Bola.com, Jakarta - Presiden Argentina, Javier Milei, menilai negaranya menjadi sasaran kecemburuan setelah petisi yang meminta Timnas Argentina dilarang tampil di Piala Dunia edisi berikutnya mengumpulkan lebih dari 23 juta tanda tangan.
Timnas Argentina menuai kritik luas setelah insiden yang terjadi seusai final Piala Dunia 2026 di New Jersey, Senin kemarin.
Tim asuhan Lionel Scaloni itu kalah 0-1 dari Spanyol melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu, tetapi perhatian justru tertuju pada kericuhan setelah peluit panjang berbunyi.
Leandro Paredes terlihat menendang dan memukul sambil mendorong Eric Garcia hingga terjatuh, sebelum terlibat adu dorong dengan Gavi. Sementara itu, Nahuel Molina disebut memulai keributan setelah melayangkan pukulan ke arah Rodri. Asisten pelatih, Roberto Ayala, diketahui memukul Dani Olmo.
FIFA kini sedang menyelidiki insiden tersebut yang berpotensi berujung sanksi larangan bertanding dan denda.
Petisi Tolak Argentina
Perilaku Argentina mendapat sorotan karena terjadi setelah mereka hanya melepaskan dua tembakan, beberapa kali melakukan pelanggaran, serta kehilangan Enzo Fernandez akibat kartu merah.
Di tengah situasi tersebut, petisi daring yang meminta Argentina dilarang mengikuti Piala Dunia pada masa mendatang telah mengumpulkan 23.316.108 tanda tangan dari sekitar 170 negara.
Melalui sejumlah unggahan di Instagram, Milei menyuarakan pembelaannya terhadap Timnas Argentina. Presiden berusia 55 tahun itu membagikan beberapa unggahan yang menggambarkan Argentina menjadi korban ketidakadilan.
Satu di antara unggahan berbunyi, "Punya musuh? Itu berarti Anda pernah membela sesuatu. Kami membela Argentina."
Unggahan lain menyebut, "Masalah Argentina adalah kami selalu menjadi pusat perhatian. Kami tidak pernah luput dari sorotan, orang-orang iri kepada kami, dan kami hebat dalam hampir segala hal."
Kontroversi Argentina
Milei juga mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya merobek jas hingga memperlihatkan seragam Timnas Argentina, disertai keterangan, "Hidup Argentina!"
Sebelumnya, kemenangan Argentina atas Inggris pada semifinal juga memicu kontroversi.
Seusai pertandingan, para pemain Argentina merayakan kemenangan sambil membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina."
Sikap serupa juga ditunjukkan sejumlah pemain Argentina, termasuk Leandro Paredes yang menolak meminta maaf atas tindakannya setelah final.
Bangga dan Terhormat
Dalam unggahannya, Paredes mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Argentina dan mengaku sedih karena gagal membawa kebahagiaan bagi negaranya. Namun, ia menegaskan tetap bangga karena tim telah memberikan segalanya dan kembali mengharumkan nama Argentina.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota timnas serta menyebut dirinya merasa terhormat menjadi bagian dari skuad yang menurutnya merupakan Timnas Argentina terbaik sepanjang sejarah.
Kendati lolos dari kartu merah saat pertandingan, Paredes bersama Nahuel Molina, Thiago Almada, serta asisten pelatih Roberto Ayala tetap berpotensi menghadapi proses disipliner FIFA.
Badan sepak bola dunia itu telah menunjuk seorang jaksa disiplin dan etik untuk menyelidiki insiden setelah peluit akhir di Stadion MetLife.
Mereka yang terlibat terancam hukuman larangan bertanding, sementara Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga berpotensi dijatuhi denda karena dinilai gagal mengendalikan pemain dan stafnya.
Sumber: Mirror