Bola.com, Jakarta - Ada satu momen yang begitu emosional setelah Timnas Argentina berhasil bangkit dari ketertinggalan dua gol melawan Mesir untuk memastikan tiket ke perempat final Piala Dunia 2026, Selasa 7 Juli. Sang legenda hidup sepak bola Argentina, Lionel Messi tak kuasa membendung air matanya.
Tangisan Messi bukan semata-mata karena kegembiraan merayakan kemenangan. Ada luapan emosi yang jauh lebih dalam. Sebelumnya, kapten Albiceleste itu juga sempat menangis pada awal turnamen setelah menerima kabar mengenai kondisi kesehatan sang ayah yang mengalami komplikasi.
Kali ini, air mata Messi lebih banyak dipenuhi rasa lega. Bukan sekadar karena Argentina lolos setelah menyingkirkan Mesir, melainkan karena ia merasa tidak mengecewakan rekan-rekan setimnya setelah gagal mengeksekusi penalti yang sempat membuat langkah Albiceleste berada di ujung tanduk.
Saat ini, berbagai emosi bercampur menjadi satu dalam diri Messi. Mulai dari rasa lega, tekanan besar, dukungan keluarga, semangat para suporter, hingga kasih sayang rekan-rekan setim yang sangat ingin melihatnya kembali mengangkat trofi Piala Dunia.
Turnamen kali ini bisa saja menjadi Piala Dunia terakhir bagi Messi. Namun, seperti yang sering terjadi dalam kariernya, tidak ada yang benar-benar bisa memastikan hal tersebut.
Di balik semua tekanan itu, ada kebahagiaan besar yang kini dirasakan Messi. Menurut analisis BBC, Rabu (15/7/2026), akhirnya La Pulga menemukan lingkungan yang sempurna, yakni sebuah tim yang dibangun sesuai dengan karakter permainannya. Semua pemain bekerja untuk satu tujuan yang sama, yaitu membantu Messi sekaligus membawa Argentina meraih kesuksesan.
Filosofi yang Dijaga
Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, menggambarkan filosofi tersebut dengan sangat jelas sebelum laga perempat final melawan Swiss.
"Momen terbaik bagi saya adalah saat seluruh tim merayakan sesuatu bersama. Saya melatih bukan karena menyukai formasi 4-3-3," ujar Scaloni.
"Saya suka minum mate bersama teman-teman dan para pemain, menikmati acara barbeku, bermain truco, seperti yang selalu kami lakukan," imbuhnya.
Messi Kembali Temukan Jati Dirinya
Ucapan Scaloni seolah mewakili perasaan Messi. Di usia 39 tahun, La Pulga terus memperpanjang kariernya demi menikmati momen-momen seperti itu.
Messi kembali menemukan jati dirinya sebagai sosok yang tumbuh di Rosario, begitu dekat dengan budaya Argentina. Ia dikelilingi sahabat-sahabatnya sambil menikmati mate, serta kembali merasakan nikmatnya berjuang bersama orang-orang yang memiliki cara pandang yang sama di bawah arahan Scaloni.
Tak bisa dimungkiri, skuad Argentina saat ini memang dibangun dengan Messi sebagai poros utamanya. Seluruh sistem dirancang untuk memberikan kesempatan terbaik bagi sang megabintang meraih gelar Piala Dunia kedua secara beruntun.
Sumber: BBC