Bukayo Saka, Ketika Kesempatan Datang Setelah Semuanya Berakhir

Tiga gol Bukayo Saka di perebutan ketiga Piala Dunia 2026 memantik lagi tanya besar: mengapa ia tak diberi peran lebih saat Inggris hadapi Argentina?

BolaCom | Gia Yuda PradanaDiterbitkan 19 Juli 2026, 20:13 WIB
Selebrasi Bukayo Saka saat Inggris mengalahkan Prancis di perebutan juara 3 Piala Dunia 2026 (AFP)

Bola.com, Jakarta - Bukayo Saka menutup kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan persembahan yang sulit diabaikan. Hattrick ke gawang Prancis pada perebutan tempat ketiga menghadirkan kembali tanya besar bagi Timnas Inggris terkait keputusan di semifinal.

Di laga yang kerap dipandang sekadar formalitas, Saka justru tampil penuh dorongan dan memimpin kemenangan 6-4 atas Les Bleus. Panggung pembuktian itu datang terlambat, tetapi cukup keras gaungnya.

Advertisement

Efeknya segera terasa: perdebatan yang sempat mengemuka beberapa hari sebelumnya hidup lagi. Mengapa pemain yang sedang on fire itu tidak mendapat porsi lebih ketika Inggris menantang Argentina di semifinal?


Hattrick vs Prancis dan Pertanyaan untuk Inggris

Pemain Inggris Bukayo Saka mencetak gol ketiga mereka melewati pemain Prancis Theo Hernandez , kiper Mike Maignan, dan Desire Doue selama pertandingan sepak bola perebutan tempat ketiga Piala Dunia antara Prancis dan Inggris di Miami Gardens, Florida, Sabtu, 18 Juli 2026. (AP Photo/Marta Lavandier)

Penampilan Saka melawan Prancis menjadi simpul penting perjalanan The Three Lions di turnamen ini. Tiga golnya membantu Inggris menutup turnamen dengan kemenangan 6-4, sekaligus mempertegas kapasitasnya sebagai opsi ofensif yang tajam.

Namun, performa impresif itu juga menghidupkan kembali diskusi yang mengiringi kegagalan Inggris ke final. Saka, yang saat itu sedang berada dalam ritme positif, tidak masuk dalam rencana pergantian saat semifinal kontra Argentina.

Ketika turnamen memasuki babak besar, keputusan kecil terasa membesar. Hattrick di laga perebutan posisi ketiga kini menghadirkan cermin: apakah alur semifinal bisa bergeser andai Saka lebih dini mengambil peran?


Manajemen Kebugaran dan Keputusan Tuchel di Semifinal

Pelatih Inggris Thomas Tuchel berbicara dengan pemain Inggris Jude Bellingham dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris vs Argentina di Atlanta, Rabu, 15 Juli 2026. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Perjalanan Saka di Piala Dunia 2026 tidak mulus sejak awal. Masalah pada tendon Achilles jelang akhir musim bersama Arsenal membuat Thomas Tuchel hati-hati mengelola menit bermain sang winger sepanjang turnamen.

Saka baru menjadi starter pada partai terakhir fase grup dan langsung mencatat assist. Memasuki fase gugur, ia kembali memulai laga dari bangku cadangan sebelum memperoleh kesempatan lain saat Inggris menghadapi Meksiko.

Di semifinal, namanya bahkan tidak masuk dalam rencana pergantian pemain. Tuchel menjelaskan alasan di balik pilihannya, termasuk keputusan taktis yang diambil usai laga melawan Norwegia. “Saya merasa, setelah pertandingan melawan Norwegia, Morgan Rogers memiliki sesuatu yang spesial melalui kekuatan fisiknya untuk pertandingan melawan Argentina. Itu keputusan yang sulit bagi saya untuk meninggalkan Bukayo Saka di semifinal,” kata Tuchel.

Sang pelatih menegaskan pertimbangannya tidak semata menyentuh kualitas Saka. “Dia sudah siap bermain di Piala Dunia. Namun, saya merasa masih memiliki tanggung jawab sebagai pelatih, mengingat riwayat yang dialaminya, untuk bersabar bersama Bukayo.” Narasi kehati-hatian itu menyatu dengan kebutuhan menjaga struktur tim dan manajemen kebugaran di rangkaian partai berat.

Pada akhirnya, keputusan tersebut menjadi salah satu topik terbesar pasca-kekalahan dari Argentina. Hattrick Saka beberapa hari berselang menambah bobot pertanyaan yang awalnya berangkat dari konteks kebugaran dan pilihan taktis.


Respons Bukayo Saka Usai Turnamen

Selebrasi Bukayo Saka saat Inggris mengalahkan Prancis di perebutan juara 3 Piala Dunia 2026 (AFP)

Saka memilih menjawab di lapangan ketimbang memperpanjang perdebatan. “Tentu saya ingin bermain lebih banyak. Namun, sekarang bukan waktunya membahas hal itu. Saya lebih suka berbicara lewat permainan saya di lapangan. Semuanya sudah selesai. Saatnya melangkah ke depan,” ujar Saka.

Penegasan soal kondisi fisiknya juga disampaikan singkat, tanpa bertele-tele. “Saya bugar. Saya bugar.” Ucapan itu menutup rangkaian kinerja yang ia hadirkan sepanjang turnamen, termasuk kontribusi di fase grup dan dampak langsung pada laga perebutan tempat ketiga.

Tiga gol melawan Prancis memang tidak membalik hasil semifinal. Namun, penampilan tersebut memastikan satu pertanyaan akan terus melekat dalam perjalanan The Three Lions: apakah hasil melawan Argentina akan berbeda bila salah satu pemain terbaik mereka mendapat kesempatan lebih awal.

Sumber: Sports Illustrated

Berita Terkait