Piala Dunia 2026 Hadirkan Tantangan Keamanan Terbesar dalam Sejarah, Aparat AS Siaga Penuh

Piala Dunia 2026 menghadirkan tantangan dalam hal keamanan, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 05 Juni 2026, 13:30 WIB
Kantor Manajemen Darurat (OEM) Departemen Kepolisian Transit New Jersey, bersama dengan mitra federal, negara bagian, kabupaten dan lokal, melakukan latihan tanggap darurat di stasiun kereta api dekat Stadion MetLife menjelang Piala Dunia 2026 di East Rutherford, New Jersey, pada 18 April 2026. (Leonardo MUNOZ/AFP)

Bola.com, Jakarta - Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi operasi pengamanan olahraga paling kompleks yang pernah dihadapi Amerika Serikat.

Skala turnamen yang membentang di tiga negara, melibatkan jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah, serta berlangsung hampir 40 hari membuat aparat keamanan harus menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Advertisement

Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia 2026 Gedung Putih, Andrew Giuliani, mengatakan kepada ESPN bahwa seluruh elemen penegak hukum di Amerika Serikat telah dikerahkan untuk menghadapi situasi tersebut.

"Seluruh aparat kepolisian di negara ini ikut terlibat," kata Giuliani.

"Jika saya memikirkan apa yang harus ditangani aparat keamanan lokal selama rentang 40 hari itu, tantangannya luar biasa besar. Ini belum pernah terjadi sebelumnya," akunya.

"Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan tidak ada yang berjalan salah."

Lebih dari 400 lembaga penegak hukum saat ini bekerja sama dengan pemerintah federal serta perusahaan keamanan swasta untuk mengamankan stadion, festival suporter, pusat latihan tim, hingga hotel-hotel peserta.

Sebanyak 48 negara akan tampil dalam turnamen ini dan memainkan 78 pertandingan di 11 kota tuan rumah Amerika Serikat selama 39 hari. Selain itu, 26 pertandingan lainnya digelar di Kanada dan Meksiko.

Sebagai perbandingan, Piala Dunia sebelumnya di Qatar hanya diikuti 32 tim dan berlangsung di wilayah yang luasnya bahkan lebih kecil dibanding negara bagian Connecticut.

 


Pemerintah Federal Tak Bisa Bekerja Sendiri

Piala Dunia FIFA 2026 akan diselenggarakan di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dari Juni hingga Juli 2026. Turnamen kali ini menandai edisi pertama turnamen itu dengan kompetisi 48 tim dengan total 104 pertandingan. (ULISES RUIZ/AFP)

Besarnya cakupan turnamen membuat pemerintah federal tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengambil alih pengamanan sepenuhnya, seperti saat pelantikan presiden atau Olimpiade.

Itulah mengapa, koordinasi dengan aparat negara bagian dan kepolisian lokal menjadi prioritas utama.

"Kami ingin memastikan mereka memiliki koordinasi yang diperlukan agar bisa melihat pola ancaman yang mungkin muncul di Miami dan kemudian berdampak ke New York atau Houston," ujar Giuliani.

Ia juga mengakui persiapan sempat terganggu akibat penutupan sebagian aktivitas Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) pada awal tahun ini.

"Kami menemukan beberapa kekurangan, tetapi berhasil menutup sebagian besar celah tersebut. Masih ada beberapa yang sedang kami tangani," katanya.

"Yang bisa saya katakan, kami telah membuat kemajuan yang sangat besar."

 


Aparat Pelajari Karakter Suporter

Kepastian tersebut didapat setelah berhasil menahan imbang Jamaika 0-0 pada laga terakhir Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONCACAF di Independence Park Stadium, Jamaika, Rabu (19/11/2025) WIB. Tampak dalam foto, suporter Timnas Curacao merayakan hasil imbang melawan Jamaika pada Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONCACAF di Independence Park Stadium, Jamaika pada 18 November 2025. (Ricardo MAKYN/AFP)

Selain ancaman keamanan konvensional, petugas mempelajari karakteristik masing-masing kelompok pendukung yang akan datang ke kota-kota tuan rumah.

Menurut Giuliani, sejumlah perilaku yang bagi polisi lokal terlihat seperti kerusuhan, sebenarnya bisa jadi merupakan tradisi umum suporter dari negara tertentu.

FIFA turut membantu dengan memberikan analisis ancaman serta informasi intelijen mengenai setiap negara peserta kepada penyelenggara keamanan lokal.

Direktur Keamanan Philadelphia Eagles, JP Hayslip, menjelaskan bahwa karakter suporter setiap negara berbeda-beda.

"Misalnya, ada tim yang suporternya terbiasa menggunakan banyak kembang api, sementara yang lain tidak. Ada yang melakukan pawai jalan kaki, ada juga yang tidak," kata John Przepiorka, Kepala Inspektur Kepolisian Philadelphia.

Untuk membantu komunikasi, Kepolisian Philadelphia akan menempatkan personel yang menguasai bahasa negara-negara peserta di jalur pawai suporter dan titik keramaian utama.

Komisioner Kepolisian Philadelphia, Kevin Bethel, mengatakan kamera tubuh milik petugas juga akan dilengkapi teknologi penerjemah yang mampu mendukung lebih dari 50 bahasa.

 


Ancaman Tak Hanya Datang dari Stadion

Para pendukung tim Albiceleste berkumpul di Times Square, New York City usai pertandingan semifinal Copa America 2024 antara Argentina dan Kanada pada 9 Juli 2024. (Kena Betancur/AFP)

Penyelenggara berusaha menghindari terulangnya insiden final Copa America 2024 di Miami ketika ribuan orang tanpa tiket menerobos gerbang stadion hingga menyebabkan desak-desakan dan sejumlah korban luka.

Sebagai respons, FIFA membentuk perimeter keamanan tambahan di area luar stadion. Banyak area parkir akan dipagari dan setiap suporter wajib menunjukkan tiket sebelum memasuki kawasan stadion.

"Kami tidak ingin ada orang yang mencapai area stadion tanpa memiliki tiket," kata Hayslip.

Kendati stadion diperkirakan menjadi lokasi paling aman saat pertandingan berlangsung, aparat juga harus melindungi sasaran terbuka seperti hotel, pusat latihan tim, restoran, festival suporter, hingga pesta jalanan.

Wakil Direktur FBI, Christopher Raia, mengatakan ancaman yang paling dikhawatirkan berasal dari pelaku ekstremis domestik yang bergerak sendiri.

Ia mencontohkan serangan di New Orleans tahun lalu, ketika seorang pria menabrakkan truk ke kawasan Bourbon Street dalam aksi yang terinspirasi ISIS.

"Insiden seperti ini sangat sulit dideteksi dan dicegah," kata Raia.

"Serangan besar seperti model 11 September justru lebih mudah dideteksi saat ini karena kami memiliki banyak perangkat pengawasan. Yang lebih sulit adalah serangan berskala kecil terhadap sasaran terbuka yang dilakukan individu yang terpapar radikalisme melalui internet," ujarnya.

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Philadelphia berencana menempatkan kendaraan dinas kebersihan kota di sejumlah persimpangan sebagai penghalang fisik.

 


Drone Jadi Kekhawatiran Utama

Drone militer jenis MQ-9 Reaper. (Dok. AP)

Satu di antara fokus utama pemerintah Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026 adalah ancaman drone ilegal. DHS mengalokasikan lebih dari 250 juta dolar AS kepada kota-kota tuan rumah untuk pengadaan teknologi anti-drone.

Sebanyak 60 petugas dari 30 yurisdiksi negara bagian dan lokal juga telah mengikuti pelatihan penanganan drone di fasilitas FBI di Huntsville, Alabama.

Asisten Direktur Kelompok Respons Insiden Kritis FBI, Devin Kowalski, mengaku ancaman ini menjadi satu di antara perhatian terbesar.

"Hal yang membuat kami sulit tidur adalah drone ilegal yang membawa muatan berbahaya yang dapat mencederai orang-orang," ujarnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. November tahun lalu, seorang tersangka penganut supremasi kulit putih di Nashville diduga merencanakan serangan terhadap jaringan listrik menggunakan drone yang dipasangi bahan peledak C-4.

Sementara pada Maret lalu, FBI juga mengeluarkan peringatan terkait potensi serangan balasan Iran menggunakan drone.

Pejabat Prancis mencatat lebih dari 400 pelanggaran wilayah udara oleh drone selama Olimpiade Paris 2024.

 


Ancaman Siber dan Bom Palsu

Ilustrasi Keamanan Siber, Kejahatan Siber, Malware. Kredit: Elchinator via Pixabay

Selain ancaman fisik, pemerintah Amerika Serikat bersiap menghadapi serangan siber yang diperkirakan meningkat selama turnamen berlangsung.

Giuliani mengungkapkan berbagai skenario yang sedang diantisipasi, dari pembobolan sistem tiket hingga upaya mengganggu layar raksasa stadion dan jaringan transportasi.

"Ini benar-benar sesuatu yang kami perkirakan akan terjadi, baik peretasan tiket, manipulasi kode QR, upaya mengambil alih layar stadion, maupun gangguan terhadap sistem transportasi," katanya.

Pada 7 April lalu, sejumlah lembaga federal mengeluarkan peringatan bersama mengenai ancaman keamanan siber yang disebut berafiliasi dengan Iran terhadap infrastruktur penting Amerika Serikat.

Pakar keamanan siber dari Center for Strategic and International Studies, Nikita Shah, menilai kemampuan pemerintah menghadapi ancaman tersebut sedang mendapat tekanan akibat pemangkasan sejumlah lembaga federal.

"Amerika Serikat sebenarnya sudah berada dalam kondisi cukup rentan terkait keamanan siber. Kini situasinya bertambah sulit karena pemerintah mengurangi keterlibatan di bidang tersebut," ungkap Shah.

Namun, Giuliani membantah kekhawatiran tersebut. Menurutnya, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat (CISA) saat ini tetap siap menghadapi ancaman yang diperkirakan muncul selama turnamen.

 


Tantangan Tambahan

Kantor Manajemen Darurat (OEM) Departemen Kepolisian Transit New Jersey, bersama dengan mitra federal, negara bagian, kabupaten, dan lokal, melakukan latihan tanggap darurat di Stadion MetLife menjelang Piala Dunia 2026 di East Rutherford, New Jersey, pada 18 April 2026. (Leonardo MUNOZ/AFP)

Beban pengamanan terbesar nantinya akan berada di tangan kepolisian lokal yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami gelombang pensiun dan pengunduran diri personel.

Direktur Eksekutif Police Executive Research Forum, Chuck Wexler, mengatakan banyak departemen kepolisian kini menghadapi keterbatasan sumber daya manusia.

"Jumlah petugas yang pensiun dan mengundurkan diri meningkat, sementara minat untuk bergabung menurun. Banyak departemen bekerja dengan personel yang sangat terbatas," ujarnya.

Presiden Fraternal Order of Police Lodge 5 Philadelphia, Roosevelt Poplar, mengungkapkan departemennya masih memiliki lebih dari 1.000 posisi kosong.

Itulah mengapa, petugas diperkirakan akan bekerja dengan sistem lembur sukarela maupun wajib selama turnamen berlangsung.

"Kami ingin memastikan petugas siap secara mental menghadapi 39 hari yang panjang ini," kata Poplar.

Kondisi serupa juga terjadi di Atlanta. Kepala Kepolisian Atlanta, Darin Schierbaum, mengatakan lebih dari 200 petugas tambahan akan bertugas pada hari pertandingan dengan jadwal kerja mencapai 12 jam per hari dan tanpa cuti selama turnamen.

Meski begitu, FBI optimistis sumber daya yang tersedia masih cukup untuk menghadapi tantangan tersebut.

Raia menegaskan lembaganya memiliki personel, anggaran, dan sistem rotasi yang memadai agar petugas tetap berada dalam kondisi terbaik sepanjang turnamen.

 


Ukuran Keberhasilan

Ilustrasi trofi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Bagi Giuliani, keberhasilan Piala Dunia 2026 memiliki ukuran yang sangat sederhana.

Menurutnya, jika pada hari final orang-orang membicarakan pertandingan dan bukan masalah keamanan maka seluruh aparat telah menjalankan tugas dengan baik.

"Jika pada 20 Juli nanti ESPN membahas final Piala Dunia yang luar biasa, mungkin Amerika Serikat memenangkan gelar dunia pertama mereka lewat adu penalti, saya mungkin sedang bermimpi, maka kami telah melakukan pekerjaan kami."

 

"Namun, jika yang dibicarakan justru prosedur keamanan dan keselamatan, berarti kami gagal menjalankan tugas kami," ucapnya.

 

 

Sumber: ESPN

Berita Terkait