke Sato yang berujung sanksi FIFA registration ban.

BolaCom | Muhammad FaqihDiterbitkan 01 Juni 2026, 06:00 WIB
Pemain Persib Bandung, Daisuke Sato melakukan selebrasi setelah mencetak gol pertama timnya ke gawang Bhayangkara FC pada laga lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 antara Persib Bandung melawan Bhayangkara FC di Stadion Pakansari, Bogor, Jumat (24/03/2023). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - Persib Bandung tengah menjadi perhatian setelah dijatuhi sanksi registration ban oleh FIFA terkait kasus mantan pemainnya, Daisuke Sato. Kabar tersebut sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan Bobotoh, terutama karena sanksi itu berpotensi memengaruhi aktivitas transfer klub.

Namun, manajemen Maung Bandung memastikan persoalan tersebut bukan masalah yang baru muncul secara tiba-tiba. Persib mengaku telah mengetahui dan mengikuti perkembangan kasus tersebut sejak Daisuke Sato meninggalkan klub pada pertengahan musim 2023/2024.

Advertisement

Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menjelaskan bahwa seluruh proses sudah dipahami oleh manajemen sejak awal. Karena itu, pihak klub tidak merasa panik ketika keputusan terkait kompensasi akhirnya keluar.

Menurut Adhitia, yang saat ini terjadi merupakan bagian dari proses hukum yang memang harus dilalui hingga ada kepastian nominal kompensasi yang wajib dibayarkan kepada pemain asal Filipina tersebut.

 


Berawal dari Pergantian Pemain pada Musim Juara

Pemain Persib Bandung, Daisuke Sato melakukan selebrasi setelah mencetak gol pertama timnya ke gawang Bhayangkara FC pada laga lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 antara Persib Bandung melawan Bhayangkara FC di Stadion Pakansari, Bogor, Jumat (24/03/2023). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Kasus ini bermula ketika Persib melakukan perubahan komposisi pemain asing pada pertengahan musim 2023/2024. Saat itu, pelatih Bojan Hodak memutuskan melepas Daisuke Sato untuk membuka ruang bagi kedatangan Kevin Mendoza.

Keputusan tersebut diambil murni berdasarkan pertimbangan teknis tim. Meski demikian, kontrak Daisuke Sato sebenarnya masih berlaku hingga 2025 sehingga muncul konsekuensi hukum terkait pemutusan kerja sama tersebut.

"Sato diganti di pertengahan musim 2023/2024 ketika Bojan masuk. Secara efektivitas juga kita bersyukur karena pergantian itu cukup berhasil, akhirnya kita juara di musim itu," ujar Adhitia kepada wartawan.

Keputusan tersebut memang terbukti membawa dampak positif di lapangan. Persib berhasil menutup musim dengan gelar juara Liga 1, tetapi di sisi lain tetap harus menyelesaikan kewajiban kontraktual yang berkaitan dengan pelepasan Sato.

 


Persib Tempuh Jalur CAS untuk Pastikan Besaran Kompensasi

Pemain Persib Bandung, Daisuke Sato merayakan kemenangan atas Bhayangkara FC pada laga lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 antara Persib Bandung melawan Bhayangkara FC di Stadion Pakansari, Bogor, Jumat (24/03/2023). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Setelah Daisuke Sato meninggalkan klub, Persib kemudian memasuki proses penyelesaian sengketa terkait kompensasi. Manajemen memilih membawa perkara tersebut ke Court of Arbitration for Sport (CAS) guna mendapatkan kejelasan mengenai nilai yang harus dibayarkan.

Adhitia menjelaskan bahwa aturan FIFA mengatur perhitungan kompensasi berdasarkan kondisi pemain setelah kontraknya diputus. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah penghasilan pemain di klub barunya.

"Peraturan FIFA itu ketika seorang pemain keluar dari sebuah klub, di-terminate dengan sisa kontrak dua tahun, kemudian setelah di-terminate dia bekerja di klub lain, ketika gaji di klub lainnya lebih besar dibanding gaji dia di Persib, itu sudah selesai kasusnya," ujar Adhitia.

"Tapi kalau gajinya lebih kecil, nah selisih gaji itu yang harus dicek berapa dispute-nya. Makanya prosesnya membutuhkan waktu cukup panjang selama beberapa bulan," lanjutnya.

Menurut Adhitia, CAS melakukan pemeriksaan secara rinci terhadap berbagai komponen yang berkaitan dengan kontrak pemain. Tidak hanya gaji pokok, tetapi juga tunjangan, per diem, hingga berbagai komponen lain yang memengaruhi perhitungan kompensasi.

"Akhirnya waktu itu berjalan berbulan-bulan. CAS mengecek dulu apakah benar gajinya segini, apakah ada per diem, ada pesangon dan lain-lain. Pokoknya dicek semuanya."

"Akhirnya baru keluar sekitar dua bulan lalu. Ternyata kita mendapatkan pengurangan. Seingat saya sebelumnya sekitar Rp3,03 miliar, setelah ke CAS turun menjadi sekitar Rp2,7 miliar," jelasnya.

 


Persib Sebut Kasus Ini Sudah Diantisipasi

Pemain baru Persib Bandung asal Filipina, Daisuke Sato saat ikut berlatih, Senin (4/7/2022). (Bola.com/Erwin Snaz)

Adhitia menegaskan manajemen Persib tidak pernah menganggap perkara ini sebagai sesuatu yang mengejutkan. Klub sudah memahami sejak awal bahwa akan ada kewajiban yang harus diselesaikan setelah proses hukum selesai.

Karena itu, ia meminta publik tidak menafsirkan kasus ini sebagai bentuk kelalaian klub dalam memenuhi hak pemain. Menurutnya, Persib hanya menunggu kejelasan nominal resmi sebelum melakukan penyelesaian.

"Jadi memang ini proses berjalan yang memang kita lalui. Bukan sesuatu yang membuat kita kaget. Kita sudah tahu."

"Memang jatuh temponya kemarin, tapi kita juga tidak terlalu khawatir. Kita pasti selesaikan. Cuma kita juga butuh tahu angka detailnya berapa. Setelah semuanya jelas, pasti akan kita selesaikan sesegera mungkin," tegas Adhitia.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Persib berkomitmen menuntaskan persoalan sesuai ketentuan yang berlaku agar tidak mengganggu aktivitas klub ke depannya.

 


Bandingkan dengan Kasus William Marcilio

Dalam kesempatan yang sama, Adhitia juga menyinggung kasus William Marcilio yang sempat mengalami situasi serupa pada musim ini. Namun, menurutnya, proses dengan William berjalan lebih lancar karena kedua pihak mencapai kesepakatan bersama.

Persib dan William memilih menyelesaikan pemutusan kontrak melalui jalur negosiasi sehingga tidak berkembang menjadi sengketa hukum.

"Kalau kalian ingat, kita juga punya kasus yang sama dengan William Marcilio musim ini. Kita terminate juga, dia kontraknya satu tahun plus opsi perpanjangan."

"Tapi kita baik-baik saja. Kenapa? Karena dengan William kita melakukan proses negosiasi yang benar. Kita duduk bersama, bernegosiasi dan akhirnya terjadi mutual agreement termination. Selesai. Tidak ada gugat-menggugat, semuanya selesai," terang Adhitia.

Menurutnya, perbedaan mekanisme penyelesaian itulah yang membuat kasus William tidak berkembang hingga ke ranah sengketa seperti yang terjadi dengan Daisuke Sato.

 


Bobotoh Diminta Tetap Tenang

Menutup penjelasannya, Adhitia meminta Bobotoh tidak perlu terlalu khawatir dengan sanksi yang sedang dihadapi Persib. Ia menegaskan kasus serupa juga kerap dialami banyak klub besar di berbagai negara.

Lebih jauh, ia membantah anggapan bahwa masalah tersebut muncul karena Persib menunggak gaji atau mengabaikan hak pemain. Menurutnya, fokus utama klub sejak awal adalah memastikan seluruh perhitungan kompensasi benar dan sesuai ketentuan.

"Jadi ini bukan hal yang mengagetkan buat kita dan tidak usah khawatir. Klub besar juga banyak mengalami hal seperti ini."

"Ini bukan karena kita terlambat bayar gaji atau tidak memenuhi hak pemain. Memang ada proses CAS yang kita lakukan lebih dulu untuk memastikan berapa sebenarnya nilai salary yang menjadi dasar perhitungannya," ujar Adhitia.

Dengan nominal kompensasi yang kini sudah mendapatkan kepastian, Persib optimistis persoalan tersebut dapat segera diselesaikan. Manajemen pun berharap fokus tim bisa kembali sepenuhnya tertuju pada persiapan menghadapi musim kompetisi yang baru.

Berita Terkait