5 Pesepak Bola yang Tampil Lebih Gacor untuk Negara daripada di Klub: Kisah Heroik Duo Jerman Penakluk Dunia

5 Pesepak Bola yang Tampil Lebih Baik untuk Negara Daripada Klub: Kisah Heroik Duo Jerman Penakluk Dunia, Miroslav Klose - Lukas Podolski

BolaCom | Choki SihotangDiterbitkan 22 Juni 2026, 12:00 WIB
Striker Jerman Miroslav Klose (kanan) merayakan golnya ke gawang Australia dengan rekannya Lukas Podolski di babak penyisihan Grup D di Moses Mabhida Stadium, Durban, 13 Juni 2010. Jerman unggul 4-0. AFP PHOTO / JAVIER SORIANO

Bola.com, Jakarta - Semua pesepak bola pastinya ingin seperti Lionel Messi. Sukses di klub, sukses pula bersama tim nasional.

Messi, dalam kariernya yang panjang membentang, setidaknya sudah memperkuat tiga klub. Sebelum bergabung dengan Inter Miami dan Paris Saint-Germain (PSG), Messi merupakan superstar Barcelona.

Advertisement

Bareng raksasa Spanyol itu, La Pulga sudah memenangkan semua gelar. Baik di kompetisi domestik maupun zona Eropa.

Dalam balutan jersey kebesaran Timnas Inggris, veteran yang kini berusia 38 tahun menorehkan sejarah terbesarnya, yakni memenangkan Piala Dunia 2022.

Atas semua sabetan tersebut, wajar kalau Messi diganjar delapan Ballon d'Or, terbanyak dari pemain mana pun.

Kini, di Piala Dunia 2026, Messi kembali berpeluang membawa La Albiceleste menjadi yang terkuat di pentas terakbar empat tahunan edisi ke-26.

Tapi rupanya tak semua seberuntung Messi. Cristiano Ronaldo misalnya. Kendati bergelimang titel di level klub, mantan penyerang Real Madrid dan Manchester United sejauh ini belum pernah menggondol gelar juara Piala Dunia bersama Portugal.

Piala Dunia 2026 pun menjadi momen terakhir bagi pemilik lima Ballon d'Or untuk mengakhir penantian panjang, disaat usianya yang telah menggapai 41 tahun.

Selain Messi juga Ronaldo, ada pula pesepakbola yang tampil oke bersama timnas namun agak memble selama bermain untuk klub.

Masih ingat Xherdan Shaqiri? Tukang gempur 34 tahun itu sebenarnya punya karier yang cukup sukses di FC Basel, Bayern Munich, dan Liverpool. Akan tetapi ia bukanlah pemain inti alias lapis kedua.

Sebaliknya, di Timnas Swiss, Shaqiri andalan sekaligus tumpuan. Di Piala Dunia 2014 saat bersua Honduras, ia mencetak trigol.

Tak hanya di edisi 2014, Swiss juga sangat bergantung penuh kepada Shaqiri saat Piala Dunia 2018 dan 2022. Pun begitu di Euro 2016, 2020, dan 2024.

Tak hanya Shaqiri, sederet pemain juga bernasib serupa. Dilansir Givemesport, dengan mengacu pada perbedaan performa untuk negara dibandingkan dengan klub, kualitas keseluruhan, konsistensi, serta trofi/penghargaan yang dimenangkan di panggung internasional, berikut lima di antaranya:


Ali Daei

Ali Daei. Striker Timnas Iran yang pensiun pada 2007 ini mengoleksi 8 hattrick dari total 109 gol dalam 149 laga internasional. Hattrick pertamanya dibuat saat ia mencetak 3 gol ke gawang Maladewa pada laga Kualifikasi Piala Asia, 31 Maret 2000 yang berkesudahan 8-0. (AFP/Goh Chai Hin)

Ali Daei adalah legenda Iran yang mencetak 109 gol untuk tim nasional antara 1992 hingga 2006, menjadikannya pemegang rekor pencetak gol internasional sebelum akhirnya dilewati Cristiano Ronaldo.

Karier klubnya cukup kuat di Asia, namun saat pindah ke Jerman pada 1997 bersama Arminia Bielefeld dan kemudian Bayern Munich, ia kesulitan bersinar di level Eropa. Setelah bermain di UEA pada 2002, Daei tidak lagi kembali tampil menonjol di Eropa, meski performanya di level internasional tetap luar biasa.


Breel Embolo

Gelandang Inggris Declan Rice berebut bola dengan Breel Embolo dari Swiss pada laga perempat final Euro 2024 yang berlangsung di Dusseldorf Arena (AP)

Bintang Swiss lainnya, Breel Embolo, tampaknya selalu kembali dari masa hibernasi tepat pada waktunya untuk setiap turnamen internasional.

Pada tahun 2016, ia berada di peringkat kedua dari 50 pemain muda paling berbakat di dunia, tetapi cedera telah mencegahnya untuk tampil konsisten di level klub.

Periode bermain di Basel, Schalke 04, Borussia Monchengladbach, dan Monaco telah menghasilkan hasil yang beragam, tetapi ia selalu terlihat jauh lebih percaya diri saat mengenakan seragam merah negaranya.

Setelah mencetak gol dari titik penalti melawan Qatar di Piala Dunia 2026, ia kini telah mencetak gol atau memberikan assist untuk negaranya dalam lima turnamen internasional besar terakhir, sejak Rusia 2018.


Lukas Podolski

Lukas Podolski. Satu lagi pemain Jerman yang mampu merebut gelar juara Piala Dunia 2014 saat berseragam Arsenal adalah Lukas Podolski. Dibandingkan dengan Per Mertesacker dan Mesut Oezil, ia menjadi yang tersingkat memperkuat Arsenal, yaitu hanya 2,5 musim saja mulai 2012/2013 hingga pertengahan 2014/2015. Pada Piala Dunia 2014 ia hanya tampil 2 kali di fase grup, sementara mulai babak 16 besar hingga final ia sama sekali tak diturunkan dan hanya duduk di bangku cadangan. (AFP/Fabrice Coffrini)

Lukas Podolski dikenal memiliki kaki kiri yang sangat berbahaya dan tampil luar biasa saat membela Timnas Jerman, dengan catatan sebagai pemain ketiga dengan caps dan gol terbanyak untuk Die Mannschaft serta bagian dari skuad juara Piala Dunia 2014.

Namun, di level klub ia tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi besar yang melekat padanya. Setelah kesulitan menembus tim utama Bayern Munich di awal kariernya, masa paling menonjolnya justru terjadi di Arsenal (2012–2015), di mana ia cukup disukai, meski tidak pernah benar-benar mencapai level bintang dunia seperti di tim nasional.


Anders Svensson

Bek Chile, Angelo Sagal (kiri) berusaha membawa bola dari kawalan gelandang Swedia, Gustav Svensson saat bertanding pada pertandingan persahabatan internasional Friends di Arena, Stockholm, (24/3). Chile menang 2-1 atas Swedia. (Anders Wiklund/TT via AP)

Banyak yang mengira Zlatan Ibrahimovic adalah pemain dengan caps terbanyak untuk Swedia, padahal rekor itu dipegang Anders Svensson dengan 148 penampilan, termasuk beberapa kali menjadi kapten tim nasional. Ia bahkan masuk daftar 10 besar pemain Eropa dengan caps internasional terbanyak, yang sering membuat orang menganggapnya juga sukses besar di level klub.

Namun kenyataannya tidak demikian. Selain periode yang biasa saja bersama Southampton pada 2001–2005, Svensson hampir seluruh karier klubnya dihabiskan bersama IF Elfsborg di Swedia, sehingga pencapaiannya di level internasional jauh lebih menonjol dibanding karier klubnya.


Miroslav Klose

Sepanjang sejarah Piala Dunia, tercatat beberapa pemain berusia tua telah merasakan meraih trofi Piala Dunia. Dengan usia tak lagi muda mereka dapat membuktikan penampilan terbaiknya bersama timnas yang dibelanya. Berikut daftar 5 pemain tertua yang berhasil mengangkat trofi Piala Dunia sepanjang sejarah. (AFP/Nelson Almeida)

Miroslav Klose dikenal sebagai salah satu penyerang paling konsisten di level internasional, termasuk sebagai pemain yang mencetak gol di empat edisi Piala Dunia dan menjadi top skor sepanjang masa Jerman dengan 71 gol tanpa pernah kalah dalam pertandingan di mana ia mencetak gol. Ia juga memegang rekor gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia serta meraih lengkap medali perunggu, perak, dan emas bersama tim nasional.

Namun di level klub, Klose tidak mencapai status yang sama. Ia memang cukup produktif, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bintang utama dan hanya tampil standar bersama klub seperti Lazio di masa puncaknya.

Sumber: Givemesport

Berita Terkait