Bola.com, Jakarta - Sebuah pemandangan unik tersaji di sebuah bar yang ramai di Shanghai saat para penggemar sepak bola di China bersorak ketika Jepang berhasil menumbangkan Tunisia di laga Grup F Piala Dunia 2026.
Fenomena ini memang terhitung cukup ganjil mengingat China bukanlah tempat yang wajar bagi berkembangnya basis penggemar Jepang. Sebab, kedua negara ini terlibat permusuhan yang memiliki akar historis.
Belakangan ini, hubungan keduanya juga makin tegang sejak Sanae Takaichi, yang dikenal berhaluan keras dari Partai Demokrat Liberal (LDP), mulai menjabat sebagai perdana menteri Jepang tahun lalu.
Namun, bagi puluhan suporter China yang mengenakan jersey biru di bar tersebut, mata mereka tetap terpaku pada setiap aksi pemain Jepang di layar raksasa. Cinta mereka terhadap Samurai Biru ternyata lebih personal dan terpisah dari realitas politik antarkedua negara.
Berkat Captain Tsubasa
Fan, selaku koordinator utama kelompok tersebut, ogah menyinggung soal ketegangan politik negaranya dengan Jepang. Menurutnya, generasinya memiliki ikatan spesial dengan Samurai Biru karena serial televisi Captain Tsubasa.
"Bagi generasi kami, generasi 90-an, sebagian besar dari kami tumbuh besar dengan menonton banyak anime Jepang, termasuk Captain Tsubasa. Lebih penting lagi karena kita sama-sama bagian dari Asia, bisa dibilang Jepang saat ini mewakili kebanggaan dan kejayaan sepak bola Asia," kata Fan.
Di dunia sepak bola, kiprah China memang sangat jauh dibandingkan Jepang. Dragon Team baru sekali tampil di Piala Dunia, yakni pada edisi 2002. Ketika itu, mereka selalu kalah dari tiga laga fase grup tanpa mencetak satu gol pun.
Mereka saat ini juga masih berada di peringkat 91 dalam peringkat dunia FIFA, sedangkan Samurai Biru menjadi tim Asia dengan posisi teratas karena saat ini menduduki peringkat 16 FIFA.
"China masih berjuang, saya tidak tahu apakah berada di jalur yang benar. Sepak bola China sekarang menjadi makin tertutup dan tidak sepeduli dulu," kata Jasper Sun, anggota kelompok penggemar Jepang lainnya.
Relatif Berpikiran Terbuka
Saat peluit akhir berbunyi, kelompok tersebut membentangkan bendera tim Jepang yang sangat besar dan berpose di depan bar, melompat-lompat, serta bersorak kegirangan.
Ketika ditanya apakah mereka pernah menghadapi permusuhan dari warga China lainnya, baik Fan maupun Sun mengabaikannya.
"Pasti akan ada orang-orang seperti itu, tetapi secara pribadi, saya tidak terlalu memperhatikan hal-hal semacam itu," kata Fan.
Sun mengatakan, dia bisa memahami mengapa suporter di wilayah lain mungkin merasa khawatir, tetapi di Shanghai masyarakatnya relatif berpikiran terbuka dan inklusif.
Ketika dia bepergian, misalnya untuk menonton pertandingan Jepang melawan China di Xiamen pada 2024, dia mengaku tidak menemui masalah.
"Sejujurnya, tidak ada banyak konflik antara penggemar China dan Jepang. Saat itu, kami semua naik bus bersama," ujarnya.
Jembatan Persahabatan
Seorang mahasiswa China bernama Julie Wang mengatakan bahwa komentar-komentar yang dia lihat di internet memang membuatnya tidak berani mengekspresikan dukungannya untuk Jepang secara terbuka.
"Saya memperhatikan beberapa orang berargumen bahwa mendukung tim Jepang saat ini adalah tindakan yang tidak patriotik," katanya.
Hubungan kedua negara memang renggang, terutama sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi mengisyaratkan bahwa Tokyo mungkin akan melakukan intervensi militer jika Beijing menginvasi Taiwan yang berpemerintahan mandiri.
"Sejujurnya, terutama sekarang saat hubungan sedang lebih tegang, saya merasa orang-orang seperti kami justru lebih perlu untuk berdiri tegak. Cita-cita tertinggi saya, impian terbesar saya, adalah membantu membangun jembatan persahabatan antara kedua negara kami," kata Fan.
Meski menerima banyak cacian, dia tetap percaya bahwa sepak bola dapat meruntuhkan sekat-sekat pembatas.
"Dunia saat ini begitu kacau, sepak bola bisa menyingkirkan identitas politik serta kewarganegaraan, dan murni menjadi sumber kegembiraan," ujarnya.
Sumber: AFP via Japan Today
Jangan Lewatkan Laporan Eksklusif dari AS