Merasa Dijegal Jadi Presiden FIFA, Michel Platini Gugat Gianni Infantino

Mantan Presiden UEFA, Michel Platini, gugat FIFA dan Gianni Infantino terkait kasus yang menggagalkan mimpinya jadi presiden badan sepak bola dunia itu pada 2015.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 09 Juni 2026, 14:15 WIB
Mantan presiden UEFA, Michel Platini, tampak meninggalkan gedung pengadilan setelah putusan banding dari Kejaksaan Agung Swiss terhadap mantan presiden UEFA dan FIFA atas dugaan pembayaran palsu, di Muttenz dekat Basel, pada 25 Maret 2025. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Bola.com, Jakarta - Mantan Presiden UEFA, Michel Platini, mengambil langkah hukum terhadap FIFA dan Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino, terkait rangkaian peristiwa pada 2015 yang mengakhiri peluangnya memimpin organisasi sepak bola dunia tersebut.

Platini mengajukan gugatan pidana dan perdata di Prancis.

Advertisement

Dalam laporan pidana yang didaftarkan di Paris, pria asal Prancis itu menuduh Infantino, mantan Direktur Hukum FIFA, Marco Villiger, serta mantan Ketua Komite Audit FIFA, Domenico Scala, terlibat dalam tindakan penuntutan bermotif jahat dan perdagangan pengaruh.

Selain itu, Platini melayangkan gugatan perdata terpisah terhadap FIFA.

Melalui gugatan tersebut, ia menuntut ganti rugi penuh atas apa yang disebutnya sebagai manuver internal yang sengaja dirancang untuk menggagalkan pencalonannya sebagai Presiden FIFA lebih dari satu dekade lalu.


Awal Kasus

Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter (kanan), berbicara kepada media saat meninggalkan gedung pengadilan setelah putusan banding oleh Kejaksaan Agung Swiss terhadap mantan presiden UEFA dan FIFA atas dugaan pembayaran palsu, di Muttenz dekat Basel, pada 25 Maret 2025. Mantan presiden FIFA Sepp Blatter dan mantan ketua UEFA Michel Platini kembali dibebaskan pada 25 Maret 2025 melalui banding oleh pengadilan Swiss dalam kasus korupsi yang telah berlangsung lama. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Kasus ini berakar dari peristiwa pada akhir 2015 ketika terungkap adanya pembayaran sebesar 2 juta franc Swiss atau sekitar 2,51 juta dolar AS yang diterima Platini dari FIFA.

Pembayaran tersebut sebenarnya telah disetujui pada 2011 oleh Presiden FIFA saat itu, Sepp Blatter.

Namun, setelah informasi mengenai pembayaran itu mencuat ke publik, Komite Etik FIFA menjatuhkan sanksi yang membuat mantan kapten Timnas Prancis tersebut tersingkir dari persaingan menuju kursi Presiden FIFA.

Situasi itu kemudian membuka jalan bagi Infantino, yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal UEFA di bawah kepemimpinan Platini, untuk memenangkan pemilihan Presiden FIFA pada awal 2016.


Merasa Dijegal

Reaksi mantan presiden UEFA, Michel Platini, ketika meninggalkan gedung pengadilan setelah putusan banding oleh kantor Kejaksaan Agung Swiss terhadap mantan presiden UEFA dan FIFA atas dugaan pembayaran palsu, di Muttenz dekat Basel, pada 25 Maret 2025. Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, dan mantan ketua UEFA, Michel Platini, dibebaskan lagi pada 25 Maret 2025 melalui banding oleh pengadilan Swiss dalam kasus korupsi yang sudah berlangsung lama. (Fabrik COFFRINI/AFP)

Langkah hukum yang kini ditempuh Platini muncul beberapa bulan setelah dirinya dan Blatter dinyatakan bebas secara permanen oleh Pengadilan Banding Pidana Federal Swiss pada 25 Maret 2025.

Putusan tersebut membebaskan keduanya dari tuduhan penipuan dan pemalsuan dokumen. Status bebas itu kemudian berkekuatan hukum tetap pada September tahun yang sama.

Setelah putusan tersebut keluar, Platini, yang kini berusia 70 tahun, mengaku meyakini bahwa kasus yang menjeratnya sejak 2015 memang bertujuan menghalangi dirinya menjadi Presiden FIFA.

Meski begitu, ia juga menyatakan sudah terlalu tua untuk kembali aktif di dunia sepak bola.


FIFA Membantah

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara di KTT Semafor World Economy 2026 pada 15 April 2026 di Washington, DC. KTT ini mempertemukan para pemimpin bisnis dan CEO teknologi untuk membahas ekonomi, kecerdasan buatan, dan tren bisnis. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Melalui pengaduan terbaru yang diajukan di Prancis, Platini meminta penyidik menelusuri tindakan sejumlah pejabat FIFA dalam kasus tersebut.

Ia juga meminta penyelidikan terhadap kemungkinan adanya koordinasi yang tidak semestinya antara FIFA dan jaksa Swiss selama proses penyidikan pidana yang berlangsung saat itu.

Di sisi lain, FIFA sebelumnya telah membantah melakukan pelanggaran apa pun dalam penanganan kasus yang muncul pada 2015 tersebut.

 

Sumber: Reuters