UEFA Siap Boikot Piala Dunia jika Wacana Penjualan Saham FFE Tak Dicabut

UEFA dan 55 anggotanya ancam boikot Piala Dunia dan kompetisi FIFA bila rencana penjualan saham FFE ke investor swasta tidak dibatalkan.

BolaCom | ThomasDiterbitkan 31 Juli 2026, 06:43 WIB
Logo FIFA. (AFP PHOTO / FABRICE COFFRINI)

Bola.com, Jakarta - UEFA bersama 55 asosiasi anggotanya mengancam boikot seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Sikap tegas ini muncul menyusul rencana federasi tersebut melibatkan investor swasta dalam FIFA Forward Enterprise (FFE). Ancaman itu menempatkan masa depan ajang-ajang utama FIFA di bawah sorotan tajam.

Di bawah kepemimpinan Presiden Gianni Infantino, FIFA menyiapkan FFE untuk mengelola hak komersial dan operasional turnamen besar. Paket ini mencakup Piala Dunia putra dan putri, serta Piala Dunia Antarklub. FIFA menargetkan sekitar 4,2 miliar dolar AS dari penjualan hingga 20% saham minoritas, dengan valuasi FFE diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS.

Advertisement

FIFA menyebut pendanaan itu akan mempercepat dukungan pengembangan sepak bola global bagi 211 asosiasi anggotanya. Federasi juga menegaskan akan mempertahankan kendali mayoritas 79% atas FFE serta otoritas eksklusif atas tata kelola dan keputusan olahraga. Proyek ini disebut sebagai lompatan pendanaan dibanding model saat ini.

UEFA menolak mentah-mentah rencana tersebut. Mereka meminta FIFA membatalkan sepenuhnya penjualan saham ke investor swasta. Selain itu, UEFA menuntut jaminan mengikat agar kepemilikan swasta tak pernah dibuka dalam tata kelola maupun kompetisi FIFA ke depan.


UEFA Ancam Boikot dan Tuntutan ke FIFA

UEFA dan seluruh 55 asosiasi anggotanya secara bulat menolak proposal FIFA. Mereka menyatakan ancaman boikot akan dihentikan bila rencana penjualan saham kepada investor swasta dibatalkan sepenuhnya. Syarat tambahan adalah jaminan mengikat agar tiada ruang bagi kepemilikan swasta di masa depan.

Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan, "Piala Dunia bukan milik sepak bola untuk dijual" dan "jiwa serta tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan." Mereka menilai komersialisasi berlebihan berisiko mengubah sepak bola secara permanen. Fokus pengembalian finansial dikhawatirkan menggeser integritas olahraga.

Sementara itu, FIFA mencoba mendorong persetujuan dengan insentif finansial. Opsi pembayaran satu kali sebesar 20 juta dolar AS, bahkan bisa mencapai 40 juta dolar AS, ditawarkan bagi asosiasi yang menyetujui proposal sebelum 19 September. Skema ini jauh melampaui model pendanaan sebelumnya yang hanya 10 juta dolar AS.


Rencana Komersial FIFA Forward Enterprise

FFE diproyeksikan menjadi entitas komersial baru untuk mengelola pemasaran, hak siar, dan operasi turnamen-turnamen utama. Cakupannya meliputi Piala Dunia pria dan wanita serta Piala Dunia Antarklub. Struktur ini dirancang untuk menarik modal eksternal sekaligus memperluas basis pendapatan jangka panjang.

FIFA menargetkan pengumpulan dana sekitar 4,2 miliar dolar AS dengan menjual hingga 20% saham minoritas. Valuasi FFE disebut dapat mencapai 20 miliar dolar AS. Federasi menegaskan akan tetap memegang kendali mayoritas 79% beserta otoritas eksklusif atas aspek tata kelola dan keputusan olahraga.

Menurut FIFA, dana segar akan dialokasikan untuk mempercepat pendanaan program pengembangan bagi 211 asosiasi anggota. Ini diproyeksikan menjadi tambahan signifikan dibanding model pembiayaan yang berjalan. Insentif persetujuan sebelum 19 September disiapkan sebagai pemicu adopsi awal.


Kekhawatiran Transparansi dan Tekanan Investor

Logo FIFA dari markas besarnya di Zurich, Swiss. Foto diambil pada 20 Oktober 2010 jelang biding Piala Dunia 2018 dan 2022.AFP PHOTO/SEBASTIAN DERUNGS

Kritik terhadap proposal FIFA juga datang dari konfederasi lain seperti CONCACAF dan AFC. Keduanya menyuarakan keprihatinan atas kurangnya konsultasi dan proses yang transparan dalam penyusunan rencana ini. Kekhawatiran utama terkait tata kelola dan proses pengambilan keputusan.

Ekspektasi investor dikhawatirkan memunculkan tekanan harian yang dapat memengaruhi jadwal pertandingan, format turnamen, dan prioritas komersial. Kekhawatiran ini menyentuh jantung penyelenggaraan kompetisi. Dampaknya bisa merembet pada kalender internasional dan struktur turnamen.

Thrive Eternal, anak perusahaan Thrive Capital yang didirikan oleh Joshua Kushner (saudara ipar Donald Trump), disebut sebagai calon pemimpin kelompok investor. Bank investasi JPMorgan berperan sebagai penasihat keuangan FIFA dalam proses ini. Keterlibatan pihak keuangan besar ikut menyita perhatian pemangku kepentingan.

Di ranah politik, Komisioner Olahraga Uni Eropa, Glenn Micallef, serta Perdana Menteri Inggris Andy Burnham turut menyuarakan keprihatinan serupa. Keduanya menekankan bahwa sepak bola seharusnya tetap bertanggung jawab kepada penggemar, bukan kepada investor. Seruan ini menambah tekanan publik terhadap rencana tersebut.


Riwayat Penolakan terhadap Agenda Komersial FIFA

Ini bukan kali pertama Presiden Infantino menghadapi penolakan atas proposal komersialnya. Pada tahun 2018, usulan senilai 25 miliar dolar AS untuk Piala Dunia Antarklub yang diperluas dan Liga Bangsa-Bangsa global gagal akibat oposisi. Penolakan terutama datang dari UEFA.

Dua tahun kemudian, pada 2021, gagasan Piala Dunia dua tahunan juga ditentang keras. UEFA dan CONMEBOL berada di garis depan penolakan. Isu kalender, tata kelola, dan prioritas olahraga kembali mengemuka.

Rangkaian resistensi itu menjadi latar atas sikap tegas saat ini terhadap FFE. UEFA menilai rencana penjualan saham ke investor swasta membuka bab baru komersialisasi. Mereka menuntut pembatalan total serta jaminan mengikat untuk melindungi integritas kompetisi.

Berita Terkait