Tiga Kali Tersungkur di Final, Misi Berat Ronald Koeman Menyudahi Kutukan Belanda di Piala Dunia 2026

Sejak Piala Dunia digulirkan pertama kali pada 1930, Belanda sama sekali belum pernah juara.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 19 Juni 2026, 17:30 WIB
Crysencio Summerville #24 dari Timnas Belanda minum saat istirahat minum (hydration break) dalam pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Jepang di Stadion Dallas pada 15 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Michael Steele/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 masih panjang, namun perjalanan sudah terasa berat bagi Belanda. Hasil 2-2 melawan Jepang di laga pertama Grup F pekan lalu membuat banyak orang bertanya-tanya tentang misi besar Belanda untuk menjadi yang terbaik di panggung terakbar empat tahunan edisi ke-26.

Belanda merupakan salah satu kekuatan Eropa, juga dunia. Mereka punya banyak talenta-talenta berbakat yang bermain hampir di semua liga-liga top Benua Biru.

Advertisement

Hanya saja, sejak Piala Dunia digulirkan pertama kali pada 1930, Belanda sama sekali belum pernah juara.

Pada 1974, saat Piala Dunia digelar di Jerman Barat, De Oranje tak hanya datang dengan materi pemain terbaik, tapi juga sebuah skema permainan yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu Total Football.

Total football bukan sekadar ritme permainan yang menggerakkan lini per lini. Ia lebih dari itu, di mana setiap pemain bisa bergerak ke mana saja dan menjadi apa saja.

Sang penemu adalah Rinus Michels, yang saat itu dipercaya sebagai pelatih. Dimotori Johan Cruyff, total football membawa Belanda sampai ke final dan bersua tuan rumah Jerman Barat.

Sayang, Belanda kalah 1-2, padahal sempat unggul lewat gol kilat Johan Neeskens saat laga yang berlangsung di Stadion Olimpiade, Munichh, 7 Juni 1974, baru berjalan dua menit. 

Dua gol balasan Jerman Barat via Paul Breitner dan Gerd Müller pada menit-menit selanjutnya menguburkan mimpi besar Belanda untuk menggengam dunia.

 


Kenangan Buruk Piala Dunia 2010

Cesc Fabregas. Eks gelandang tengah Spanyol yang kini masih bermain bersama Como ini tercatat pernah berseragam Arsenal selama 8 musim mulai 2003/2004 hingga 2010/2011. Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, ia menjadi bagian dalam skuad Tim Matador meraih gelar juara usai mengalahkan Belanda 1-0 lewat perpanjangan waktu di partai final. Ia berjasa menyumbang assist untuk gol kemenangan yang dicetak Andres Iniesta dalam laga final tersebut. (AFP/Javier Soriano)

Empat tahun setelah kegagalan yang menyakitkan itu, Belanda kembali sampai ke final, tapi kali ini minus Rinus Michels dan Johan Cruyff.

Untuk kali kedua secara beruntun, Het Oranje Legioen juga tersungkur. Tim asuhan Ernst Happel menyerah 1-3 dari tuan rumah Argentina.

Sejak dua kegagalan di partai puncak itu, Belanda harus menunggu lama untuk kembali hadir di partai pamungkas, yakni edisi 2010 di Afrika Selatan.

Ribuan pendukung Belanda tumpah ruah di Stadion Soccer City, Johannesburg, 11 Juli 2010. Mereka yakin, tim kesayangan bisa mengalahkan Spanyol. Tak sedikit pun keraguan.

Wajar, ketika itu pasukan Bert van Marwijk dijejali amunisi kelas wahid seperti Wesley Sneijder, Giovanni van Bronckhorst, Nigel de Jong, Dirk Kuyt, dan tentu saja Robin van Persie.

Namun, rupanya nasib baik masih saja enggan berpihak. Belanda, yang sebelum laga lebih dijagokan, justru kalah 0-1. Gol Andrés Iniesta pada menit ke-116 kembali menguak luka lama Belanda sekian tahun sebelumnya. Spanyol berpesta di atas perihnya nestapa Belanda.

Bagaimana di Piala Dunia 2026? Akankah Belanda bisa melaju ke final dan menyudahi kutukan turunan? Entahlah.

 


Utang Sejarah yang Harus Dibayar Lunas

Ronald Koeman dikenal sebagai pencetak gol kemenangan Barcelona di final Piala Eropa melawan Sampdoria di Wembley pada 1992. Ia kembali ke Barca pada 2020 sebagai pelatih. Ia didepak dari Camp Nou usai gagal mendongkrak performa Barcelona. (AFP/Gabriel Bouys)

Yang pasti, setelah bermain imbang kontra Jepang, Ronald Koeman kini tengah berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan Swedia, lawan yang akan dihadapi pada Minggu (21/6/2026).

Swedia jelas bukan tim yang mudah ditaklukkan. Pada laga pertama versus Tunisia, mereka tampil digdaya dengan kemenangan telak 5-1. Belanda harus ekstra waspada.

Ronald Koeman pastinya sadar betul, ia punya utang sejarah yang harus segera ia bayar lunas. Tiga kegagalan di final bukanlah beban enteng bagi negara dengan tradisi sepak bola hebat sekelas Belanda.

Ronald Koeman bukan orang sembarangan. Pria yang kini berusia 66 tahun bukan hanya bergelimang gelar di level klub, termasuk saat di Ajax, PSV, dan Barcvelona, tapi juga sosok penting di balik kesuksesan Belanda menjadi yang terbaik di ajang Euro 1988.

Ketika kembali dipercaya menukangi Belanda pada Januari 2023, Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) yakin Ronald Koeman bisa menyudahi penantian panjang Belanda tak pernah memenangkan gelar paling bergengsi besutan FIFA.

Dan Ronald Koeman, kepada Marca, meresponsnya dengan nada optimistis. "Saya harus menunjukkan bahwa saya bisa menjadi pelatih sukses yang berhasil dalam turnamen besar," kata Ronald Koeman.

Berita Terkait