Mantan PM Spanyol Banjir Kritikan karena Komentar Bernada Rasis soal Timnas Prancis Jelang Semifinal Piala Dunia 2026

Mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, menuai kecaman luas setelah melontarkan komentar yang dianggap bernada rasis terhadap para pemain Timnas Prancis.

BolaCom | Vincentius AtmajaDiterbitkan 13 Juli 2026, 15:30 WIB
PM Mariano Rajoy di depan kabinet memberi ultimatum kepada Catalonia apakah pisah atau tidak. Ia juga mengancam status otonomi kawasan itu ( JAVIER SORIANO / AFP)

Bola.com, Jakarta - Jelang duel panas semifinal Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Prancis, Rabu (15/7/2026) dini hari WIB, kontroversi justru muncul di luar lapangan. Mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, menuai kecaman luas setelah melontarkan komentar yang dianggap bernada rasis terhadap para pemain Timnas Prancis.

Rajoy menjadi sasaran kritik dari sejumlah pejabat pemerintah hingga tokoh politik di Spanyol dan Prancis setelah menulis kolom yang membahas pertandingan semifinal Piala Dunia.

Advertisement

Laga antara Spanyol dan Prancis memang menjadi salah satu pertandingan yang paling dinanti di turnamen ini. Duel yang akan digelar di Dallas Stadium, Arlington, Texas,  itu mempertemukan dua kekuatan terbaik dunia. Prancis datang dengan lini serang yang sangat produktif, sedangkan Spanyol tampil solid berkat pertahanan yang sulit ditembus.

Namun, alih-alih membahas aspek teknis pertandingan, Rajoy justru memicu polemik lewat kalimat yang ditulisnya.

"Mereka saat ini berada di peringkat pertama ranking FIFA. Mereka juga memiliki skuad kelas dunia. Meski begitu, mereka tidak memiliki pemain Prancis, dan mereka bermain sangat baik," tulis Rajoy dalam kolomnya pada 10 Juli.

Pernyataan tersebut langsung memantik reaksi keras dari berbagai pihak karena dianggap mempertanyakan identitas para pemain Les Bleus.

 

 


Respons Keras

Sebelumnya diketahui, Prancis dan Brasil telah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. Timnas Prancis di bawah racikan pelatih Didier Deschamps tampil dominan di kualifikasi, sementara Brasil lolos setelah menempati peringkat kelima zona CONMEBOL. Tampak dalam foto, pelatih Timnas Prancis Didier Deschamps (tengah) dan asistennya Guy Stephan (kanan) memimpin sesi latihan di pusat pelatihan New England Revolution di Foxborough, Massachusetts, pada 25 Maret 202. (Franck FIFE/AFP)

Kedutaan Besar Prancis di Spanyol menjadi salah satu pihak pertama yang memberikan tanggapan.

Melalui media sosial, mereka meluruskan pernyataan Rajoy dengan menegaskan seluruh pemain yang memperkuat Timnas Prancis adalah warga negara Prancis.

"Semua pemain Timnas Prancis adalah orang Prancis. Dari 26 pemain, 23 lahir di Prancis. Tiga pemain lainnya memang lahir di luar negeri, tetapi mereka juga merupakan warga negara Prancis," tulis Kedutaan Besar Prancis.

Kritik juga datang dari Partai Buruh Sosialis Spanyol (PSOE), yang menyebut komentar Rajoy sebagai pernyataan rasis dan xenofobia.

Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sanchez, turut angkat bicara melalui akun X.

"Spanyol adalah milik mereka yang mencintainya dan bekerja untuknya, bukan milik mereka yang mempermalukannya dengan pernyataan xenofobia," tulis Sanchez.

Dari Prancis, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyebut komentar Rajoy sebagai sesuatu yang benar-benar tidak dapat diterima.

Sementara itu, pemimpin Partai Komunis Prancis, Fabien Roussel, juga mengecam keras pernyataan tersebut.

"Mereka tidak pernah berhenti menunjukkan rasisme terang-terangan hanya untuk menyerang Timnas Prancis yang luar biasa," tulis Roussel.

 


Melawan Rasisme

Para pemain Timnas Prancis beristirahat sejenak di tengah cuaca panas ekstrem selama sesi latihan dalam turnamen sepak bola Piala Dunia, di markas tim Prancis di Waltham, Massachusetts, dekat Boston, Sabtu, 13 Juni 2026. (AP Photo/Martin Meissner)

Kontroversi ini berbeda dari perang urat saraf sebelum pertandingan. Pernyataan Lamine Yamal baru-baru ini yang penuh percaya diri tentang mengalahkan Prancis dua kali, serta tekad Ibrahima Konaté untuk membalasnya di lapangan, merupakan bagian dari dinamika persaingan antarpemain yang positif.

"Komentar Rajoy tidak menyinggung soal taktik, performa, ataupun rekor mencetak gol. Akan tetapi, komentar tersebut mempertanyakan pemain mana yang mengenakan seragam Prancis yang bisa dianggap sebagai orang Prancis berdasarkan latar belakang mereka. Inilah sebabnya mengapa kalangan politik di kedua negara memandang isu ini sebagai diskriminasi rasial, bukan sebagai analisis sepak bola," ulas media Korea Selatan, The Chosun Daily.

Timnas Prancis telah menorehkan sejarah Piala Dunia dengan pemain-pemain yang berasal dari keluarga imigran. Skuad Prancis yang menjuarai Piala Dunia 1998 diperkuat oleh pemain seperti Zinedine Zidane, Lilian Thuram, dan Marcel Desailly. Pada Piala Dunia Rusia 2018, para pemain dengan beragam latar belakang asal-usul berhasil meraih gelar juara kedua bagi negara tersebut.

Kylian Mbappe lahir dan besar di Paris. Ia meniti karier dari tim junior Prancis hingga akhirnya menjadi kapten tim senior Les Bleus. Pencapaian penting dalam kariernya meliputi kemenangan Piala Dunia 2018, mencetak hattrick di final Piala Dunia 2022, serta menjadi top scorer turnamen dengan torehan delapan gol.

Prancis selalu kalah dari Spanyol dalam dua pertemuan terakhir, yakni kekalahan 1-2 di semifinal Euro 2024 dan menang 4-5 di semifinal UEFA Nations League 2025. Praktis Prancis bertekad melakukan revans di Atlanta Stadium nanti.

"Kelayakan membela tim nasional dalam sepak bola tidak ditentukan oleh warna kulit ataupun jenis kelamin. Pemain yang memenuhi kriteria FIFA untuk mewakili suatu negara dan dipilih oleh asosiasi sepak bola negara tersebut berhak mengenakan seragam tim. Latar belakang keluarga para pemain Prancis tidak memengaruhi status kelayakan mereka untuk tampil di semifinal melawan Spanyol," lanjut penilaian The Chosun Daily.

Sumber: The Chosun Daily, The Guardian, Mirror

Berita Terkait