Gianni Infantino Buka Suara soal Polemik Visa ke Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: FIFA Bukan Penguasa Dunia

Presiden FIFA, Gianni Infantino, meminta semua pihak untuk tetap tenang menyikapi berbagai persoalan visa yang muncul menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026.

BolaCom | Rizki HidayatDiterbitkan 11 Juni 2026, 08:15 WIB
Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, meminta semua pihak untuk tetap tenang menyikapi berbagai persoalan visa yang muncul menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

Infantino memastikan FIFA terus berupaya mencari solusi, tetapi tidak memiliki kewenangan untuk mengatur kebijakan imigrasi suatu negara. Pernyataan tersebut disampaikan pria berusia 56 tahun tersebut dalam konferensi pers menjelang kick-off Piala Dunia 2026 di Mexico City, Rabu (10/6/2026) waktu setempat.

Advertisement

Dia menegaskan FIFA bukan lembaga yang bisa memerintah pemerintah atau aparat penegak hukum suatu negara. Untuk itu, dia meminta publik memberi ruang bagi proses penyelesaian yang sedang dilakukan di balik layar.

"Kami selalu berusaha mencari solusi. Namun, kami juga harus menghormati fakta kami bukan penguasa dunia yang bisa mengatur pemerintah, polisi, atau pihak berwenang lainnya. Kami adalah organisasi olahraga dan berusaha melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang kami miliki," kata Infantino.

 


Kasus Wasit Somalia Jadi Sorotan

Wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan (kanan), menunjukkan kartu kuning kepada bek Guinea #17, Julian Jeanvier (kedua dari kiri), selama pertandingan babak 16 besar Piala Afrika (CAN) 2024 antara Guinea Khatulistiwa dan Guinea di Stadion Alassane Ouattara di Ebimpe, Abidjan, pada 28 Januari 2024. (FRANCK FIFE/AFP)

Komentar tersebut muncul setelah mencuatnya kasus Omar Artan, wasit asal Somalia yang seharusnya mencatat sejarah sebagai pengadil pertama dari negaranya yang bertugas di Piala Dunia.

Artan masuk daftar resmi wasit FIFA untuk Piala Dunia 2026. Namun, impiannya tertunda setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat saat tiba di Bandara Internasional Miami dari Istanbul.

Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut penolakan itu berkaitan dengan dugaan hubungan Artan dengan individu yang dicurigai terkait organisasi teroris.

Infantino mengaku menyesalkan insiden tersebut, tetapi menegaskan FIFA tidak memiliki kendali penuh atas keputusan otoritas imigrasi.

"Apa yang terjadi pada Omar memang sangat disayangkan. Namun, kami tidak mengendalikan segalanya. Kami akan berdiskusi dan melihat kemungkinan solusi yang bisa ditemukan," ujarnya.

 


Jangan Emosional

(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Menariknya, Infantino sempat melontarkan pernyataan yang mengundang perhatian dengan meminta semua pihak untuk "bersantai" dalam menghadapi situasi tersebut. Menurutnya, reaksi yang terlalu emosional justru dapat memperumit upaya penyelesaian masalah.

"Terkadang, langsung berteriak dan meluapkan kemarahan justru memberikan efek sebaliknya dalam menemukan solusi. Kami terus bekerja untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada," tambahnya.

Belakangan, Infantino kembali diminta menjelaskan maksud pernyataannya soal "bersantai". Dia menegaskan yang dimaksud bukanlah membiarkan masalah begitu saja, melainkan memberikan kepercayaan kepada FIFA yang sedang bekerja di belakang layar.

 


FIFA Klaim Berhasil Atasi Masalah Timnas Iran

Pelatih kepala Timnas Iran, Amir Ghalenoei (C), berbicara kepada para pemainnya selama sesi latihan di markas mereka di Antalya, pada 19 Mei 2026. Timnas Iran tiba di Turki pada 19 Mei 2026 untuk kamp pelatihan dan menyelesaikan aplikasi visa menjelang Piala Dunia 2026, kata koresponden AFP. (Satu SAN/AFP)

Sebagai contoh, Infantino menyoroti keberhasilan FIFA membantu proses kehadiran Timnas Iran di Piala Dunia 2026 meski hubungan politik antara Iran dan Amerika Serikat masih diwarnai ketegangan.

"Saya tidak mengatakan kita harus diam dan tidak melakukan apa pun. Maksud saya adalah percaya bahwa kami sedang bekerja untuk memahami situasi dan mencari solusi terbaik," katanya.

"Fakta bahwa Iran bisa datang dan bermain di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kami terus berusaha menyelesaikan berbagai persoalan yang ada."

 


Tak Menyesal Pilih Amerika Serikat sebagai Tuan Rumah

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbincang sambil memegang replika tiket Piala Dunia berukuran besar bersama Presiden AS, Donald Trump, di Ruang Oval, sementara Wakil Presiden, JD Vance (ketiga dari kiri), mengamati pada 22 Agustus 2025 di Washington, DC. (Chip Somodevilla/Getty Images via AFP)

Meski sejumlah persoalan terkait visa terus bermunculan, termasuk relokasi markas latihan Timnas Iran ke Tijuana, Meksiko, serta kasus Omar Artan, Infantino menegaskan dirinya tidak menyesal menunjuk Amerika Serikat sebagai satu dari tiga tuan rumah Piala Dunia 2026.

Menurutnya, tantangan seperti itu merupakan bagian dari realitas penyelenggaraan ajang olahraga terbesar di dunia. Piala Dunia 2026 digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Selain persoalan visa, FIFA juga tengah menghadapi sorotan terkait harga tiket Piala Dunia 2026 yang dianggap terlalu mahal.

Saat ini terdapat sejumlah investigasi yang dilakukan otoritas hukum di California, New Jersey, New York, dan Texas mengenai kebijakan penjualan tiket turnamen tersebut.

Namun, Infantino mengaku tidak khawatir. "Kami sangat tenang menghadapi hal ini karena sebelum menjual tujuh juta tiket, kami sudah berkonsultasi dengan pengacara dan para ahli terbaik," ujarnya.

Pria asal Swiss itu menjelaskan dari sekitar 800 ribu tiket yang terjual untuk pertandingan di Los Angeles dan San Francisco, hanya ada empat pelanggan yang mengajukan keluhan. Menurut Gianni Infantino, seluruh persoalan tersebut bahkan sudah diselesaikan sebelum investigasi resmi dimulai.

 


Harga Tiket Jadi Perdebatan

FIFA sebelumnya menetapkan harga tiket mulai dari 140 dolar AS untuk pertandingan Piala Dunia 2026. Sementara itu, tiket kategori tertentu untuk partai final di New Jersey pada 19 Juli 2026 sempat mencapai 8.680 dolar AS.

Kebijakan tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan karena dinilai terlalu mahal bagi sebagian besar suporter.

Sebagai respons, FIFA kemudian menyediakan tiket khusus seharga 60 dolar AS melalui federasi sepak bola nasional untuk membantu para pendukung tim yang berlaga.

Infantino mengklaim rata-rata harga tiket turnamen berada di bawah 500 dolar AS dan masih sebanding dengan harga tiket pertandingan playoff berbagai kompetisi olahraga besar di Amerika Serikat.

Piala Dunia 2026 resmi dimulai pada Jumat (11/6/2026) dini hari WIB di Estadio Azteca, Mexico City, dengan laga pembuka yang mempertemukan Meksiko melawan Afrika Selatan.

Berita Terkait