3 Hari Jelang Piala Dunia 2026, New York dan Kansas City Diguncang Aksi Kekerasan

Menjelang Piala Dunia 2026, aksi penusukan di New York dan penembakan di Kansas City menyebabkan sedikitnya 15 orang menjadi korban luka.

BolaCom | Rizki HidayatDiterbitkan 09 Juni 2026, 04:00 WIB
MetLife Stadium, venue final Piala Dunia 2026. (CHARLY TRIBALLEAU / AFP)

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Namun, atmosfer antusiasme yang menyelimuti Amerika Serikat sebagai satu dari tiga tuan rumah, justru dibayangi dua insiden kekerasan yang terjadi di kota penyelenggara turnamen.

Dalam rentang waktu kurang dari 48 jam, aksi penusukan di New York dan penembakan di Kansas City menyebabkan sedikitnya 15 orang menjadi korban luka.

Advertisement

Peristiwa itu memunculkan kembali pertanyaan besar mengenai kesiapan keamanan, menjelang turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut yang akan dimulai akhir pekan ini.

Kekhawatiran pertama muncul dari New York. Enam orang terluka akibat aksi penusukan yang terjadi di kawasan Penn Station pada Minggu (7/6/2026) waktu setempat.

Lokasi kejadian berada di satu di antara pusat transportasi tersibuk di Amerika Serikat. Kawasan tersebut saat ini sedang bersiap menyambut dua ajang olahraga raksasa sekaligus, yakni Final NBA dan Piala Dunia 2026.

Dinas Pemadam Kebakaran New York mengonfirmasi seluruh korban telah dilarikan ke rumah sakit, termasuk satu orang yang mengalami luka serius. Sementara itu, pelaku berhasil diamankan aparat keamanan.

Wali Kota New York, Zohran Mamdani, menyebut jumlah korban mencapai enam orang. Berdasarkan informasi awal yang beredar, pelaku diduga merupakan seorang tunawisma yang mengalami gangguan emosional.

"Hati dan pikiran saya bersama seluruh korban yang terluka, keluarga mereka, serta semua pihak yang terguncang akibat aksi kekerasan yang tidak dapat diterima ini. Saya mendoakan agar seluruh korban dapat pulih sepenuhnya dan secepat mungkin," tulis Zohran Mamdani di akun X pribadinya.

 


Kota Tuan Rumah dalam Status Siaga

Kantor Manajemen Darurat (OEM) Departemen Kepolisian Transit New Jersey, bersama dengan mitra federal, negara bagian, kabupaten, dan lokal, melakukan latihan tanggap darurat di Stadion MetLife menjelang Piala Dunia 2026 di East Rutherford, New Jersey, pada 18 April 2026. (Leonardo MUNOZ/AFP)

Insiden itu terjadi saat New York sedang berada dalam sorotan dunia olahraga. Arena ikonik Madison Square Garden akan menggelar gim ketiga dan keempat Final NBA antara New York Knicks melawan San Antonio Spurs.

Di sisi lain, MetLife Stadium di New Jersey dijadwalkan menjadi salah satu venue utama Piala Dunia 2026 dan akan menggelar pertandingan pertamanya pada Sabtu (13/06/2026) mendatang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan dijadwalkan menghadiri salah satu laga Final NBA di Madison Square Garden.

Menyusul insiden tersebut, aparat keamanan meningkatkan pengamanan di berbagai titik strategis. Sistem peringatan darurat kota juga meminta masyarakat menghindari area sekitar Penn Station karena potensi kemacetan, penutupan jalan, dan gangguan transportasi umum.

 


Penembakan Dekat Markas Timnas Inggris

Thomas Tuchel, Pelatih Timnas Inggris, saat jeda pertandingan persahabatan internasional antara Inggris dan Selandia Baru di Stadion Raymond James pada 6 Juni 2026 di Tampa, Florida. (Richard Pelham/Getty Images via AFP)

Sementara itu, insiden lain terjadi di Kansas City, Missouri. Sedikitnya sembilan orang mengalami luka-luka akibat aksi penembakan yang terjadi pada Sabtu (06/06/2026) malam waktu setempat.

Beruntung, pihak kepolisian menyebut tidak ada korban yang mengalami luka mengancam jiwa. Tiga korban di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit setempat.

Yang membuat perhatian publik semakin besar, lokasi penembakan hanya berjarak sekitar 6,5 kilometer dari Swope Soccer Village, tempat yang akan digunakan Timnas Inggris sebagai pusat latihan selama Piala Dunia 2026.

Meski The Three Lions belum tiba di Kansas City dan masih dijadwalkan menjalani laga uji coba melawan Kosta Rika di Orlando, insiden tersebut tetap menambah kekhawatiran terkait keamanan peserta turnamen.

Hingga kini, polisi masih memburu pelaku dan belum ada tersangka yang berhasil ditangkap.

 


Operasi Keamanan Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia

Kantor Manajemen Darurat (OEM) Departemen Kepolisian Transit New Jersey, bersama dengan mitra federal, negara bagian, kabupaten dan lokal, melakukan latihan tanggap darurat di stasiun kereta api dekat Stadion MetLife menjelang Piala Dunia 2026 di East Rutherford, New Jersey, pada 18 April 2026. (Leonardo MUNOZ/AFP)

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta dan 104 pertandingan.

Amerika Serikat menjadi tuan rumah utama dengan menggelar 78 pertandingan di 11 kota berbeda. Skala penyelenggaraan yang sangat besar membuat aspek keamanan menjadi tantangan tersendiri.

Pemerintah federal, kepolisian negara bagian, aparat lokal, hingga perusahaan keamanan swasta bekerja sama membangun sistem pengamanan berlapis.

Teknologi yang digunakan pun tergolong canggih, mulai dari drone pemburu yang mampu menjatuhkan objek di wilayah udara terlarang, anjing robot pemeriksa barang bawaan, truk pemindai sinar-X berukuran besar, hingga ribuan kamera berbasis kecerdasan buatan (AI) yang ditempatkan di ruang publik.

Penggunaan drone di atas stadion dan zona suporter juga dilarang keras selama turnamen berlangsung. Di setiap hari pertandingan, FBI akan mengaktifkan pusat operasi gabungan di seluruh kota tuan rumah untuk memantau dan merespons setiap potensi ancaman secara real time.

 


Ancaman Belum Terdeteksi

Meski dua insiden kekerasan terjadi menjelang kick-off turnamen, pemerintah Amerika Serikat menegaskan belum menemukan ancaman kredibel yang secara spesifik menargetkan Piala Dunia 2026.

Andrew Giuliani, Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia bentukan Presiden Donald Trump, mengatakan hingga saat ini kondisi masih berada dalam kendali.

Namun, fakta Amerika Serikat masih menghadapi tingginya angka kekerasan bersenjata membuat kekhawatiran sulit dihindari.

Berdasarkan data Gun Violence Archive, lebih dari 400 kasus penembakan massal tercatat terjadi di Amerika Serikat sepanjang 2025.

Dengan jutaan penggemar dari berbagai negara diperkirakan akan datang selama Piala Dunia berlangsung, aparat keamanan kini berpacu dengan waktu untuk memastikan pesta sepak bola terbesar di dunia itu berjalan aman dan lancar.

Sumber: Aljazeera

Berita Terkait