Petisi Pecat Hong Myung-bo Muncul usai Korea Selatan Melempem di Piala Dunia 2026

Hong Myung-bo jadi sasaran kemarahan suporter Timnas Korea Selatan. Petisi pemecatan sang pelatih resmi diajukan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 26 Juni 2026, 16:15 WIB
Pelatih kepala Korea Selatan, Hong Myung-bo, berbicara kepada para pemainnya selama jeda minum dalam pertandingan Grup A Piala Dunia 2026 antara Afrika Selatan dan Korea Selatan di Stadion Monterrey di Guadalupe, Meksiko, pada 25 Juni 2026. (Yuri Cortez/AFP)

Bola.com, Jakarta - Kekalahan Timnas Korea Selatan dari Afrika Selatan pada laga terakhir Grup A Piala Dunia 2026 berbuntut panjang.

Desakan agar pelatih Hong Myung-bo segera diberhentikan mulai bermunculan, bahkan diwujudkan dalam bentuk petisi resmi yang diajukan ke Majelis Nasional Korea Selatan.

Advertisement

Petisi itu muncul hanya beberapa jam setelah Korea Selatan kalah 0-1 dari Afrika Selatan, Kamis kemarin WIB. Hasil tersebut membuat Taeguk Warriors gagal mengamankan tiket otomatis ke babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Selain menuntut pencopotan Hong Myung-bo, petisi tersebut juga meminta adanya aturan baru yang dapat membatalkan penunjukan pelatih apabila dilakukan tanpa mengikuti prosedur resmi.

Petisi yang diunggah di situs petisi publik Majelis Nasional Korea Selatan pada Kamis itu diajukan oleh seorang warga bermarga Jeon.

Dalam petisi tersebut, Jeon menilai penunjukan Hong Myung-bo sejak awal telah diwarnai berbagai persoalan prosedural.

"Penunjukan Hong diselimuti banyak dugaan pelanggaran dan cacat prosedur. Proses seleksi resmi Federasi Sepak Bola Korea (KFA) pada praktiknya diabaikan sehingga sulit menghindari kritik bahwa penunjukan itu sejak awal tidak sah," tulis Jeon.


Penampilan Timnas Korea Selatan Jadi Sorotan

Gelandang Timnas Korea Selatan, Park Jin-seob, bersama rekan-rekannya bereaksi setelah kalah dalam pertandingan Grup A Piala Dunia 2026 antara Afrika Selatan melawan Korea Selatan di Monterrey Stadium, Guadalupe, Meksiko, pada 24 Juni 2026. (Yuri CORTEZ / AFP)

Petisi itu juga menyoroti performa Timnas Korea Selatan sepanjang Piala Dunia 2026. Menurut Jeon, Hong Myung-bo gagal memaksimalkan skuad yang dinilai sebagai satu di antara generasi terbaik yang pernah dimiliki Korea Selatan.

Korea Selatan mengakhiri fase grup dengan satu kemenangan dan dua kekalahan sehingga finis di peringkat ketiga Grup A.

Jeon bahkan menyebut penampilan Korea Selatan saat kalah dari Afrika Selatan sebagai satu di antara yang terburuk dalam sejarah penampilan Taeguk Warriors di Piala Dunia.

"Meski diperkuat skuad yang dianggap sebagai yang terkuat dalam sejarah Piala Dunia Korea, tim hanya meraih satu kemenangan dan dua kekalahan hingga finis di posisi ketiga grup. Penampilan melawan Afrika Selatan begitu tidak bernyawa sehingga bisa dianggap sebagai salah satu performa terburuk Korea di Piala Dunia," tulis Jeon.

Jeon juga berpendapat para pemain gagal menunjukkan potensi terbaiknya karena ditangani pelatih yang penunjukannya dinilai bermasalah.


Desak Reformasi KFA

Para pemain Korea Selatan mengikuti sesi latihan di Chivas Verde Valle di Guadalajara, Meksiko, pada 15 Juni 2026, selama turnamen Piala Dunia 2026. (Ulises Ruiz/AFP)

Tak hanya meminta Hong Myung-bo dicopot, petisi itu mendesak reformasi menyeluruh terhadap tata kelola KFA.

Satu di antara usul yang diajukan adalah pemberlakuan aturan yang secara otomatis membatalkan penunjukan pelatih apabila terbukti melanggar prosedur resmi. Selain itu, petisi meminta pengawasan administrasi KFA diperketat melalui kewenangan anggaran yang dimiliki Majelis Nasional.

Petisi tersebut juga mengusulkan larangan penunjukan pelatih melalui kesepakatan informal atau yang telah diatur sebelumnya. Pelanggaran terhadap aturan itu diminta dikenai sanksi tegas.

"Penunjukan pelatih kepala secara sepihak dengan mengabaikan badan resmi seperti Komite Penguatan Tim Nasional harus dilarang keras. Satu-satunya cara mencegah privatisasi federasi adalah melalui kekuatan sistem kelembagaan," tulis Jeon.


Lolos Tahap Verifikasi Awal

Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo. (Jung Yeon-je / AFP)

Petisi itu dengan cepat memperoleh 100 dukungan, jumlah minimum yang dibutuhkan agar dapat menjalani tahap verifikasi awal oleh Majelis Nasional Korea Selatan.

Saat ini, Majelis Nasional masih mempertimbangkan apakah petisi tersebut akan dipublikasikan. Jika disetujui, pengumpulan tanda tangan akan kembali dibuka.

Apabila berhasil mengumpulkan sedikitnya 50 ribu tanda tangan dalam waktu 30 hari setelah dipublikasikan, petisi itu akan diteruskan kepada komite tetap terkait untuk ditinjau lebih lanjut.

 

Sumber: The Korea Times


Berita Terkait