Timnas Brasil Diwanti-wanti Legendanya Jelang Ladeni Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Samurai Biru Kini Lebih Berbahaya

Duel Timnas Brasil menghadapi Jepang pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 bakal menjadi salah satu partai yang menarik sekaligus momen yang emosional bagi legenda tim Samba, Zico.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 27 Juni 2026, 08:15 WIB
Pemain depan Brasil #10, Raphinha, merayakan gol bersama rekan setimnya #07, Vinicius Jr (kanan), dan pemain bertahan #14, Gabriel Magalhaes (belakang), selama pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Selatan antara Venezuela dan Brasil di Stadion Monumental di Maturin, Negara Bagian Monagas, Venezuela, pada tanggal 14 November 2024. (Federico Parra/AFP)

Bola.com, Jakarta - Duel Timnas Brasil menghadapi Jepang pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 bakal menjadi salah satu partai yang menarik sekaligus momen yang emosional bagi legenda tim Samba, Zico.

Legenda Brasil ini memiliki kedekatan emosional dengan Jepang. Zico, yang memiliki nama lengkap Arthur Antunes Coimbra, terikat hubungan yang spesial dengan dua negara ini, terutama karena dianggap sebagai salah satu pionir sepak bola di negara Asia tersebut.

Advertisement

Zico tercatat pernah bermain di Jepang bersama Kashima Antlers (1991-1994). Lima tahun berselang, dia ditunjuk mengasuh klub itu. Setelah sempat kembali ke Brasil untuk melatih CFZ de Rio, dia akhirnya dipercaya menangani Timnas Jepang pada 2002-2006.

Tentu bisa dimaklumi jika Zico merasa bimbang menghadapi pertandingan seperti ini. Namun, saat Brasil dan Jepang bersua di NRG Stadium, Houston, Selasa (30/6/2026) nanti, dia akan tetap menjadi fans Brasil biasa.

"Saya akan mendukung Brasil. Bagaimanapun juga, saya orang Brasil. Tetapi jika Jepang menang, biarlah begitu. Yang saya tahu, ini akan menjadi pertandingan yang hebat, karena Jepang memainkan sepak bola yang semestinya,” kata Zico dikutip dari situs resmi FIFA, Jumat (26/6/2026). 

 


Pertemuan Jepang vs Brasil

Zico pertama kali membela Tim Samba pada 25 Februari 1976. Sejak saat itu, dia berhasil mengoleksi 48 gol dari 71 penampilan. Zico tampil untuk Brasil di Piala Dunia 1976, 1982, dan 1986. Namun, mantan pemain Udinese ini tak bisa mempersembahkan gelar untuk negaranya. (AFP/Staff)

Duel ini akan menjadi kali kedua bagi Brasil dan Jepang saling berhadapan di panggung Piala Dunia. Satu-satunya pertemuan mereka sebelumnya terjadi 20 tahun lalu, tepatnya pada laga terakhir fase grup edisi 2006.

Saat itu, tim Samba keluar sebagai pemenang dengan skor 4-1, dan pria yang menukangi skuad Samurai Biru tidak lain adalah Zico sendiri. Zico masih mengingat betul ketika hatinya terasa campur aduk, meski dipaksa bersikap profesional.

"Tentu saja saat itu rasanya sangat emosional. Saya katakan kepada para pemain sebelum pertandingan bahwa saya akan menyanyikan lagu kebangsaan Brasil sebelum laga dimulai, persis seperti yang diajarkan di sekolah,” kata dia

“Namun, begitu peluit pertama dibunyikan, saya sepenuhnya membela Jepang. Saya ingat sempat memikirkan Didi, yang memenangkan dua Piala Dunia bersama Brasil dan melatih Peru saat melawan Seleção pada 1970. Tapi situasi itu memang sulit,” imbuhnya.

 

 


Jepang Kini Lebih Berbahaya

Selebrasi Daizen Maeda saat mencetak gol Jepang ke gawang Swedia di Piala Dunia 2026 (AFP)

Edisi Piala Dunia 2006 itu menandai penampilan ketiga Jepang di ajang ini. Namun, sejak berhasil menembus turnamen ini untuk pertama kalinya pada 1998, mereka tidak pernah sekalipun gagal lolos kualifikasi.

Statistik tersebut menggambarkan dengan jelas perkembangan sebuah negara sepak bola yang kian kuat dan semakin siap untuk menantang jajaran elite dunia. Bahkan, Zico menyoroti nama-nama pemain Samurai Biru yang sebagian besar berkarier di Eropa.

"Jepang kini berada di level yang lebih kompetitif. Para pemain mereka telah merantau ke Eropa, persis seperti yang dilakukan para pemain Brasil dan Amerika Selatan. Dari 26 pemain mereka di Piala Dunia, 23 di antaranya bermain di Eropa dan mereka mendapatkan kesempatan bermain di Bundesliga, Serie A, hingga Liga Inggris," ujar Zico.

"Dari tiga pemain yang bermain di liga lokal, dua di antaranya adalah penjaga gawang dan satu lainnya adalah Yuto Nagatomo. Kehadirannya di sana lebih sebagai seorang pemimpin dan sosok berpengalaman di dalam skuad. Ini adalah Piala Dunia kelimanya."

 


Jepang Sudah Lebih Siap

Hajime Moriyasu, Pelatih Kepala Jepang, berbicara kepada para pemainnya setelah hasil imbang 1-1 dalam pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Jepang dan Swedia di Stadion Dallas pada 25 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Lars Baron/Getty Images via AFP)

Dari pengamatan Zico, perkembangan sepak bola Jepang memang sudah sangat terlihat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah negara top juga telah merasakan kekalahan ketika berjumpa skuad Samurai Biru asuhan Hajime Moriyasu.

"Namun, kampanye-kampanye tersebut menunjukkan seberapa jauh Jepang telah melangkah. Itulah Piala Dunia. Jepang kini siap menghadapi siapa pun. Selama beberapa tahun terakhir, mereka telah mengalahkan Brasil, Jerman, Spanyol, dan Inggris. Mereka benar-benar siap menghadapi apa pun yang ada di depan mereka."

Bagi Zico, pertumbuhan sepak bola Jepang bukan sekadar masalah kemampuan teknis mereka semata. Ketenangan mereka dalam pertandingan-pertandingan tersulit juga menjadi hal yang krusial. Hal ini merupakan aspek sesuatu yang ia saksikan sendiri secara langsung selama masa jabatannya sebagai pelatih Samurai Biru.

"Tentu saja tim ini telah berkembang secara taktik, tetapi masalah yang lebih besar bagi Jepang dulunya adalah faktor psikologis. Sekarang mereka tahu cara menghadapi situasi sulit dan bisa merespons dengan baik saat tertinggal," ujarnya.

Sumber: FIFA

Berita Terkait