Kok Banyak Pemain Berkepala 4 di Piala Dunia 2026?

Dalam 22 edisi Piala Dunia sebelumnya, hanya ada satu pemain bukan kiper yang masih aktif bermain di atas usia 40 tahun di turnamen tersebut, yakni Roger Milla dari Kamerun.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 09 Juni 2026, 17:15 WIB
Pemain Bosnia dan Herzegovina, Edin Dzeko, berusaha menenangkan pemain Italia, Bryan Cristante, setelah laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu 1 April 2026 dini hari WIB. (AP Photo/Armin Durgut)

Bola.com, Jakarta - Dalam 22 edisi Piala Dunia sebelumnya, hanya ada satu pemain bukan kiper yang masih aktif bermain di atas usia 40 tahun di turnamen tersebut, yakni Roger Milla dari Kamerun. Legenda itu memukau dunia di Italia 1990 dengan selebrasi khasnya di tiang bendera sudut, lalu kembali hadir di Amerika Serikat 1994 pada usia 42 tahun, terpaut 24 tahun 42 hari dengan rekan setimnya Rigobert Song yang kala itu masih remaja.

Namun Piala Dunia 2026 di Amerika Utara menghadirkan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Cristiano Ronaldo dari Portugal tampil di Piala Dunia keenamnya pada usia 41 tahun. Luka Modric dari Kroasia, 40 tahun, akan menjalani Piala Dunia kelimanya. Edin Dzeko dari Bosnia-Herzegovina, juga 40 tahun, hadir sebagai kapten dan pemimpin generasi baru negaranya. Bahkan striker Qatar Sebastian Soria yang berusia 42 tahun berpotensi tampil. Dalam satu turnamen, Roger Milla yang selama ini berdiri sendiri kini mendapat hingga empat teman potensial.

Advertisement

Apakah ini kebetulan semata? Atau pertanda dari pergeseran besar dalam dunia sepak bola modern yang memungkinkan pemain-pemain elite untuk terus bertahan jauh melampaui batas usia yang selama ini dianggap wajar? Para ilmuwan olahraga, direktur performa, dan pemain itu sendiri punya jawaban yang menarik untuk direnungkan.

Yang pasti, keempat nama itu bukan sekadar bertahan karena usia. Mereka hadir karena kualitas, dedikasi, dan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, yakni cinta yang tidak pernah padam terhadap sepak bola.

 


Dzeko: Dari Hampir Pensiun ke Piala Dunia Bersama Generasi yang Terpaut 22 Tahun

Striker Timnas Bosnia-Herzegovina, Edin Dzeko, mengenakan jersey biru produksi Kelme di laga Kualifikasi Euro 2024. (ELVIS BARUKCIC / AFP)

Berbicara dengan Edin Dzeko adalah pengalaman yang merendahkan hati. Di sela sesi media bersama sejumlah jurnalis, striker yang kini membela Schalke 04 itu berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dengan mudah, menjawab pertanyaan tentang Turki, Fiorentina, Swiss, Pep Guardiola, dan prospek Bosnia-Herzegovina di Piala Dunia 2026. Ia terlihat segar, antusias, dan benar-benar jatuh cinta kembali pada sepak bola.

Padahal hanya beberapa bulan sebelumnya, situasinya jauh berbeda. Setelah karier panjang yang membawanya dari Teplice ke Wolfsburg, Manchester City, Roma, hingga Inter Milan, Dzeko menghabiskan dua tahun di Fenerbahce sebelum pindah ke Fiorentina. Di sana, segalanya tidak berjalan baik. Ia tidak mendapat ritme permainan, hasil buruk datang bertubi-tubi, dan dalam momen-momen gelap musim 2025/26, ia mulai berpikir bahwa segalanya sudah berakhir.

"Ketika hasil tidak bagus, ketika Anda tidak bermain seperti yang tidak saya lakukan di Fiorentina, banyak hal yang berkecamuk di kepala," ujar Dzeko. Jendela transfer Januari membuka sejumlah pilihan, termasuk tawaran menggiurkan dari Paris FC. Namun ada juga tawaran dari Schalke, klub besar Jerman yang terdegradasi ke 2. Bundesliga pada 2021 dan sedang berjuang untuk kembali naik kasta.

"Di Januari, saya butuh lebih banyak cinta, sesuatu yang lebih emosional. Dengan Schalke, para penggemar dan stadionnya itu istimewa dan memberi saya energi serta kegembiraan emosional, yang berarti Anda bekerja keras dalam latihan dan di setiap pertandingan," kata Dzeko. "Bahkan setelah 20 tahun, setelah hampir punya segalanya, rasanya tetap menyenangkan dan membantu Anda untuk terus melanjutkan."

Di saat yang sama, Piala Dunia selalu ada di benaknya. Bosnia-Herzegovina harus melewati jalur playoff UEFA yang melelahkan, mengalahkan Wales di semifinal lewat adu penalti setelah Dzeko mencetak gol penyama, sebelum mengalahkan Italia di final juga lewat adu penalti setelah ia mengasisteni gol penyama Haris Tabakovic. "Kami punya jalur yang berat," kata Dzeko. "Tapi saat kami bersiap, kami merasakan energi positif itu, dan tim benar-benar menunjukkan kualitas kepribadian dan karakter mereka."

 


Rahasia Awet Muda: Antara Rasa Sakit di Pagi Hari dan Cinta yang Tak Pernah Mati

Pelatih Bosnia Herzegovina, Savo Milosevic (kanan) memberi instruksi kepada pemainnya, Edin Dzeko menjelang dimulainya babak kedua saat menghadapi Portugal pada laga lanjutan Grup J Kualifikasi Euro 2024 di Stadion Bellino Polje, Selasa (17/10/2023) dini hari WIB. (AFP/Elvis Barukcic)

Di Piala Dunia 2026, Dzeko akan bermain berdampingan dengan pemain-pemain yang terpaut hingga 22 tahun darinya. Kerim Alajbegovic, 18 tahun, adalah salah satunya. Selisih usia yang tidak bisa tidak membuat Dzeko sendiri geleng kepala. "Ketika saya berdiri di samping mereka, saya seperti berkata, 'Bro, saya 22 tahun lebih tua darimu.' Itu gila, tapi juga berarti saya telah melakukan beberapa hal yang baik di masa lalu, dan itu berarti saya bekerja keras," ujarnya.

Striker Stuttgart Ermedin Demirovic yang bermain bersama Dzeko di timnas mengungkapkan kekagumannya secara terbuka. "Apa yang tidak bisa Anda pelajari? Sebagai striker yang selalu menjadi idola Anda, Anda harus menganalisis setiap langkah yang ia buat, karena tampil seperti itu di usia itu adalah sesuatu yang luar biasa. Dia pemain besar, bukan hanya sekarang dan bukan hanya bagi orang Bosnia," kata Demirovic.

Lalu apa rahasianya? Dzeko menjawab dengan kalimat yang sederhana namun penuh makna. "Ada rasa sakit di mana-mana setiap pagi. Anda butuh beberapa menit, ketika Anda bangun, ada yang sakit, tapi itu tubuh Anda yang memperbarui dirinya sendiri dan membantu menjaga tubuh tetap dalam kondisi baik." Ia juga mengakui harus mengorbankan sesi minum kopi pascalatihan yang ia sukai demi program pemulihan dan peregangan yang lebih ketat.

Di lapangan, Dzeko pun telah beradaptasi. Ia tidak lagi berlari sekencang dulu, melainkan bermain lebih cerdas, memposisikan diri di bahu bek terakhir lawan dan mengandalkan antisipasi serta kecerdasan membaca permainan. "Ini terjadi secara alami, karena saya bukan pemain yang sama seperti 10 tahun lalu. Saya tidak bisa berlari seperti dulu. Tapi mungkin satu kali lari yang lebih sedikit bisa membantu Anda mencetak satu gol lebih. Saya mencoba mempertahankan kualitas dan kemampuan mencetak gol di pihak saya," tuturnya.

 


Ronaldo dan Modric: Dua Legenda yang Menolak Tunduk pada Usia

Luca Modric (Kroasia), Lionel Messi (Argentina), dan Cristiano Ronaldo (Portugal): tiga pemain yang kemungkinan bakal menjalani Piala Dunia terakhir di edisi 2026. (Gemini)

Dedikasi Cristiano Ronaldo terhadap kondisi fisiknya sudah bukan rahasia lagi. Regimen kebugaran yang ia jalani tersebar luas di media sosialnya, sementara ia terus mengejar rekor 250 caps bersama Portugal dan 1.000 gol dalam karier profesionalnya. "Tubuh saya terasa baik. Saya ingin terus mencetak gol dan membantu tim. Ini adalah hidup saya," kata Ronaldo pada November lalu.

Pelatih Portugal Roberto Martinez menyebut Ronaldo sebagai "ikon sepak bola dunia" sekaligus "kapten teladan" dalam pengumuman skuad Piala Dunia. "Setiap hari, ia menggunakannya sebagai kesempatan untuk menjadi lebih baik dari kemarin. Anda tidak bisa mengukur rasa lapar seorang individu. Sangat mudah melatih pemain-pemain seperti ini karena mereka ingin menang," ujar Martinez.

Modric sementara itu meninggalkan Real Madrid musim panas lalu untuk bergabung dengan AC Milan. Ia merayakan ulang tahun ke-40 pada September lalu dan mencetak gol pertamanya untuk Milan melawan Bologna lima hari kemudian. "Saya harap orang-orang tidak akan terus menyebut-nyebut usia saya lagi," katanya saat itu. Direktur performa Real Madrid, Antonio Pintus, mengungkapkan rahasia di balik ketahanan sang gelandang. "Luka sangat memperhatikan latihan, nutrisi, pemulihan, dan di atas segalanya, ia memiliki mentalitas yang mendorongnya untuk tidak pernah puas. Dia adalah contoh langka dari umur panjang dalam olahraga, hasil dari dedikasi harian," kata Pintus kepada Gazzetta dello Sport.

Dzeko sendiri mengakui bahwa ia pertama kali bermain melawan Ronaldo dan Modric lebih dari satu dekade lalu, pada 2011. "Mereka pekerja keras, pemain hebat, dan bukan kebetulan mereka masih ada di sini. Anda harus bekerja keras untuk mencapainya. Saya bahagia untuk diri saya sendiri dan saya hanya senang bisa berada dalam lingkaran kecil pemain-pemain hebat ini," ujarnya.

 


Ilmu Pengetahuan di Balik Fenomena: Pengecualian atau Masa Depan Sepak Bola?

Roger Milla, memesona publik sepak bola dunia bersama Kamerun di Piala Dunia 1990.

Kemunculan empat pemain veteran berusia di atas 40 dalam satu edisi Piala Dunia tentu mengundang pertanyaan ilmiah yang serius. Luís Branquinho, profesor adjun di Polytechnic Institute of Portalegre Portugal yang turut menulis makalah riset olahraga berjudul "The Aging Curve: How Age Affects Physical Performance in Elite Football," memberikan konteks yang penting.

Riset Branquinho menganalisis 5.203 performa pertandingan individu dari 98 pemain di liga Brasil antara 2020 hingga 2024 dan menemukan bahwa pemain mencapai kemampuan kecepatan maksimal pada usia 25,7 tahun, puncak daya tahan pada 24,8 tahun, dan puncak eksplosivitas pada usia 26 tahun. Kekuatan otot mulai menurun di sekitar usia 27 atau 28 tahun. "Berdasarkan riset kami, para pemain ini jelas merupakan pengecualian," kata Branquinho. "Apa yang mereka lakukan dengan sangat baik, bersama pelatih mereka, adalah menyeimbangkan resistensi alami tubuh terhadap aktivitas fisik ini sambil menjaga tubuh tetap stabil."

Darren Burgess, direktur performa Juventus yang mewakili FIFPRO, melihat kombinasi beberapa faktor. "Jika Anda melihat olahraga global dan melihat LeBron James, Anda melihat pemain-pemain yang lebih tua yang masih tampil di level tertinggi. Jelas ada kombinasi genetika, pelatihan, dan semoga manajemen beban," kata Burgess. Ia secara khusus menyoroti liga Arab Saudi tempat Ronaldo bermain, yang secara objektif memiliki output fisik per pertandingan yang lebih rendah dibanding liga-liga top Eropa, dan hal itu tentu membantu menjaga kondisi pemain untuk jangka yang lebih panjang.

Gregory Dupont, direktur performa yang pernah menjadi pelatih kebugaran Real Madrid dan Timnas Prancis, menambahkan dimensi lain. "Kami tidak pernah benar-benar tahu apakah kita akan melihat pemain lain di usia 40-an, karena para pemain ini berbeda. Mereka adalah pengecualian, tapi termotivasi untuk bermain dan memiliki mentalitas untuk sukses. Mereka mengenal tubuh mereka dan apa yang bisa mereka lakukan," ujar Dupont.

 


Beban Jadwal Modern dan Peringatan untuk Generasi Berikutnya

Di balik kekaguman terhadap para veteran ini, ada kekhawatiran yang menggantung di antara para ahli. FIFPRO memperingatkan bahwa pemain-pemain tidak bisa menopang "musim kompetitif ambang tinggi" tahun demi tahun tanpa akhirnya menderita cedera atau penurunan performa. CEO PFA Maheta Molango bahkan mengungkapkan kekhawatiran lebih jauh bahwa Piala Dunia ini tidak akan dimenangkan oleh "tim paling berbakat" melainkan akan berubah menjadi "keberlangsungan hidup yang paling kuat."

Molango juga mengangkat isu yang lebih dalam soal bagaimana beban pertandingan di usia muda berdampak pada umur panjang karier. "Cristiano tidak bermain 80 pertandingan saat muda, begitu pula Luka dan Edin. Kami melakukan studi tentang berapa banyak pertandingan yang dimainkan Jude Bellingham pada usia yang sama dengan David Beckham. Hasilnya empat kali lebih banyak. Kami melakukan hal yang sama dengan Vinícius Júnior dan Ronaldinho, hasilnya tiga kali lebih banyak," kata Molango.

Branquinho pun pesimistis bahwa fenomena ini akan mudah terulang. "Menjelang Piala Dunia 2030, saya tidak berpikir kita akan memiliki pemain lini tengah berusia di atas 40 tahun yang tampil di liga-liga top lima Eropa. Itu tidak mungkin. Mungkin di liga yang lebih lemah dan negara-negara tertentu, tapi untuk tim elite? Tidak," katanya.

 


Dzeko dan Mimpi Bosnia yang Belum Selesai

Ketika Bosnia-Herzegovina membuka kampanye mereka di Toronto melawan Kanada, Dzeko kemungkinan besar akan menjadi pemain lapangan berusia di atas 40 tahun kedua dalam sejarah Piala Dunia setelah Roger Milla. Sebuah pencapaian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan beberapa tahun lalu.

Bagi Dzeko, Piala Dunia ini bukan hanya tentang dirinya. Bosnia-Herzegovina ingin untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka melangkah ke babak gugur, sesuatu yang gagal mereka capai di Brasil 2014. "Saya sangat bahagia bisa memimpin tim ini sebagai kapten, generasi baru yang luar biasa ini, ke Piala Dunia dan masih banyak lagi yang akan datang," kata Dzeko kepada ESPN.

Setelah turnamen usai, Dzeko akan meluangkan waktu untuk merenung. Ia akan berbicara dengan Schalke soal rencana mereka kembali ke Bundesliga dan mendengarkan tubuhnya sendiri untuk melihat apakah masih ada satu musim lagi yang bisa ia persembahkan. Soal Piala Dunia 2030, ia hanya tertawa sebelum menjawab dengan tegas. "Pasti tidak. Tapi mencapai Piala Dunia ini adalah target besar saya, dan bermain di penghujung karier saya bersama tim nasional, dan juga bersama Schalke, adalah sesuatu yang istimewa."

Di Amerika Utara musim panas ini, Roger Milla akhirnya mendapat teman di klub eksklusif yang selama 32 tahun hanya ia isi seorang diri. Dan cara keempatnya hadir, dengan rasa sakit di pagi hari, latihan tanpa henti, dan cinta yang tidak pernah padam, adalah kisah yang jauh lebih indah dari sekadar angka di belakang nama mereka.

Sumber: ESPN

Berita Terkait