Dari NEC Nijmegen ke Sunderland dan Timnas Belanda di Piala Dunia 2026: Kisah Robin Roefs yang Bikin Ajax dan PSV Gigit Jari

Nama Robin Roefs menjadi satu di antara cerita menarik yang menghiasi Piala Dunia 2026. Kiper berusia 22 tahun itu berhasil menembus skuad Timnas Belanda setelah menjalani perjalanan karier yang terbilang luar biasa dalam beberapa musim terakhir.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 13 Juni 2026, 03:30 WIB
Kiper Sunderland, Robin Roefs.

Bola.com, Jakarta - Nama Robin Roefs menjadi satu di antara cerita menarik yang menghiasi Piala Dunia 2026. Kiper berusia 22 tahun itu berhasil menembus skuad Timnas Belanda setelah menjalani perjalanan karier yang terbilang luar biasa dalam beberapa musim terakhir.

Tidak banyak yang menyangka penjaga gawang kelahiran Heeswijk-Dinther tersebut bisa melesat begitu cepat. Dari akademi NEC Nijmegen, Roefs berkembang menjadi andalan di Eredivisie sebelum akhirnya mendapat kesempatan besar berkarier di Premier League bersama Sunderland.

Advertisement

Kepindahannya ke Sunderland sempat mengejutkan banyak pihak. Apalagi sejumlah klub besar Belanda seperti Ajax dan PSV Eindhoven dikabarkan mencari kiper baru pada periode yang sama. Namun, justru The Black Cats yang mengambil keputusan berani untuk merekrutnya.

Kepercayaan itu langsung dibayar lunas oleh Roefs. Penampilannya yang impresif di musim debut bersama Sunderland membuat namanya semakin diperhitungkan, hingga akhirnya mendapat panggilan untuk memperkuat Timnas Belanda di Piala Dunia 2026.

Perjalanan Roefs menuju level tertinggi sepak bola dunia tidak datang secara instan. Sejak kecil, ia telah menunjukkan karakter yang berbeda dibandingkan anak-anak seusianya.

 


Selalu Bersama Bola Sejak Kecil

Kiper Robin Roefs membuat sejumlah penyelamatan penting saat timnya bermain imbang 0-0 di Amex Stadium dalam duel Liga Inggris Brighton vs Sunderland pada akhir pekan ini.

Sang ibu mengenang bagaimana Roefs nyaris tidak pernah bisa diam ketika masih kecil. Hampir setiap waktunya dihabiskan bersama bola.

"Dia selalu sibuk melakukan sesuatu. Tidak bisa diam. Selalu bermain bola di luar rumah, bermain bola di dalam rumah. Dan dia selalu ingin menang," kenangnya.

Bahkan saat masih berusia sembilan tahun, Roefs sempat mengalami patah hidung ketika bermain dalam sebuah pertandingan di kampung halamannya. Keluarganya sempat khawatir insiden tersebut akan membuatnya berhenti menjadi penjaga gawang.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

"Saya sempat berpikir mungkin dia akan berhenti menjadi kiper. Tetapi dia benar-benar menyukai posisi itu. Jadi dia tetap melanjutkannya," ujarnya.

Bakat Roefs mulai terlihat ketika bergabung dengan akademi NEC Nijmegen. Meski awalnya hanya menjadi kiper kedua, tak butuh waktu lama hingga ia menjadi pilihan utama di setiap kelompok umur.

 


Sosok Tenang yang Mudah Berkembang

Kiper Robin Roefs jadi salah satu sosok penting yang membantu timnya mencuri satu poin saat bertamu ke Amex Stadium dalam duel Liga Inggris Brighton vs Sunderland pada akhir pekan ini.

Mantan pelatih akademi NEC, Wilfred Brookhuis, mengaku sulit memprediksi apakah seorang pemain muda akan menjadi bintang dunia. Namun, Roefs memiliki sejumlah kualitas yang membuatnya berbeda.

"Dia sangat tenang. Sangat sopan. Dia tahu apa yang ingin dia lakukan. Itu sangat penting," katanya.

Menurut sang pelatih, salah satu kekuatan terbesar Roefs adalah kemampuannya menerima arahan dan terus berkembang.

"Dia sangat mudah dilatih. Kami bisa berdiskusi dengannya, dan dia memikirkan masukan yang diberikan. Bersama-sama kami bisa membantunya berkembang," lanjutnya.

Karakter tenang itu sudah terlihat sejak Roefs masih berusia 15 tahun. Dengan postur tubuh menjulang, ia menjadi sosok yang mencolok di antara rekan-rekannya.

"Dia berbeda dari pemain lain. Dia memiliki sesuatu yang lebih," kata pelatih lain yang pernah memantaunya di akademi NEC.

 


Momen yang Mengubah Kariernya

Kiper Sunderland Robin Roefs.

Kesempatan besar Roefs datang saat NEC Nijmegen menghadapi Utrecht. Ketika itu ia harus masuk menggantikan kiper utama tanpa melakukan pemanasan yang memadai.

Namun, situasi sulit tersebut justru menjadi titik balik kariernya.

"Dia masuk tanpa pemanasan, tetapi berdiri di bawah mistar seperti kiper senior. Dia membuat beberapa penyelamatan luar biasa," ujar mantan staf pelatih NEC, Rogier Meijer.

Sejak laga itu, NEC semakin yakin bahwa Roefs memiliki kualitas untuk menjadi penjaga gawang utama dalam jangka panjang.

Keyakinan tersebut terbukti. Pada musim berikutnya, terutama di paruh kedua kompetisi, Roefs menjadi figur penting yang membantu NEC meraih sejumlah hasil krusial.

"Salah satu pertandingan yang paling saya ingat adalah saat melawan Utrecht di kandang lawan. Kami sangat membutuhkan poin dan Robin tampil luar biasa. Dia membuat penyelamatan penting pada menit-menit akhir," kata Rogier Meijer lagi.

 


Ajax dan PSV Lewatkan Kesempatan

Performa cemerlang Roefs sebenarnya sudah menarik perhatian klub-klub besar Belanda. Ajax dan PSV disebut-sebut tengah mencari penjaga gawang baru ketika namanya mulai mencuat.

Namun, kedua klub tersebut memilih tidak merekrutnya.

"Ajax mencari kiper. PSV juga mencari kiper. Tetapi mereka tidak yakin atau mungkin menganggap harganya terlalu mahal," ujar Brookhuis.

Sebaliknya, Sunderland berani mengambil risiko.

"Yang berani memilihnya justru Sunderland. Dan sekarang kita bisa melihat hasilnya."

Menurutnya, Ajax dan PSV kemungkinan besar menyesali keputusan tersebut setelah melihat perkembangan Roefs di Inggris.

"Dia menunjukkan di Premier League bahwa dirinya adalah penjaga gawang top."

 


Sunderland Jadi Batu Loncatan ke Timnas Belanda

Meski transfer ke Sunderland sempat mengejutkan banyak orang, kepindahan itu ternyata menjadi langkah yang tepat bagi Roefs.

Lingkungan klub yang hangat membuat proses adaptasinya berjalan mulus. Bahkan keluarganya merasakan suasana yang mirip dengan NEC Nijmegen.

"Dia langsung menyukai klub ini sejak awal. Orang-orangnya ramah. Semua orang ingin membantu. Rasanya seperti keluarga," ujar sang ibu.

Roefs juga mendapatkan dukungan besar dari para pemain senior dan staf pelatih sehingga mampu berkembang dengan cepat di sepak bola Inggris.

Puncaknya, penampilan konsisten bersama Sunderland membawanya masuk ke skuad Timnas Belanda untuk Piala Dunia 2026.

"Dia tipe penjaga gawang yang cocok dengan Premier League. Setelah menunjukkan kualitasnya di sana, dia akhirnya menjadi bagian dari tim nasional," kata mantan pelatihnya.

"Saya tidak menyangka semuanya terjadi secepat ini. Tetapi untuk masa depan, saya memang percaya dia akan sampai ke level tersebut."

Berita Terkait