Thomas Tuchel Tunjukkan Mengapa Hydration Break Buruk buat Sepak Bola

Thomas Tuchel mengomentari kebijakan FIFA soal hydration break di Piala Dunia 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Juni 2026, 18:46 WIB
Pelatih kepala Inggris, Thomas Tuchel, bereaksi di pinggir lapangan selama pertandingan Grup L Piala Dunia antara Inggris dan Kroasia di Arlington, Texas, dekat Dallas, Kamis, 18 Juni 2026. (AP Photo/Tony Gutierrez)

Bola.com, Jakarta - Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, menilai kebijakan jeda minum atau hydration break di Piala Dunia 2026 telah menghilangkan satu di antara karakteristik sepak bola.

FIFA menerapkan jeda selama tiga menit di pertengahan masing-masing babak untuk membantu tim menghadapi cuaca panas.

Advertisement

Namun, aturan tersebut mendapat kritik dari sejumlah pemain dan suporter sepanjang 10 hari pertama turnamen.

Hydration break juga diterapkan pada pertandingan yang tidak menghadapi masalah suhu tinggi.

Aturan itu kembali akan diberlakukan saat Inggris menghadapi Ghana di Boston pada Rabu (24-6-2026) dini hari WIB, meski pertandingan diperkirakan berlangsung di tengah hujan deras.


Buruk buat Sepak Bola

Crysencio Summerville #24 dari Timnas Belanda minum saat istirahat minum (hydration break) dalam pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Jepang di Stadion Dallas pada 15 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Michael Steele/Getty Images via AFP)

Tuchel mengakui dirinya menyukai kesempatan untuk memberikan instruksi kepada para pemain saat jeda berlangsung.

Namun, secara keseluruhan, ia memiliki pandangan negatif terhadap kebijakan tersebut.

"Saya pikir itu mengganggu dan mengubah identitas pertandingan sepak bola lebih besar daripada yang saya bayangkan," kata Tuchel.

"Tentu saja saya pernah mengalami hydration break sebelumnya ketika cuaca benar-benar panas dan memang dibutuhkan, tetapi durasinya lebih singkat."

"Dulu hanya terjadi di beberapa pertandingan. Sekarang menjadi bagian dari prinsip keadilan untuk semua tim. Akibatnya, pertandingan seolah terbagi menjadi empat bagian dan karakter pertandingan berubah lebih besar daripada yang saya kira," ujar pelatih asal Jerman itu.


Momentum Pertandingan Berubah

Para pemain Spanyol minum saat istirahat minum dalam pertandingan Grup H Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Cabo Verde di Stadion Atlanta pada 16 Juni 2026 di Atlanta, Georgia. (Buda Mendes/Getty Images via AFP)

Kendati mengakui adanya keuntungan bagi pelatih, Tuchel mengaku lebih menyukai pertandingan yang berlangsung tanpa interupsi.

"Saya menyukainya sebagai pelatih karena bisa memberi pengaruh dan mengumpulkan tim saya. Namun, secara keseluruhan, saya lebih menyukai sepak bola yang dimainkan terus menerus dalam satu babak," ucapnya.

"Pertandingan membangun momentum, dan itu bagian dari permainan. Membangun momentum sulit, mempertahankannya juga sulit. Itulah pertarungan yang terjadi di lapangan antarpemain dalam rentang waktu yang panjang."

"Itu menambah karakteristik sepak bola yang indah. Dengan adanya jeda ini, sebagian karakteristik tersebut justru hilang. Tetapi, dari sisi keadilan, tentu masuk akal jika semua tim mendapat perlakuan yang sama," ujarnya.


Tetap Akan Dimanfaatkan

Thomas Tuchel, Pelatih Timnas Inggris, saat jeda pertandingan persahabatan internasional antara Inggris dan Selandia Baru di Stadion Raymond James pada 6 Juni 2026 di Tampa, Florida. (Richard Pelham/Getty Images via AFP)

Prakiraan cuaca menunjukkan hujan lebat akan mengguyur Boston pada Rabu waktu setempat. Dalam kondisi tersebut, jeda minum kemungkinan tidak dibutuhkan untuk membantu pemain melakukan rehidrasi.

Meski begitu, Tuchel tetap berencana memanfaatkan waktu tersebut.

"Kami tentu akan mencoba menggunakannya. Kami sudah memiliki rencana, tetapi tidak terlalu banyak," ungkapnya.

"Saya tidak ingin membatasi diri dalam merespons kebutuhan pertandingan. Saya ingin menggunakan intuisi, pengalaman, dan melihat apa yang benar-benar terjadi."

"Saya selalu ingin bisa bereaksi terhadap apa yang berlangsung di lapangan," ujar Tuchel.

 

Sumber: DPA


Berita Terkait