FIFA Terapkan Aturan Anti-Arsenal di Piala Dunia 2026, Strategi Bola Mati Terancam Berubah

FIFA terapkan aturan baru yang dijuluki 'Anti-Arsenal' di Piala Dunia 2026, gol Timnas Inggris dijadikan contoh.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 01 Juni 2026, 21:00 WIB
Declan Rice mencetak gol lewat tendangan bebas akurat saat Arsenal mengalahkan Real Madrid pada leg 1 perempat final Liga Champions 2024/2025 di Emirates Stadium, Rabu (9/4/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Frank Augstein)

Bola.com, Jakarta - FIFA bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) akan menerapkan serangkaian perubahan peraturan mulai Piala Dunia 2026. Satu di antara aturan baru yang paling banyak menyita perhatian adalah regulasi yang dijuluki "aturan anti-Arsenal".

Aturan tersebut ditujukan untuk membatasi praktik menghalangi pergerakan lawan saat situasi bola mati, baik dalam tendangan sudut maupun tendangan bebas.

Advertisement

Dalam beberapa musim terakhir, skema bola mati menjadi senjata yang makin dominan, terutama di Liga Inggris.

FIFA dan IFAB menilai praktik saling dorong, menarik, dan menghalangi lawan dalam situasi tersebut sudah perlu ditertibkan.

Melalui aturan baru itu, pemain dapat dihukum apabila sengaja menghalangi atau mencegah lawan memainkan bola saat tendangan bebas dan sepak pojok. Konsepnya diadopsi dari bola basket, yakni melarang pemain bertindak sebagai "screen" atau penghalang untuk membuka ruang bagi rekan setim.

Yang menarik, wasit kini dapat menjatuhkan hukuman bahkan sebelum bola ditendang apabila pelanggaran sudah terjadi.

Peraturan tersebut mulai berlaku di Piala Dunia 2026 dan akan diterapkan di seluruh kompetisi besar mulai awal Juli.


Gol Inggris ke Gawang Uruguay

Bek Timnas Inggris, Ben White, mencetak satu gol saat timnya bermain imbang 1-1 kontra Uruguay pada laga uji coba di Stadion Wembley, London, Sabtu (28/03/2026) dini hari WIB. (AFP/Henry NICHOLLS)

Sebagai contoh penerapan aturan baru, FIFA menggunakan gol yang dicetak Timnas Inggris dalam laga uji coba melawan Uruguay, Maret lalu.

Gol tersebut dicetak Ben White melalui skema sepak pojok. Namun, dalam tayangan ulang terlihat Adam Wharton dan Harvey Barnes menghalangi pergerakan pemain bertahan Uruguay sehingga membuka ruang bagi White.

Menurut interpretasi aturan baru, gol itu kemungkinan besar tidak akan disahkan.

Perubahan ini diperkirakan berdampak besar terhadap klub-klub Liga Inggris, termasuk Arsenal yang musim lalu dikenal sangat efektif memanfaatkan bola mati.

Meriam London mencetak 25 gol dari situasi bola mati di Liga Inggris, angka yang membuat pendekatan fisik mereka dalam skema sepak pojok dan tendangan bebas sering menjadi sorotan.


Menutup Mulut saat Konfrontasi

Kylian Mbappe menilai winger Benfica, Gianluca Prestianni, tidak pantas lagi tampil di kompetisi elite Eropa tersebut setelah dugaan tindakan pelecehan rasial terhadap Vinicius. Meskipun begitu Prestianni tidak mendapat kartu kuning atau merah dari wasit. Ia terlihat menutup mulutnya dengan jersey, sehingga wasit tidak menemukan bukti verba. (AFP/Patricia De Melo Moreira)

Selain aturan mengenai bola mati, FIFA memperkenalkan sejumlah regulasi baru lainnya untuk Piala Dunia 2026.

Pemain yang menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, atau jersey saat terlibat konfrontasi di lapangan kini terancam kartu merah.

Aturan itu muncul setelah kontroversi dugaan rasisme yang melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dan Vinicius Junior. Prestianni membantah tuduhan tersebut.

Namun, regulasi ini tidak berlaku untuk semua situasi. Pemain tidak akan dihukum apabila menutupi mulut saat melakukan percakapan yang bersifat normal atau tidak terkait perselisihan.


Tinggalkan Lapangan untuk Protes

Ilustrasi wasit, pergantian pemain. (Photo by Homer Lopez on Unsplash)

FIFA juga memperketat sanksi terhadap aksi protes berlebihan kepada wasit.

Pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit akan langsung menerima kartu merah. Aturan ini merujuk pada insiden yang terjadi pada final Piala Afrika 2025 ketika pemain Senegal melakukan aksi serupa.

Lebih jauh lagi, apabila satu tim memutuskan meninggalkan lapangan pertandingan, tim tersebut akan dinyatakan kalah.

Perubahan lain menyasar upaya mengurangi pemborosan waktu. Pemain yang ditarik keluar kini hanya memiliki waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan.

Jika batas waktu itu terlampaui, pemain pengganti baru diizinkan masuk pada penghentian permainan berikutnya setelah satu menit pertandingan berjalan.


Tak Ada Lagi Timeout saat Kiper Cedera

Kiper Manchester City asal Italia #25, Gianluigi Donnarumma, meninju bola dalam pertandingan Premier League antara Brentford dan Manchester City di Stadion Komunitas Gtech, London, pada 5 Oktober 2025. (Adrian Dennis/AFP)

Sementara itu, pada situasi tendangan gawang dan lemparan ke dalam, pemain hanya diberi waktu lima detik untuk mengembalikan bola ke permainan.

Wasit akan memberikan hitungan visual. Jika batas waktu terlewati, tim lawan akan memperoleh keuntungan berupa tendangan sudut atau lemparan ke dalam, sesuai situasinya.

Aturan lain, FIFA menutup celah yang selama ini kerap dimanfaatkan tim untuk mendapatkan instruksi tambahan dari pelatih.

Mulai sekarang, tim tidak diperbolehkan melakukan timeout atau berkumpul dengan staf pelatih ketika penjaga gawang sedang mendapat perawatan cedera di lapangan.

Aturan tersebut menjadi bagian dari upaya FIFA mempercepat jalannya pertandingan dan mengurangi jeda yang tidak berkaitan langsung dengan permainan.

 

Sumber: Daily Mail

Berita Terkait