Bola.com, Jakarta - Saat miliaran orang di seluruh dunia menikmati kemeriahan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, warga Palestina di Gaza menghadapi kenyataan yang sangat berbeda.
Di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, banyak warga Gaza lebih memikirkan kebutuhan dasar seperti listrik, internet, makanan, dan tempat tinggal daripada pesta sepak bola terbesar di dunia.
Bagi sebagian warga Gaza, turnamen ini juga memiliki dimensi politik yang kuat karena sebagian besar pertandingan berlangsung di Amerika Serikat, negara yang dianggap sebagai sekutu utama Israel.
Yousef al-Haddad, seorang mahasiswa yang mengungsi dari Kota Gaza, mengaku sulit memisahkan sepak bola dari situasi politik yang sedang berlangsung.
"Ketika kamera menampilkan stadion-stadion di Amerika Serikat, saya memikirkan betapa berbeda kenyataan hidup kami," ujarnya.
"Negara yang menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia adalah negara yang juga mendukung Israel sepanjang perang ini."
Ia menambahkan bahwa hubungan tersebut selalu muncul dalam percakapan sehari-hari.
"Kami melihat berita tentang bantuan militer untuk Israel, lalu berpindah saluran untuk menonton Piala Dunia 2026. Bagi banyak orang di Gaza, kedua gambaran itu akhirnya saling terhubung."
Pandangan serupa disampaikan Sameh Abu Jarad, warga Gaza utara yang juga mengungsi.
"Dunia sedang merayakan sepak bola sementara kami khawatir apakah besok masih memiliki cukup makanan," katanya.
"Ketika saya mendengar turnamen ini dimainkan di Amerika, saya teringat bahwa Amerika berdiri di belakang Israel selama perang. Itu membuat perayaan tersebut terasa sangat jauh dari realitas kami."
Kenangan Piala Dunia yang Kini Tinggal Puing-Puing
Sebelum perang, Piala Dunia merupakan bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Gaza. Jalan-jalan dipenuhi bendera Brasil, Argentina, Jerman, dan Spanyol.
Anak-anak mengenakan jersey tim favorit mereka, sementara warga berkumpul hingga dini hari untuk merayakan kemenangan atau memperdebatkan hasil pertandingan.
Kini, sebagian besar tempat yang dahulu menjadi pusat perayaan itu telah hancur.
Lingkungan yang pernah dipenuhi euforia sepak bola berubah menjadi puing akibat serangan militer. Suasana meriah yang menyertai Piala Dunia sebelumnya kini hanya hidup dalam ingatan.
Kazem Doghmosh dari Kota Gaza mengenang suasana Piala Dunia 2022 di Qatar.
"Setiap kali Argentina bermain, jalanan dipenuhi orang. Anak-anak mengenakan jersey Messi di mana-mana dan bendera menutupi seluruh bangunan," katanya.
Namun pemandangan itu kini telah berubah drastis.
"Ketika saya melihat daerah itu sekarang, saya hampir tidak mengenalinya. Jalan tempat kami merayakan kemenangan hampir sepenuhnya hancur."
Ia kemudian menambahkan:
"Dulu kami berdebat tentang sepak bola. Hari ini kami berdebat tentang pengungsian, bantuan kemanusiaan, dan kabar dari garis depan."
Kafe, Persahabatan, dan Tradisi yang Hilang karena Perang
Pengalaman menonton Piala Dunia di Gaza tidak hanya terjadi di jalanan. Kafe-kafe biasanya menjadi pusat berkumpulnya para suporter, terutama saat fase gugur dan pertandingan final.
Beberapa jam sebelum kick-off, warga akan berebut memesan tempat duduk. Banyak keluarga datang bersama, termasuk kelompok perempuan yang ikut menyaksikan pertandingan di layar besar.
Kini sebagian besar kafe itu telah hancur atau tutup akibat perang, pengungsian berulang, serta runtuhnya kondisi ekonomi.
Mahmoud al-Ashi, warga yang mengungsi dari Kota Gaza, mengenang masa-masa itu dengan perasaan campur aduk.
"Saya dulu menonton hampir setiap pertandingan bersama teman-teman di sebuah kafe dekat pantai Gaza. Kami berdebat tanpa henti tentang sepak bola lalu tertawa bersama setelahnya."Namun kafe tersebut kini tidak lagi berdiri.
Ia juga kehilangan salah satu sahabat terdekatnya akibat serangan udara.
"Salah satu teman terdekat saya yang selalu duduk di samping saya saat setiap turnamen berlangsung tewas dalam serangan udara Israel tahun lalu."Menurutnya, sepak bola kini memiliki makna yang berbeda.
"Setiap kali saya menonton pertandingan sekarang, saya teringat kepadanya. Sepak bola bukan lagi sekadar hiburan. Ia terhubung dengan orang-orang yang telah kami kehilangan untuk selamanya."
Sepak Bola sebagai Pelarian Singkat dari Kenyataan
Meski menghadapi berbagai kesulitan, warga Gaza tetap berusaha mengikuti Piala Dunia sebisa mungkin.
Di pusat-pusat pengungsian, kelompok anak muda berkumpul mengelilingi telepon genggam, televisi kecil, atau layar sederhana yang ditenagai baterai portabel ketika listrik tersedia.
Ahmed Saidam, yang tinggal di kamp pengungsi Al-Nuseirat, mengatakan akses untuk menonton pertandingan sangat tidak menentu.
"Kami tidak bisa menonton setiap pertandingan karena pemadaman listrik dan internet yang lemah. Namun, ketika ada kesempatan, kami menonton apa pun yang bisa kami saksikan. Selama beberapa menit kami melupakan semuanya. Lalu pertandingan berakhir dan kenyataan kembali datang."
Penulis sekaligus analis politik Mustafa Ibrahim menilai kondisi ini menggambarkan hubungan unik warga Gaza dengan Piala Dunia.
"Wajar jika orang ingin menikmati sepak bola, tetapi juga wajar jika mereka merasa dunia sedang berpesta sementara mereka terus menghadapi kematian, pengungsian, dan penderitaan."
Meski demikian, banyak warga tetap berusaha mempertahankan secercah kebahagiaan.
Abu Mohammed, seorang ayah lima anak dari Khan Younis, mengatakan sepak bola masih memberi harapan di tengah situasi sulit.
"Ketika saya melihat stadion-stadion yang penuh penonton, saya memikirkan anak-anak saya yang kehilangan tempat bermain dan teman-teman saya yang sudah tidak ada lagi."
Ia menutup dengan kalimat yang menggambarkan perasaan banyak warga Gaza saat ini.
"Itulah mengapa Piala Dunia terasa berbeda bagi kami. Tetapi kami tetap menontonnya karena kami membutuhkan sesuatu yang mengingatkan bahwa kehidupan masih terus berjalan," lanjutnya.
Sumber: New Arab