Kisah Edin Dzeko di Usia 40 Tahun: Sempat Diragukan, Kini Memimpin Bosnia ke Piala Dunia 2026

Edin Dzeko mengakui dirinya tidak pernah membayangkan masih bermain di level tertinggi pada usia 40 tahun. Namun, perhatian ekstra terhadap kondisi fisik menjadi kunci utama yang membuatnya mampu bertahan.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 09 Juni 2026, 19:15 WIB
Striker Timnas Bosnia-Herzegovina, Edin Dzeko, mengenakan jersey biru produksi Kelme di laga Kualifikasi Euro 2024. (ELVIS BARUKCIC / AFP)

Bola.com, Jakarta - Pada usia 40 tahun, banyak pesepak bola sudah lama gantung sepatu. Namun, Edin Dzeko justru bersiap memimpin Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026 sebagai kapten tim.

Penyerang veteran itu datang ke turnamen setelah membantu Schalke meraih gelar juara dan promosi ke Bundesliga, menambah satu babak istimewa dalam karier panjangnya.

Advertisement

Dzeko mengakui dirinya tidak pernah membayangkan masih bermain di level tertinggi pada usia 40 tahun. Namun, perhatian ekstra terhadap kondisi fisik menjadi kunci utama yang membuatnya mampu bertahan.

"Saya tidak pernah berpikir akan masih bermain pada usia 40 tahun."

Menurut Dzeko, perbedaan terbesar dibanding saat masih muda adalah disiplin dalam menjaga tubuh.

"Saya mendengarkan tubuh saya dan melakukan banyak pekerjaan sebelum dan sesudah latihan karena saya jelas bukan pemain muda lagi. Saya harus menjaga kaki dan tubuh saya, dan itulah yang saya lakukan."

Ia menjelaskan bahwa kini dirinya rutin datang lebih awal ke tempat latihan untuk melakukan latihan pencegahan cedera, lalu tetap bertahan setelah sesi utama berakhir.

"Saat masih muda, mungkin Anda berpikir tidak punya waktu untuk itu dan lebih memilih pergi minum kopi atau makan siang bersama teman. Ketika bertambah tua, Anda menyadari tubuh Anda membutuhkannya jika ingin tetap bersaing di level tertinggi dan bertahan lama di sepak bola."

 
 

Dari Gelandang yang Diremehkan Menjadi Legenda Bosnia

Pelatih Bosnia Herzegovina, Savo Milosevic (kanan) memberi instruksi kepada pemainnya, Edin Dzeko menjelang dimulainya babak kedua saat menghadapi Portugal pada laga lanjutan Grup J Kualifikasi Euro 2024 di Stadion Bellino Polje, Selasa (17/10/2023) dini hari WIB. (AFP/Elvis Barukcic)

Perjalanan Dzeko menuju puncak jauh dari kata mudah. Berbeda dengan pemain seperti Cristiano Ronaldo atau Luka Modric yang sudah dianggap talenta luar biasa sejak remaja, Dzeko justru sempat dipandang sebelah mata.

Saat masih bermain untuk klub Bosnia, Zeljo, ia hanyalah seorang gelandang muda yang kesulitan berkembang. Bahkan ketika dijual ke klub Republik Ceska, Teplice, pada 2005, ada pihak di klub yang merasa telah mendapatkan keuntungan besar dari transfer tersebut.

Namun, sekitar 450 gol kemudian, Dzeko menjelma menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Bosnia dengan 73 gol. Ia juga pernah menjadi juara Liga Inggris bersama Manchester City serta meraih gelar top scorer di Bundesliga dan Serie A


Schalke Jadi Titik Balik Kebangkitan

 

Musim ini sempat menjadi periode sulit bagi Dzeko. Bersama Fiorentina, ia menjalani 11 pertandingan liga tanpa mencetak gol dan mulai tersisih dari tim utama. "Saya tidak bahagia."

Dzeko mengakui performanya tidak lagi seperti biasanya, tetapi ia mampu mengatasi tekanan mental yang muncul.

"Ada banyak hal yang terjadi di kepala saya, tetapi satu hal yang bisa saya katakan tentang diri saya adalah saya selalu kuat secara mental. Saya tahu menjadi pesepak bola berarti menghadapi pasang surut."

Transfer ke Schalke 04 pada Januari lalu mengubah segalanya. Ia mendapatkan menit bermain yang lebih banyak dan langsung berkontribusi besar dalam perjalanan klub meraih gelar juara sekaligus promosi ke Bundesliga.

"Saya tidak mungkin membuat pilihan yang lebih baik. Semua yang terjadi bahkan lebih baik dari yang saya harapkan."

Dalam 11 pertandingan, Dzeko mencetak enam gol dan membuktikan naluri mencetak golnya belum hilang.


Mimpi Terakhir di Panggung Piala Dunia

Pemain Bosnia dan Herzegovina, Edin Dzeko, berusaha menenangkan pemain Italia, Bryan Cristante, setelah laga final play-off kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa di Stadion Bilino Polje, Zenica, Rabu 1 April 2026 dini hari WIB. (AP Photo/Armin Durgut)

 

Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi turnamen internasional terakhir dalam karier Dzeko. Ia pernah tampil dan mencetak gol di Piala Dunia 2014 di Brasil, tetapi Bosnia gagal melaju ke fase gugur.

"Pengalamannya luar biasa. Satu-satunya yang kurang adalah kami tidak lolos ke babak berikutnya."

Kini, 12 tahun kemudian, ia kembali ke panggung terbesar sepak bola bersama generasi baru Bosnia. Kelolosan mereka sendiri terbilang dramatis setelah berhasil melewati babak play-off dan menyingkirkan Italia melalui adu penalti.

Dzeko menyadari perannya sebagai pemain paling senior dalam skuad sangat penting. "Saya adalah pemain tertua, tentu saja. Anda selalu memiliki tanggung jawab besar."

Ia juga bangga menjadi kapten bagi generasi muda Bosnia yang menurutnya akan mendapatkan pengalaman yang mengubah hidup mereka.

"Saya senang menjadi kapten generasi hebat ini. Ini akan mengubah hidup mereka. Mungkin mereka belum menyadarinya sekarang, tetapi itu akan terjadi."

Meski usianya sudah menginjak 40 tahun dan Schalke telah menawarkan kontrak baru, Dzeko sadar kariernya tidak akan berlangsung selamanya. "Kadang ada akhir bagi kita semua. Mungkin akhir saya sudah dekat."

Namun, untuk saat ini, sang legenda Bosnia belum siap mengucapkan selamat tinggal. Piala Dunia 2026 menjadi panggung terakhir yang ingin ia nikmati sepenuhnya sebelum tirai karier akhirnya ditutup.

Sumber: Sky Sports

  

Berita Terkait