Kejutan Tanjung Verde hingga Konsistensi Maroko: Wakil-Wakil Afrika Tetap Membanggakan dalam Persaingan Piala Dunia 2026

9 dari 10 tim asal Afrika berhasil lolos dari fase grup Piala Dunia 2026, termasuk kisah ajaib tim kecil sekaligus debutan Tanjung Verde.

BolaCom | Vincentius AtmajaDiterbitkan 11 Juli 2026, 20:30 WIB
Pemain Prancis Lucas Digne berebut bola dengan pemain Maroko Brahim Diaz selama pertandingan perempat final Piala Dunia antara Prancis dan Maroko di Foxborough, Massachusetts, dekat Boston, Kamis, 9 Juli 2026. (AP Photo/Matt Slocum)

Bola.com, Jakarta - Persaingan Piala Dunia 2026 telah memasuki fase perempat final alias delapan besar. Sudah tidak satu pun tim perwakilan dari Afrika, setelah Maroko dipaksa pulang Prancis.

Maroko menyerah 0-2 dari Prancis dalam duel perempat final Piala Dunia 2026 di Boston Stadium, Jumat (10/7/2026). Gol Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele, membuat tim Singa Atlas menyusul wakil-wakil Afrika yang sudah gugur di fase sebelumnya.

Advertisement

Meski sudah tidak punya lagi wakil di fase berikutnya atau empat besar, pencapaian dari perwakilan CAF (Konfederasi sepak bola Afrika) tetap membanggakan untuk meramaikan persaingan Piala Dunia edisi yang ke-23.

Setidaknya, sembilan dari sepuluh tim asal benua ini berhasil lolos dari fase grup. Termasuk kisah ajaib tim kecil sekaligus debutan Tanjung Verde yang serta nyaris menciptakan kejutan besar sebelum akhirnya kehilangan keunggulan berharga di menit-menit akhir pertandingan.


Konsistensi Maroko dan Mesir

Mohamed Salah (10) dari Timnas Mesir berebut bola dengan Lisandro Martinez (6) dari Argentina selama pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir di Atlanta, Rabu, 8 Juli 2026. (AP Photo/Mike Stewart)

Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Timnas Maroko menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal. Namun perjuangan berat mereka lalui di turnamen kali ini, ketika jumlah pesertanya bertambah menjadi 48 tim.

Alhasil Maroko harus bertemu Prancis terlalu dini di perempat final. Tim asal Afrika Utara ini sejak awal diprediksi menjadi penantang serius, terutama setelah sempat membuat Brasil kewalahan di laga pembuka fase grup dan menyingkirkan Belanda di babak 32 besar.

Begitu juga dengan Timnas Mesir, menjadi tim Afrika dengan pencapaian terbaik berikutnya. The Pharaoh memenangkan pertandingan Piala Dunia untuk pertama kalinya dan melaju ke babak 16 besar.

Mesir juga nyaris menciptakan sejarah untuk memulangkan juara bertahan Argentina di babak 16 besar. Sayangnya, ketika Mohamed Salah Cs unggul 2-0 atas Argentina saat pertandingan tersisa 11 menit, namun akhirnya kalah 2-3 di tengah kontroversi VAR.


Layak Diacungi Jempol

Pemain Prancis Kylian Mbappe mengontrol bola dibayangi pemain Maroko Issa Diop (14) dan Neil El Aynaoui (selama pertandingan perempat final Piala Dunia antara Prancis dan Maroko di Foxborough, Mass., dekat Boston, Kamis, 9 Juli 2026. (AP Photo/Stephanie Scarbrough)

Kegagalan di saat mempertahankan keunggulan skor pertandingan krusial juga merugikan Republik Demokratik Kongo, Pantai Gading, dan Senegal. Kongo di ambang menyingkirkan Inggris di fase 32 besar, saat unggul satu gol hingga menit ke-75. Namun keunggulan mereka ambyar saat Harry Kane memborong dua gol di sisa waktu pertandingan.

Di babak 32 besar, Pantai Gading juga akan menyesali peluang yang terbuang, karena membiarkan Erling Haaland dari Norwegia tanpa pengawalan di menit-menit akhir pertandingan dan harus menanggung akibat yang fatal dan akhirnya kalah 1-2.

Timnas Senegal sempat unggul 2-0 atas Belgia saat waktu tersisa lima menit, namun akhirnya kalah di babak perpanjangan waktu. Senegal sebelumnya dijagokan untuk memimpin kiprah Afrika berkat skuad yang sangat tangguh, namun mereka melakukan kesalahan fatal yang berujung kekalahan dalam dua laga pembuka melawan Prancis dan Norwegia, serta gagal bangkit setelah kepercayaan diri mereka runtuh.

"Tersingkirnya kami adalah sebuah kegagalan. Kami memiliki kualitas untuk melangkah lebih jauh. Namun, kami gagal melakukannya," ujar kiper Senegal, Edouard Mendy seperti dikutip dari Reuters.

"Kompetisi tingkat ini menuntut introspeksi mendalam. Bukan sekadar tinjauan dangkal, melainkan pemeriksaan yang jujur dan menyeluruh terhadap segala hal yang telah dilakukan. Kenyataan pahit sering kali justru menjadi pendorong kemajuan terbesar," ungkap Mendy.


Angkat Topi untuk Tanjung Verde

Sidny Lopes Cabral #13 dari Tanjung Verde merayakan gol kedua timnya bersama rekan-rekan setimnya selama pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Cabo Verde di Stadion Miami pada 4 Juli 2026 di Miami Gardens, Florida. (Robert Cianflone/Getty Images via AFP)

Perhatian atas aksi wakil-wakil Afrika juga layak ditujukan kepada Timnas Tanjung Verde. Penampilan heroik kiper mereka, Vozinha yang berusia 40 tahun, ada di balik perjalanan Tanjung Verde yang mengejutkan.

Setelah sebelumnya berhasil menahan imbang mantan juara Piala Dunia, Spanyol dan Uruguay, di fase grup, mereka dua kali bangkit dari ketertinggalan untuk memaksa juara bertahan Argentina bermain hingga babak perpanjangan waktu pada laga 32 besar di Miami, sebelum akhirnya kalah tipis 2-3 dalam permainan 120 menit.

Skuad tersebut disambut bak pahlawan saat kembali ke negara kepulauan itu, dielu-elukan oleh kerumunan massa yang memadati jalanan. "Begitu banyak orang, semua orang sangat bahagia," ujar Sidny Lopes Cabral, yang golnya ke gawang Argentina menjadi salah satu gol terbaik turnamen.

"Mereka bilang kami tidak benar-benar kalah; memang kami tersingkir, tetapi penampilan kami melawan Argentina terasa seperti sebuah kemenangan bagi mereka," tuturnya.

Sementara wakil Afrika lainnya; Aljazair, Ghana, dan Afrika Selatan juga melaju ke fase gugur. Hanya Tunisia yang gagal lolos dari fase grup dan membuat keputusan mengejutkan dengan memecat pelatih Sabri Lamouchi setelah kalah telak 1-5 dari Swedia pada laga pembuka. Herve Renard sebagai penggantinya juga tidak mampu menyelamatkan nasib tim.

Pencapaian tim-tim Afrika di Piala Dunia 2026 akan membuat mereka terus berbenah, menatap ajang kompetitif berikutnya seperti Piala Afrika yang rencananya digelar berturut-turut (2027 dan 2028). Ditambah Piala Dunia 2030 dengan salah satu tuan rumahnya adalah Maroko.

Sumber: Reuters

Berita Terkait