Piala Dunia 2026: Enzo Fernandez Harusnya Sudah Dikartu Merah pada Menit 82

Keith Hackett menilai Enzo Fernandez semestinya diusir sejak menit 82 di final Piala Dunia 2026; kartu merah baru keluar pada 90+3 dan Argentina kalah 0-1.

BolaCom | Gia Yuda PradanaDiterbitkan 21 Juli 2026, 15:37 WIB
Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, memberikan kartu merah kepada gelandang Argentina #24 Enzo Fernandez pada pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 19 Juli 2026. (CHARLY TRIBALLEAU/AFP)

Bola.com, Jakarta - Enzo Fernandez menjadi pusat perhatian usai Argentina tumbang 0-1 dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026. Gelandang Chelsea itu akhirnya diusir pada menit 90+3, tapi keputusan wasit memicu perdebatan.

Mantan kepala PGMOL sekaligus eks wasit FIFA, Keith Hackett, menilai Fernandez sudah beruntung masih bertahan di lapangan sejak menit ke-82. Saat itu, ia menerima kartu kuning karena memprotes keras keputusan wasit dan menambahkan tepuk tangan bernada sarkastis.

Advertisement

Laga yang ditentukan oleh gol Ferran Torres pada menit ke-106 tersebut kian bergeser setelah Argentina bermain dengan 10 pemain. Menurut Hackett, kelonggaran wasit Slavko Vincic terhadap Fernandez menjadi salah satu momen penting yang membentuk jalannya partai puncak itu.

Penilaian Hackett memusat pada implementasi disiplin di laga final yang biasanya menghadirkan standar tinggi. Ia menekankan rangkaian peristiwa sejak menit 82 hingga kartu merah menit 90+3 sebagai simpul penting dalam pertandingan.


Keputusan Wasit Pada Menit 82

Pemain Argentina Enzo Fernandez meninggalkan lapangan setelah menerima kartu merah dalam laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Argentina di East Rutherford, N.J., dekat New York, Minggu, 19 Juli 2026. (AP Photo/Abbie Parr)

Pada menit ke-82, Fernandez menerima kartu kuning akibat protes keras setelah merasa dilanggar di area tengah lapangan. Sesaat kemudian, ia menepuk tangan secara sarkastis ke arah Slavko Vincic, tindakan yang oleh sebagian kalangan kerap dibaca sebagai bentuk ketidakpatuhan.

Hackett menilai situasi tersebut berpotensi berujung kartu kuning kedua jika aturan diterapkan lebih tegas. "Saya pikir dia beruntung, tetapi dalam sebuah final selalu ada keengganan, sampai tingkat tertentu, untuk mengeluarkan kartu merah," kata Hackett kepada Football Insider.

Ia juga menilai bahasa tubuh Vincic memperlihatkan ketidakpuasan terhadap ucapan sang gelandang. Meski demikian, wasit tetap mempertahankan Fernandez di lapangan, sebuah keputusan yang menurut Hackett memberi ruang bagi ketegangan untuk berlanjut.


Kartu Merah Menit 90+3 dan Dampaknya bagi Argentina

Penyerang Timnas Argentina bernomor punggung 10, Lionel Messi, dan bek Spanyol bernomor punggung 24, Marc Cucurella, berdebat di depan gelandang Argentina bernomor punggung 24, Enzo Fernandez, selama pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York/New Jersey di East Rutherford pada 20 Juli 2026. (PATRICIA DE MELO MOREIRA/AFP)

Tak lama berselang dari insiden menit 82, Fernandez melakukan tekel keras terhadap Pau Cubarsi pada menit 90+3. Aksi tersebut menghasilkan kartu kuning kedua sekaligus kartu merah, memaksa Argentina menyelesaikan laga dengan 10 pemain.

Kondisi itu mengubah alur permainan. Pada babak tambahan, Ferran Torres mencetak gol pada menit ke-106 yang memastikan La Roja menang 1-0. Argentina pun gagal membalikkan keadaan di sisa waktu.

Dalam kacamata Hackett, kelonggaran pada momen awal membuat eskalasi situasi sulit diredam. Keputusan-keputusan di periode krusial itu, menurutnya, menjadi rangkaian yang saling berkaitan hingga berujung pengusiran Fernandez.


VAR dan Insiden Tepuk Tangan Sarkastis

Nico Williams mencetak gol ke gawang Timnas Argentina, namun tidak disahkan oleh wasit (AP Photo/Matt Slocum)

Hackett menilai aksi tepuk tangan sarkastis Fernandez kemungkinan tidak tertangkap oleh Vincic. "Saya pikir kemungkinan besar wasit tidak melihat pemain itu bertepuk tangan karena ia sedang fokus memulai kembali pertandingan," ujar Hackett.

Ia menambahkan, berdasarkan regulasi, VAR tidak dapat campur tangan untuk insiden kartu kuning. Dengan demikian, keputusan atas gestur atau protes pemain tetap berada sepenuhnya di tangan wasit utama.

Pada titik ini, penjelasan tersebut menerangkan mengapa tidak ada intervensi lanjutan dari tim video terkait perilaku Fernandez. Rangkaian keputusan disiplin pun bertumpu pada apa yang dilihat dan dinilai langsung oleh Vincic di lapangan.


Tanggung Jawab Lionel Scaloni yang Disinggung

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, dalam pertandingan melawan Aljazair di Piala Dunia 2026, Rabu (17/6/2026). (AP Photo/Charlie Riedel)

Selain menyoroti wasit, Hackett juga menilai tim pelatih punya ruang untuk meredam emosi pemain. "Saya akan bilang pelatih memiliki pilihan untuk mengirim pesan kepada pemain itu agar memperbaiki kedisiplinannya," ucap Hackett.

Namun, Lionel Scaloni pada saat itu telah menggunakan seluruh jatah pergantian pemain, sehingga tidak dapat menarik keluar Fernandez. Beberapa menit kemudian, gelandang berusia 25 tahun tersebut melakukan tekel keras yang berujung kartu kuning kedua dan kartu merah pada menit 90+3.

Kekalahan ini menutup perjalanan Argentina di final, sementara perdebatan terkait momen kartu merah Fernandez dan rangkaian keputusan di menit-menit krusial terus bergulir.

Sumber: Football Insider

Berita Terkait