Bola.com, Jakarta - Timnas Iran akhirnya memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026.
Kepastian itu datang hanya 10 hari sebelum laga pertama mereka digelar di Los Angeles, di tengah hubungan yang masih memanas antara kedua negara.
Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, sempat mengungkapkan pada Kamis malam waktu setempat, bahwa skuad Iran belum menerima visa dari otoritas Amerika Serikat.
Namun, menurut seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara kepada Reuters pada Jumat, dokumen perjalanan tersebut diterbitkan pada malam harinya.
Sementara itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki, Tom Barrack, menyampaikan apresiasinya kepada Kedutaan Besar AS di Ankara yang menangani proses penerbitan visa bagi rombongan Iran.
Melalui akun X miliknya, Barrack menegaskan bahwa olahraga seharusnya melampaui batas-batas politik antarnegara.
"Olahraga melampaui batas negara, dan kami menantikan kedatangan para peserta serta suporter dari seluruh dunia," tulis Barrack.
Iran Pindahkan Basis Tim ke Meksiko
Masalah visa sempat memaksa Iran mengubah rencana persiapan menjelang turnamen. Teheran melakukan negosiasi pada saat-saat terakhir untuk memindahkan markas tim dari Arizona ke Tijuana, Meksiko.
Langkah tersebut diambil akibat ketidakpastian proses visa sekaligus menguatnya pandangan di Iran bahwa keberadaan tim nasional di wilayah Amerika Serikat sebaiknya dibatasi seminimal mungkin.
Rencananya, skuad Iran akan tiba di Tijuana pada Minggu dini hari waktu setempat.
Iran tergabung di Grup G Piala Dunia 2026. Mereka dijadwalkan menjalani laga pembuka melawan Selandia Baru pada 15 Juni di Los Angeles.
Setelah itu, Iran masih akan menghadapi Belgia di kota yang sama sebelum menutup fase grup dengan pertandingan melawan Mesir di Seattle.
Piala Dunia Diwarnai Ketegangan Politik
Konflik yang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat ikut memberi warna tersendiri pada Piala Dunia 2026.
Turnamen yang dikenal sebagai ajang olahraga terbesar di dunia itu kini tidak hanya menjadi panggung persaingan sepak bola, tetapi juga membawa dimensi politik yang sulit dipisahkan.
Kedua pihak dinilai memanfaatkan momentum turnamen untuk menunjukkan posisi politik masing-masing.
Situasi ini menciptakan catatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia.
Sejak pertama kali digelar pada 1930, belum pernah ada negara tuan rumah yang menerima kehadiran peserta dari negara yang sedang terlibat konflik dengannya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menegaskan bahwa Washington tidak akan mengizinkan Iran memasukkan individu yang memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam ke dalam delegasi resmi mereka untuk Piala Dunia.
Korps Garda Revolusi Islam merupakan satu di antara cabang paling berpengaruh dalam struktur militer Iran.
Sumber: The National