Pengamat Sebut Final Piala Dunia 2026 Sulit Diprediksi, Spanyol dan Argentina Sama-Sama Layak Juara

Spanyol dan Argentina dianggap sangat pantas tampil di final Piala Dunia 2026.

BolaCom | Gatot SumitroDiterbitkan 17 Juli 2026, 08:30 WIB
Ilustrasi Spanyol Vs Argentina di final Piala Dunia 2026. (Bola.com/AI)

Bola.com, Kediri - Duel Spanyol kontra Argentina disebut sebagai final ideal Piala Dunia 2026. Laga puncak ini akan digelar di Stadion New York, New Jersey, AS, Senin (20-7-2026) dini hari, tepatnya pukul 02.00 WIB.

Pasalnya, kedua tim telah melewati perjalanan luar biasa sejak fase grup hingga semifinal dengan catatan impresif.

Advertisement

Dari tujuh laga, Spanyol meraih enam kemenangan dan hanya sekali imbang tanpa gol kontra Cape Verde. El Matador mencatat enam kali clean sheet dan hanya sekali kebobolan saat melawan Belgia 2-1.

Tim asuhan Luis de la Fuente itu begitu produktif dengan total memasukkan 13 gol.

Sementara kiprah Argentina tak kalah mentereng. Lionel Messi dkk. menyapu bersih semua laga dengan menyarangkan 19 gol dan kebobolan tujuh bola. La Albiceleste hanya dua kali meraih dua clean sheet, masing-masing ketika menghajar Aljazair 3-0 dan Austria 2-0.

Di daftar pencetak gol terbanyak, Lionel Messi bersaing dengan Kylian Mbappe dengan koleksi delapan gol. Keduanya masih sama-sama berpeluang menambah pundi-pundi gol untuk menyabet Sepatu Emas sebagai penghargaan striker tersubur turnamen ini.

Kylian Mbappe dan Timnas Prancis akan melawan Inggris untuk perebutan peringkat ketiga.


Faktor Penentu

Pemain Spanyol Mikel Oyarzabal (kiri) merayakan gol dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Spanyol di Arlington, Texas, dekat Dallas, Selasa, 14 Juli 2026. (AP Photo/Ashley Landis)

Situasi ini mendapat atensi dari pengamat sepak bola senior, Gusnul Yakin.

"Spanyol dan Argentina sangat pantas tampil di final. Kedua tim telah teruji sejak penyisihan grup hingga semifinal. Mereka menampilkan permainan apik dengan materi pemain seimbang. Mereka juga punya kedalaman tim bagus. Taktik pelatih dan mental pemain akan jadi penentu pemenang final nanti. Jadi. saya kira akan sulit menebak siapa bakal jadi juara Piala Dunia 2026. Tapi, menurut saya, siapa pun juaranya, tim itu adalah yang terbaik di muka Bumi karena Argentina dan Spanyol menduduki peringkat pertama dan kedua di daftar rangking FIFA," ujar Gusnul Yakin.

Yang menarik, lanjut pengamat sepak bola asal Malang, Jawa Timur, itu, baik Spanyol maupun Argentina tak menonjolkan karakter khas masing-masing.

Spanyol tak selalu mempraktikkan style tiki taka, Argentina juga tak melulu memperlihatkan gaya Tango yang selama ini jadi ciri khas.

"Di Piala Dunia kali ini, mayoritas peserta tak fanatik lagi mengusung gaya khasnya. Tapi, karakter itu tetap muncul di situasi krusial. Pemain Spanyol baru bermain tiki taka ketika masuk sepertiga pertahanan lawan, terutama di kotak penalti. Sebagian besar kontestan Piala Dunia 2026 tampil taktis dan pragmatis untuk memenangkan pertandingan," jelasnya.


Usia Jadi Pembeda

Penyerang Argentina bernomor punggung 10, Lionel Messi, merayakan gol kedua timnya yang dicetak oleh penyerang Argentina bernomor punggung 22, Lautaro Martinez, bersama rekan setimnya, bek bernomor punggung 25, Facundo Medina, dan penyerang bernomor punggung 17, Giuliano Simeone, dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, Kamis 16 Juli 2026 dini hari WIB. (AFP/Thomas Coex)

Akan tetapi, eks pelatih Arema ini menyebut faktor usia pemain bakal jadi pembeda partai puncak nanti.

Skuad Argentina dengan rerata usia 29,2 tahun penuh kematangan, sementara Spanyol yang memiliki rataan umur 26,9 tahun sarat energi untuk tampil stabil sepanjang laga.

"Nah, umur pemain inilah yang juga menentukan. Pelatih dituntut jeli menyusun starting XI dan pergantian pemain di momen krusial. Argentina telah menunjukkan mental juaranya. Spanyol penuh energi untuk menggagalkan Argentina back to back kampiun," ucapnya.

Menurut penilaian Gusnul Yakin, pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, berhasil menyatukan visi bermain anak asuhnya yang mayoritas berkarier di berbagai Liga Eropa sesuai game plan yang diinginkan.

Dari 26 pemain yang dibawa ke AS, Meksiko, dan Kanada, sebanyak 23 pemain berkiprah di Benua Biru.

Sementara arsitek Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, tak terlalu sulit meracik tim yang sebagian besar pemainnya berasal dari La Liga.

"Dari sisi membangun chemistry tim, saya kira tantangan Lionel Scaloni lebih berat dari Luis de la Fuente. Tapi, dia mampu menyatukan para pemain Argentina menjadi tim solid dan menerapkan game plan sangat baik," kata Gusnul Yakin.

Berita Terkait