Lionel Scaloni Buka Suara soal Masa Depannya usai Argentina Kalah di Final Piala Dunia 2026

Setelah kalah 0-1 dari Spanyol di final, Lionel Scaloni belum pastikan masa depannya. Kontrak berakhir akhir 2026, ia akan berdiskusi dengan AFA dan butuh waktu

BolaCom | Aga Deta AndityaDiterbitkan 20 Juli 2026, 09:52 WIB
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, dalam pertandingan melawan Aljazair di Piala Dunia 2026, Rabu (17/6/2026). (AP Photo/Charlie Riedel)

Bola.com, Jakarta - Lionel Scaloni belum memastikan masa depannya bersama timnas Argentina usai kekalahan di final Piala Dunia 2026. Pelatih berusia 48 tahun itu menyatakan membutuhkan waktu sebelum menentukan langkah berikutnya.

Kontrak Scaloni bersama Albiceleste berjalan hingga penghujung tahun 2026. Ia menegaskan akan berdiskusi lebih dulu dengan Presiden Federasi Sepak Bola Argentina (AFA), sembari menekankan komitmennya untuk menghormati kontrak hingga selesai.

Advertisement

Argentina tumbang 0-1 dari Spanyol pada partai puncak yang dimainkan Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Ferran Torres menjadi penentu kemenangan La Furia Roja lewat gol pada babak kedua perpanjangan waktu.

Sepanjang turnamen, Argentina sempat menapaki jalur berat dengan sejumlah kemenangan dramatis di fase gugur, membalikkan keadaan saat menghadapi Cape Verde, Mesir, dan Inggris. Scaloni mengaku bangga dengan perjuangan para pemain, namun menegaskan perlunya evaluasi sebelum memutuskan masa depan.


Masa Depan Scaloni

Pelatih kepala Timnas Argentina, Lionel Scaloni, bereaksi saat upacara penyerahan trofi di akhir pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 20 Juli 2026. (Odd ANDERSEN/AFP)

Scaloni menyebut keputusannya tidak akan diambil tergesa-gesa. Ia akan lebih dulu bertemu pimpinan AFA untuk membahas kelanjutan proyek bersama tim nasional.

"Saya akan berbicara dengan presiden federasi, tetapi kurang lebih saya sudah memiliki gambaran tentang apa yang ingin saya lakukan. Saya akan menyelesaikan kontrak saya, lalu setelah itu baru melihat situasinya," ujar Scaloni.

Kontrak yang berakhir pada penghujung tahun 2026 menjadi batas alami sebelum keputusan baru diambil. "Sejujurnya, saya merasa perlu waktu untuk berpikir karena saya tidak tahu apakah kami bisa melakukan sesuatu sebesar ini lagi. Kami harus membicarakannya. Saya berterima kasih kepada presiden AFA yang telah memberikan kesempatan ini kepada saya. Berada di posisi seperti sekarang adalah impian semua orang. Kami sudah berusaha sampai menit terakhir, baik staf pelatih maupun para pemain. Saya hanya ingin mengambil waktu untuk berpikir," lanjut Scaloni.


Perjalanan Berat Argentina Menuju Partai Puncak Piala Dunia 2026

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni,saat pertandingan Grup J Piala Dunia 2026 melawan Austria di Arlington, Texas, dekat Dallas, Senin (22/6/2026). (AP Photo/Julio Cortez)

Jalur Argentina menuju final terbilang melelahkan. Tiga laga fase gugur dilalui dengan skenario comeback saat menyingkirkan Cape Verde, Mesir, dan Inggris, sebelum akhirnya bertemu Spanyol di laga penentuan.

Kondisi fisik skuat dinilai mulai menurun, mengingat komposisi pemain masih banyak diisi wajah-wajah yang tampil saat menjuarai Piala Dunia 2022. Delapan dari sebelas pemain inti di final merupakan bagian dari tim juara empat tahun sebelumnya.

Dalam refleksinya, Scaloni menyebut capaian ini berada di luar bayangan awal. "Saya tidak pernah membayangkan, begitu juga seluruh staf pelatih, bahwa kami akan berada dalam situasi seperti ini," ungkap Scaloni.

Ia menekankan tuntutan besar jika ingin terus bersaing di level tertinggi. "Karena itu, untuk terus melanjutkan, dibutuhkan banyak hal," pungkas Scaloni.


Tantangan Membangun Ulang Tim

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni memimpin latihan Timnas Argentina menjelang laga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONMEBOL melawan Chile di Ezeiza, Buenos Aires, Selasa (03/09/2024). (AFP/Juan Mabromata)

Scaloni tidak mampu menahan emosi saat menengok perjalanannya bersama Albiceleste. Ia mulai menangani tim pada 2018 sebagai pelatih sementara, lalu menghadirkan Piala Dunia 2022 serta Copa America 2021 dan 2024.

Menurutnya, mempertahankan standar seperti saat ini bukan perkara mudah dan membutuhkan proses baru. "Tempat ini luar biasa. Untuk bisa terus melanjutkan, kami membutuhkan banyak hal. Kami harus memulai lagi. Kami harus membentuk kelompok seperti yang kami miliki sekarang, dan itu sangat sulit untuk dibangun kembali. Hal itu benar-benar menyakitkan hati saya. Saya minta maaf," kata Scaloni.

Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada para pemain yang terus bertarung hingga akhir. "Saya harus berterima kasih kepada kelompok pemain ini. Mereka adalah para pejuang," imbuh Scaloni.

Berita Terkait