Bola.com, Jakarta - FIFA menghadapi tudingan baru terkait penjualan tiket Piala Dunia 2026. FIFA disebut bekerja sama dengan platform resale tiket untuk menghabiskan stok kursi pada pertandingan yang minim peminat, sekaligus menghindari potensi tuntutan dari suporter yang sudah membeli tiket dengan harga lebih tinggi.
Sorotan muncul menjelang pertandingan Arab Saudi melawan Tanjung Verde yang dijadwalkan berlangsung di Houston pada 26 Juni.
Sejumlah besar tiket untuk laga tersebut diketahui tersedia di platform resale, SeatGeek.
Kondisi itu memicu kecurigaan karena pola tiket yang dijual dinilai tidak lazim.
Dalam praktik normal, tiket di pasar sekunder biasanya berasal dari individu yang menjual kembali kursi mereka sehingga posisi kursi tersebar di berbagai area stadion, umumnya dalam jumlah kecil seperti dua atau tiga kursi sekaligus.
Namun, untuk laga Arab Saudi kontra Tanjung Verde, yang terlihat justru deretan kursi penuh dan blok-blok besar dalam satu sektor stadion yang muncul bersamaan di SeatGeek.
Temuan tersebut memunculkan dugaan bahwa tiket-tiket itu berasal dari sumber yang sama, bukan dari penjual individu.
FIFA telah dimintai tanggapan terkait tuduhan tersebut.
Bukti Permainan Tiket
Padahal, selama ini FIFA secara konsisten mengingatkan penggemar agar tidak membeli tiket melalui platform resale dan hanya menggunakan layanan resmi yang disediakan FIFA.
Kecurigaan itu pertama kali disampaikan ekonom asal Austria, Florian Ederer.
Melalui unggahan di platform X, ia memperlihatkan peta tempat duduk stadion dengan sejumlah area yang disorot sebagai bukti yang menurutnya menunjukkan pola penjualan yang tidak biasa.
"Saya percaya sekarang kita memiliki bukti mengenai permainan tiket Piala Dunia yang dilakukan FIFA," tulis Ederer.
"FIFA berkolusi dengan platform resale pihak ketiga untuk mengelola pasokan tiketnya sendiri. Lihat peta SeatGeek ini (pasar sekunder) untuk pertandingan Arab Saudi melawan Tanjung Verde. Area yang saya lingkari bukan tiket penjualan kembali acak dari individu, melainkan blok kursi besar yang saling berdekatan: deretan kursi penuh dan area luas dalam satu sektor."
"Area yang saya tandai dengan lingkaran biru sudah muncul beberapa pekan lalu. Kemudian blok berwarna ungu tiba-tiba muncul satu atau dua hari lalu, sementara blok merah tampaknya baru muncul belakangan ini," jelasnya.
Dasar Langkah FIFA
Menurut Ederer, pola tersebut berbeda jauh dari aktivitas resale yang biasa dilakukan suporter maupun calo komersial.
"Itu bukan pola penjualan kembali yang lazim dilakukan suporter atau bahkan calo profesional, yang biasanya menjual pasangan kursi, empat kursi, atau kursi yang tersebar di berbagai lokasi," ujarnya.
"Sebaliknya, ini terlihat seperti persediaan tiket yang dilepas dalam jumlah besar ke pasar sekunder dengan harga lebih murah dibandingkan harga di situs resmi FIFA."
Ederer juga menjelaskan alasan yang menurutnya bisa menjadi dasar langkah tersebut.
"Mengapa FIFA tidak langsung menurunkan harga di situs resminya? Kemungkinan karena pemotongan harga resmi dapat memicu tuntutan pengembalian dana, pembatalan pembayaran, atau persoalan perlindungan konsumen dari pembeli yang sebelumnya sudah membayar jauh lebih mahal," bebernya.
"Sebaliknya, FIFA mempertahankan harga resmi tetap tinggi, menghindari pengakuan terbuka bahwa harga pasar sebenarnya lebih rendah, lalu menyalurkan stok tiket yang belum terjual melalui platform resale pihak ketiga," ungkap Ederer.
Perbedaan Harga Mencolok
Pengamat lain juga menyoroti perbedaan harga yang mencolok. Tiket pada area yang sama untuk pertandingan tersebut disebut dijual sekitar 700 dolar AS melalui platform resale resmi FIFA, sementara di SeatGeek tersedia dengan harga sekitar 200 dolar AS.
Sejak awal, FIFA memang mendapat banyak kritik terkait harga tiket Piala Dunia 2026 yang dianggap terlalu mahal. Untuk partai final yang akan digelar pada 18 Juli, harga satu kursi bahkan bisa mencapai 24.500 paun.
Kontroversi penjualan tiket itu juga telah menarik perhatian aparat hukum di Amerika Serikat.
Jaksa Agung Negara Bagian New York dan New Jersey diketahui telah mengirimkan surat panggilan kepada FIFA. Mereka menilai para suporter kemungkinan telah menerima informasi yang menyesatkan terkait peta tempat duduk stadion.
SeatGeek juga telah dimintai komentar terkait tuduhan tersebut.
Sumber: Daily Mail