Bola.com, Jakarta - Timnas Iran tiba di Meksiko untuk mengikuti Piala Dunia 2026 dengan membawa pesan yang berpotensi memicu reaksi keras dari Amerika Serikat.
Para pemain terlihat mengenakan pin bertuliskan angka 168, sebagai penghormatan kepada anak-anak yang tewas dalam serangan rudal Amerika Serikat terhadap sebuah sekolah dasar di Iran, awal tahun ini.
Sebanyak 175 orang dilaporkan meninggal dunia setelah militer AS membombardir sekolah khusus perempuan di Kota Minab, Iran, pada 28 Februari.
Hasil investigasi kemudian menyimpulkan bahwa serangan tersebut terjadi akibat kesalahan dalam operasi yang sebenarnya ditujukan ke pangkalan militer di dekat lokasi. Bangunan sekolah itu diketahui pernah menjadi bagian dari kompleks militer tersebut.
Sebagian besar korban diyakini merupakan anak-anak perempuan. Tragedi itu disebut sebagai satu di antara kesalahan operasi militer Amerika Serikat dengan jumlah korban terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Pin 168
Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali mengemuka menjelang dimulainya Piala Dunia 2026 pekan ini.
Pemerintah Amerika Serikat menolak menerbitkan visa bagi sebagian anggota staf pendukung tim Iran, memicu protes dari Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI).
Di tengah sengketa diplomatik yang masih berlangsung, skuad Iran tetap mendarat di Meksiko, akhir pekan lalu.
Seluruh pemain tampak turun dari pesawat dengan mengenakan pin angka 168 di pakaian mereka sebagai simbol penghormatan kepada para korban serangan rudal Februari lalu.
Aksi tersebut dilakukan menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Meksiko akan memainkan laga pembuka melawan Afrika Selatan di Mexico City pada Kamis waktu setempat atau Jumat (12-6-2026) dini hari WIB.
Anomali Iran di Piala Dunia 2026
Iran bermarkas di Meksiko selama Piala Dunia 2026 berlangsung, meski seluruh pertandingan fase grup mereka dimainkan di Amerika Serikat. Laga pertama Iran akan berlangsung Senin melawan Selandia Baru di Stadion SoFi, Los Angeles.
Kehadiran Iran di Amerika Serikat juga menciptakan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia, yakni negara tuan rumah menerima kedatangan tim nasional dari negara yang sedang berkonflik dengannya.
Setelah menghadapi Selandia Baru, Iran kembali bermain di Stadion SoFi untuk melawan Belgia sebelum menutup fase grup menghadapi Mesir di Lumen Field, Seattle.
Menjelang turnamen, tim Iran menghabiskan hampir tiga pekan menjalani pemusatan latihan di Antalya, Turki. Selama berada di sana, mereka mengurus visa untuk masuk ke Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.
Kendala Visa AS
Utusan Amerika Serikat untuk Turki, Tom Barrack, menulis di platform X pada Jumat malam bahwa para pemain menerima visa AS sehari sebelum keberangkatan mereka menuju Meksiko.
Namun, Kedutaan Besar Iran di Turki menyatakan sebagian staf pendukung tidak memperoleh visa. Menurut seorang diplomat Iran dan laporan televisi pemerintah, sebanyak 15 staf administrasi dan manajemen terdampak keputusan tersebut.
FFIRI menuding pemerintah Amerika Serikat melakukan "tindakan balas dendam" karena menolak memberikan visa kepada anggota penting di bidang manajemen dan administrasi timnas.
"Anda kini telah meningkatkan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim nasional sepak bola Iran ke tingkat tertinggi," tulis Kedutaan Besar Iran di Turki melalui akun X, Sabtu.
Dalam pernyataan yang sama, Iran juga meminta FIFA untuk meminta pertanggungjawaban Amerika Serikat atas pelanggaran terhadap peraturannya.
Pembatasan Penggunaan Visa AS
Ketegangan makin meningkat setelah Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, mengungkapkan bahwa timnya mendapat pemberitahuan mengenai pembatasan khusus dalam penggunaan visa.
"Kami bisa masuk pada pagi hari dan harus meninggalkan wilayah Amerika Serikat pada hari yang sama," kata Pasandideh kepada wartawan.
Pernyataan itu bertolak belakang dengan keterangan juru bicara Timnas Iran, Amir Mahdi Alavi, yang sebelumnya disampaikan kepada televisi pemerintah.
"Visa yang diterbitkan untuk tim nasional merupakan visa masuk berkali-kali, dan tim nasional akan tiba di lokasi pertandingan satu hari sebelum laga pertama serta dua hari sebelum pertandingan-pertandingan berikutnya," ujar Alavi.
Di sisi lain, aturan FIFA mengharuskan pelatih setiap tim peserta Piala Dunia menghadiri konferensi pers di kota penyelenggara pertandingan sehari sebelum laga berlangsung.
FFIRI, yang menurut laporan media juga menyertakan ketuanya Mehdi Taj dalam daftar pihak yang ditolak visanya, menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk campur tangan politik terhadap olahraga yang paling buruk.
Klaim Pejabat AS
Menanggapi tudingan itu, seorang pejabat pemerintahan Amerika Serikat menegaskan bahwa visa yang dibutuhkan Iran untuk mengikuti Piala Dunia telah diterbitkan.
"Visa yang diperlukan agar Iran dapat berpartisipasi di Piala Dunia, termasuk untuk para atlet dan staf pendukung yang dibutuhkan, telah diterbitkan," kata pejabat tersebut.
Meski begitu, ia tidak memberikan penjelasan langsung mengenai individu yang ditolak permohonan visanya.
"Kami tidak akan membiarkan tim Iran menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke Amerika Serikat dengan dalih yang tidak benar," ujarnya.
Sumber: Daily Mail