Tak Kunjung Dibayar, Kahudi Wahyu Widodo Desak Manajemen PSIS Selesaikan Kewajiban

Kahudi Wahyu Widodo kembali menegaskan sikap terkait polemik hak finansial yang hingga kini belum diselesaikan manajemen PSIS Semarang.

BolaCom | Ana DewiDiterbitkan 07 Juni 2026, 07:15 WIB
Pelatih anyar PSIS Semarang, Kahudi Wahyu Widodo, yang akan memimpin Mahesa Jenar mengarungi Liga 2 2025/2026. (Bola.com/Radifa Arsa)

Bola.com, Sleman - Mantan pelatih PSIS Semarang, Kahudi Wahyu Widodo, kembali menegaskan sikap terkait polemik hak finansial yang hingga kini belum diselesaikan oleh pihak manajemen PT Mahesa Jenar Semarang.

Kahudi mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki hak pembayaran yang belum dibayarkan PSIS Semarang saat menangani tim pada musim lalu. Kondisi itu disebutnya mencakup tunggakan selama dua bulan.

Advertisement

Rinciannya, satu bulan merupakan gaji berjalan, sementara satu bulan lainnya yakni kompensasi pemutusan kontrak yang sampai sekarang belum ia diterima.

"Saya tidak ingin masalah internal klub dijadikan alasan untuk menyelesaikan masalah ini. Kami tahu profesionalisme dan harus menghormati perjanjian kerja sama," ujarnya pada Sabtu (6/6/2026).

 


Kembalikan Fasilitas Mobil

Caretaker Pelatih PSBS, Kahudi Wahyu Widodo. (Foto: Bola.com/Ana Dewi)

Selain menuntut penyelesaian hak finansial, Kahudi juga mengambil langkah dengan mengembalikan fasilitas kendaraan operasional yang sebelumnya diberikan oleh pihak klub.

Keputusan tersebut diambil untuk menghindari potensi kesalahpahaman maupun konflik hukum di kemudian hari antara dirinya dan manajemen klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar itu.

Eks asisten pelatih PSBS Biak itu menyampaikan permohonan maaf atas situasi yang terjadi, sembari menegaskan bahwa langkah itu diambil semata-mata untuk memperjelas status hak dan kewajibannya.

"Mohon maaf atas apa yang saya lakukan, karena saya hanya ingin hak saya segera diselesaikan. Saya tidak ingin ada masalah dengan kendaraan yang ada di saya," ucap Kahudi.

 


Sayangkan Tata Kelola Klub

Pelatih PSIS Semarang, Kahudi Wahyu Widodo. (Bola.com/Radifa Arsa)

Pelatih berusia 47 tahun itu juga menyoroti adanya perbedaan pandangan terkait pelaksanaan kontrak kerja, khususnya ketika ada kesepakatan di luar dokumen resmi yang dinilai tidak dapat dijadikan acuan utama.

Menurut Kahudi, segala bentuk kerja sama profesional semestinya tetap berpegang pada kontrak tertulis yang sudah disepakati sejak awal, bukan pada komunikasi atau kesepakatan informal.

"Tidak profesional apa yang ada di kontrak kerja saya, seharusnya itu yang dibuat dasar. Jangan bicara perseorangan. Kalau ada kesepakatan di luar itu, ya berarti urusan internal perusahaan," katanya.

Mantan pelatih Persijap Jepara tersebut menyayangkan adanya persoalan seperti ini di tengah perkembangan positif sepak bola Indonesia. Ia berharap ke depan tata kelola klub bisa lebih baik lagi.

Berita Terkait