Bola.com, Jakarta - Publik Inggris masih kecewa berat setelah kegagalan The Tree Lions ke final Piala Dunia 2026.
Timnas Inggris membuang kesempatan menang saat bertemu Argentina di semifinal, dan menyerah secara dramatis 1-2 di Atlanta Stadium, Kamis (16-7-2026) dini hari WIB.
Banyak pihak sepakat menilai strategi Tuchel adalah sebuah kesalahan besar, dengan memilih pendekatan permainan bertahan ketika masih unggul satu gol atas Argentina dan saat laga masih menyisakan 35 menit lebih.
Saat Inggris unggul 1-0, Tuchel menarik keluar pencetak gol Anthony Gordon pada menit ke-72 dan menggantikannya dengan Ezri Konsa, seorang bek.
Masuknya Konsa membuat Inggris beralih menggunakan formasi lima bek demi mempertahankan keunggulan tipis mereka.
Perubahan Defensif
Tuchel melakukan perubahan yang lebih defensif 10 menit kemudian dengan memasukkan Dan Burn dan Nico O'Reilly untuk menggantikan Declan Rice dan Reece James.
Namun, semua upaya bertahan itu sia-sia karena Enzo Fernandez mencetak gol penyeimbang pada menit ke-85, dan Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan tujuh menit kemudian.
Dalam upaya putus asa, Tuchel memasukkan Ivan Toney dan Marcus Rashford setelah gol Martinez yang memukul mental tim, tetapi langkah itu terlambat dan tidak cukup untuk mengubah keadaan.
Tuchel mengklaim, keputusannya menerapkan strategi dan taktiknya saat itu adalah karena Inggris kesulitan menghalau umpan silang lawan saat menggunakan formasi awal 4-4-2.
Bukan Salah Tuchel
Di tengah amarah pendukung Tiga Singa, mantan bek Timnas Inggris, Andros Townsend, punya penilaian yang berseberangan dengan padangan mayoritas.
Pemilik 13 caps di Timnas Inggris itu tak sepakat jika semua kesalahan ditujukan kepada Tuchel. Menurutnya, posisi bertahan Inggris yang makin dalam bukan salah pelatih. Justru, pergantian pemain dengan masuknya O'Reilly sangat diperlukan mengingat perubahan gaya main Lionel Messi.
"Itu bukan salah Thomas Tuchel, kita memang gagal memenangkan duel udara," kata Townsend merujuk beberapa peluang berbahaya Argentina lewat umpan-umpan silang, termasuk gol penentu Lautaro Martinez.
"Menurut saya, memasukkan Nico O'Reilly adalah langkah yang tepat. Saya telah meliput kiprah Argentina di Piala Dunia ini. Saya menyaksikan setiap pertandingan mereka. Dan di setiap laga, Messi memulai permainan dengan posisi yang tinggi, dia berusaha menerima bola di ruang-ruang kosong antarlini," lanjut Townsend dalam acara "talkSPORT Breakfast" bersama Gabby Agbonlahor dan Jeff Stelling.
Upaya Mengatasi Tekanan
Townsend juga menilai Messi menjadi barometer permainan Argentina. Bola-bola serangan Argentina selalu dimulai dari Messi yang bergerak secara dinamis dari sisi kanan, tengah, hingga ke depan untuk mencari celah kosong.
"Seiring berjalannya pertandingan, Messi terus turun makin dalam ke belakang. Anda bisa melihat posisi yang dia ambil di babak kedua. Posisinya hampir menyerupai gelandang tengah di sisi kanan. Itulah gaya main yang dia sukai," ulas mantan pemain Tottenham Hotspur dan Everton itu.
"Jadi, keputusan Thomas Tuchel untuk memasukkan Nico O'Reilly guna menjaga Messi di posisi yang lebih tinggi di area sayap kiri saat laga menyisakan 15 menit adalah pilihan yang lebih cerdas dibandingkan menugaskan Rashford untuk mengawal Lionel Messi. Itu sama sekali tidak masuk akal," jelasnya.
"Tidak ada opsi operan keluar untuk melepaskan tekanan. Kita tidak punya jalan keluar. Kita sudah berusaha. Kita mengandalkan Morgan Rogers, serta Harry Kane dan Bellingham yang mencoba melakukan pressing tinggi. Tapi, strategi itu tidak berhasil," lanjut Townsend.
Sumber: Talksport