Bola.com, Yogyakarta - Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, berharap semangat persaudaraan antarsuporter yang pernah terbangun lewat gerakan Mataram Is Love bisa kembali digaungkan.
Harapan itu muncul menyusul kembalinya PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman bersaing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Super League 2026/2027.
Menurut Liana, hadirnya dua klub asal DIY di kompetisi elite Tanah Air semestinya menjadi momentum memperkuat sportivitas dan kebersamaan, bukan malah memperbesar rivalitas yang berlebihan.
"Komunitas suporter juga harus bisa membawa nilai-nilai positif. Dulu saya mendengar dari komunitas kita muncul ide Mataram Is Love. Itu menjadi contoh yang sangat baik," ujar Liana, Sabtu (4/7/2026).
Bergandengan Tangan
Liana mengenang gerakan Mataram Is Love saat Tragedi Kanjuruhan empat tahun silam. Ketika itu, suporter Brajamusti mengajak pendukung PSS dan Persis Solo menggelar doa bersama di Stadion Mandala Krida.
Wanita berusia 41 tahun itu berujar, aksi yang turut mendapat dukungan pemerintah daerah dan Polda DIY tersebut jadi bukti rivalitas antarsuporter tetap bisa berjalan berdampingan dengan nilai kemanusiaan.
"Itu luar biasa sekali. Jangan sampai semangat seperti itu dilupakan. Apalagi sekarang PSS Sleman kembali satu kasta dengan PSIM. Kita harus terus saling mendukung satu sama lain," kata Liana.
Saat itu, elemen suporter di Bumi Mataram yang mencakup wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Solo memadati Stadion Mandala Krida, pada 4 Oktober 2022. Mereka berkumpul dalam aksi solidaritas untuk para korban Tragedi Kanjuruhan.
Sedih Persis Degradasi
Di sisi lain, Liana mengaku prihatin dengan nasib Persis yang harus terdegradasi ke kasta kedua. Baginya, keberadaan Laskar Sambernyawa di level tertinggi memiliki arti penting bagi perkembangan sepak bola nasional.
Dengan lengsernya Laskar Sambernyawa, Derby Mataram pun dipastikan gagal tersaji di Super League 2026/2027. Padahal, duel yang mempertemukan PSIM dan Persis selalu menghadirkan atmosfer besar serta daya tarik tersendiri.
"Saya pribadi benar-benar sedih melihat Persis Solo harus bermain di Liga 2. Persis adalah salah satu pendiri PSSI dan memiliki basis suporter luar biasa. Tentu saya berharap mereka bisa segera kembali ke kasta tertinggi," ucapnya.
Lebih lanjut, Liana berharap elemen pendukung PSIM dapat menjaga atmosfer positif demi kemajuan klub. Setiap keputusan maupun pilihan yang diambil diharapkan tetap bermuara pada kepentingan terbaik bagi Laskar Mataram.
"Siapa pun pemimpinnya atau apa pun pilihannya, yang terpenting semuanya untuk kebaikan PSIM secara positif. Itu yang saya harapkan," tegasnya.