Bola.com, Jakarta - Timnas Uruguay memasuki era baru. Federasi Sepak Bola Uruguay (AUF) menunjuk legenda mereka, Diego Forlan, sebagai pelatih interim La Celeste setelah Marcelo Bielsa memutuskan mundur menyusul kegagalan pada Piala Dunia 2026.
Di usia 47 tahun, Forlan menghadapi tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya. Mantan striker yang pernah menjadi pahlawan Uruguay di Piala Dunia 2010 itu kini dipercaya membangun kembali tim nasional yang tampil jauh di bawah ekspektasi di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Uruguay gagal lolos dari fase grup setelah hanya finis di peringkat ketiga dengan raihan dua poin. La Celeste kalah bersaing dengan Spanyol dan Tanjung Verde, sementara Arab Saudi juga berhasil mengungguli mereka.
Hasil mengecewakan itu mengakhiri masa kepelatihan Marcelo Bielsa. Pelatih asal Argentina tersebut memilih mundur tidak lama setelah Uruguay tersingkir dari turnamen.
Seperti dikutip dari BeinSport, Senin (13/7/2026), Federasi Sepak Bola Uruguay mengonfirmasi Forlan akan menangani tim hingga Maret 2027. Setelah itu, kinerjanya akan dievaluasi sebelum diputuskan apakah kontraknya diperpanjang atau federasi akan mencari pelatih baru untuk mempersiapkan siklus Piala Dunia berikutnya.
Selain memimpin tim senior, Forlan juga tetap menjalankan tugasnya sebagai pelatih Timnas Uruguay U-20. Ia akan mempersiapkan tim muda tersebut untuk tampil pada Kejuaraan Amerika Selatan U-20 2027, ajang yang menjadi bagian penting dalam pembinaan generasi penerus sepak bola Uruguay.
Pahlawan Uruguay
Penunjukan Diego Forlan memiliki makna yang sangat besar bagi publik Uruguay.
Mantan penyerang Manchester United, Villarreal, Atletico Madrid, dan Internacional itu merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki La Celeste.
Namanya akan selalu dikenang berkat penampilan luar biasa di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Saat itu, Forlan mencetak lima gol dan membawa Uruguay melaju hingga semifinal.
Penampilan impresif tersebut mengantarkannya meraih Golden Ball, penghargaan untuk pemain terbaik turnamen, sebuah prestasi yang menegaskan statusnya sebagai salah satu legenda sepak bola Uruguay.
Di level klub, Forlan juga menikmati karier yang gemilang. Ketajamannya dalam mencetak gol, tembakan keras dari luar kotak penalti, fleksibilitas bermain, serta jiwa kepemimpinannya membuatnya diakui sebagai salah satu penyerang terbaik pada masanya.
Pengalaman Melatih yang Minim
Meski memiliki reputasi besar sebagai pemain, pengalaman Forlan sebagai pelatih masih tergolong terbatas. Sejauh ini, ia baru menangani Penarol selama 11 pertandingan dan kemudian melatih CA Atenas dalam 12 laga resmi.
Kini, tantangan yang dihadapinya jauh lebih besar. Forlan dituntut mengembalikan identitas permainan Uruguay yang sempat memudar di bawah Bielsa selama Piala Dunia 2026.
Gaya bermain dengan pressing tinggi yang menjadi ciri khas Bielsa hanya sesekali terlihat. Di sisi lain, lini depan tampil kurang tajam, sementara kesalahan di lini belakang beberapa kali berujung fatal hingga membuat Uruguay harus angkat koper lebih cepat.
Sejarah menunjukkan Uruguay kerap mampu bangkit setelah melewati masa-masa sulit. Negara yang pernah menjuarai Piala Dunia pada 1930 dan 1950 serta mencapai semifinal pada 2010 itu kini memulai babak baru di bawah komando salah satu ikon terbesarnya, dengan harapan bisa kembali menjadi kekuatan yang disegani di panggung sepak bola internasional.
Sumber: BeinSport