FIFA Tetap Jadikan Iran vs Mesir di Piala Dunia 2026 Sebagai Pride Match, Tuai Kontroversi

Iran vs Mesir di Piala Dunia 2026 jadi Pride Match, FIFA dikecam karena dinilai abaikan sensitivitas.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 26 Juni 2026, 18:15 WIB
Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - FIFA tetap melanjutkan rencana menjadikan laga Iran kontra Mesir sebagai Pride Match pada Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut memicu sorotan karena mempertemukan dua negara yang memiliki aturan ketat terhadap hubungan sesama jenis.

Pertandingan Iran melawan Mesir akan berlangsung di Seattle pada Sabtu (27-6-2026) pagi WIB. 

Advertisement

FIFA memilih laga itu sebagai Pride Match karena bertepatan dengan perayaan tahunan komunitas LGBTQ+ di Seattle yang diperkirakan dihadiri sekitar 200 ribu orang di kawasan sekitar Lumen Field.

Namun, sejak diumumkan pada Desember 2025, keputusan itu menuai kritik. Sejumlah pihak mempertanyakan penunjukan laga tersebut mengingat hubungan sesama jenis masih dikriminalisasi di Iran maupun Mesir.

Di Iran, homoseksualitas dapat dijatuhi hukuman mati. Sementara itu, berbagai kelompok hak asasi manusia berulang kali melaporkan adanya penangkapan dan tindakan represif terhadap komunitas LGBTQ+ di Mesir.


FIFA Tetap Jalankan Rencana

Logo FIFA terlihat di dalam stadion setelah pertandingan Final Piala Dunia Antarklub 2025 antara Chelsea dan Paris Saint-Germain di Stadion MetLife pada 13 Juli 2025 di East Rutherford, New Jersey. (Luke Hales/Getty Images via AFP)

Menurut The Telegraph, FIFA tetap melanjutkan rencana tersebut, meski Iran dan Mesir disebut berupaya menghindari keterkaitan dengan perayaan PrideFest di Seattle.

FIFA juga diperkirakan tetap mengizinkan bendera pelangi dibawa masuk ke dalam stadion. Kebijakan itu dinilai berpotensi meningkatkan tensi di sekitar pertandingan.

Juru bicara FIFA menegaskan bahwa Piala Dunia 2026 merupakan ajang yang terbuka bagi semua kalangan.

"Piala Dunia FIFA 2026 adalah ajang inklusif yang menyambut semua orang dari berbagai latar belakang. Suporter dari semua orientasi seksual dan identitas gender dipersilakan menghadiri pertandingan maupun berbagai acara," demikian pernyataan FIFA.

FIFA juga menegaskan bahwa pernyataan umum terkait hak asasi manusia, termasuk penggunaan bendera pelangi maupun simbol yang mewakili orientasi seksual dan identitas gender, diperbolehkan selama sesuai ketentuan dalam Kode Etik Stadion Piala Dunia 2026.


Iran dan Mesir Ingin Pembatasan Simbol Pride

Laporan yang sama menyebut Iran dan Mesir menginginkan adanya pembatasan terhadap berbagai bentuk ekspresi Pride di dalam stadion, termasuk pengibaran bendera pelangi.

Namun, permintaan tersebut diperkirakan tidak akan diakomodasi penyelenggara. Panitia justru berharap pertandingan itu dapat menjadi bagian dari perubahan positif.

Wakil Presiden Senior Legacy Seattle FWC26, Hedda McLendon, mengatakan pihaknya memperkirakan akan banyak suporter mengenakan atribut maupun membawa bendera pelangi saat pertandingan berlangsung.

"Kami memperkirakan akan ada banyak bendera pelangi di stadion dan kaus bergambar bendera pelangi. Mari menyambut semua orang di Seattle. Ini Piala Dunia, dan mari tunjukkan bagaimana kami merayakan Pride," ujar McLendon kepada Outsports.

Senator Negara Bagian Washington, Jamie Pedersen, yang juga merupakan satu di antara anggota legislatif terbuka sebagai penyandang identitas gay, menilai pertandingan tersebut sangat tepat digelar di Seattle.

Menurutnya, laga itu dapat menghadirkan citra positif bagi komunitas LGBTQ+, khususnya karena melibatkan negara-negara yang tidak menerima komunitas tersebut.


Keputusan FIFA Kembali Diperdebatkan

Penetapan Iran melawan Mesir sebagai Pride Match makin menambah sorotan terhadap FIFA dan presidennya, Gianni Infantino.

Sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, Infantino juga sempat menuai kritik setelah mencoba mempertemukan perwakilan Israel dan Palestina melalui jabat tangan simbolis dalam Kongres FIFA.

Belakangan, FIFA juga menyetujui rencana mempertemukan kedua negara dalam turnamen kelompok umur U-15.

Sejumlah pengamat menilai rangkaian keputusan tersebut menunjukkan FIFA kurang mempertimbangkan realitas politik dan sosial yang melingkupi sepak bola internasional.

Di sisi lain, gagasan menghadirkan Pride Match dinilai berangkat dari niat positif untuk mendorong inklusivitas. Namun, kritik tetap bermunculan karena FIFA dianggap mengabaikan perbedaan kondisi hukum dan sosial di negara-negara peserta yang terlibat dalam pertandingan.

 

Sumber: Give Me Sport