Dirut PSIM Minta Suporter Ramaikan Stadion demi Bisa Belanja Pemain di Paruh Kedua Super League

Dirut PSIM, Liana Tasno, minta suporter datang, menyaksikan, dan mendukung langsung PSIM di stadion.

BolaCom | Ana DewiDiterbitkan 31 Juli 2026, 14:00 WIB
Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, hadir sebagai pembicara GTC Chapter UGM Volume 2 yang berlangsung di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Minggu (17/5/2026). (Dok. PSIM Yogyakarta)

Bola.com, Yogyakarta - Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, mengajak suporter untuk terus memenuhi stadion. Dukungan langsung dari tribune tidak hanya jadi suntikan motivasi pemain, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi finansial klub.

Selain itu, Liana menegaskan manajemen akan tetap menjunjung tinggi profesionalisme dalam mengelola skuad, termasuk ketika harus berpisah dengan pemain yang dinilai tidak sesuai kebutuhan tim.

Advertisement

"Ini biasa di sepak bola, ada pemain yang enggak cocok di PSIM. Tapi, PSIM harus memperlakukan mereka dengan integritas dan kebaikan," ujar Liana.

"PSIM harus menghormati kontrak yang sudah ada, walau pemain itu belum memberi kontribusi. Bagaimanapun juga kami harus menghormati kontrak yang ada. Jadi, memungkinkan juga buat PSIM untuk memberi kompensasi," imbuhnya.


Butuh Spare Bujet untuk Bursa Transfer

Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, menjadi pembicara di program edukatif bertajuk PSIM Goes to Campus di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (24/2/2026). (dok. PSIM Yogyakarta)

Liana Tasno mengungkapkan idealnya setiap klub memiliki dana cadangan yang bisa digunakan pada putaran kedua kompetisi. Dana tersebut dibutuhkan apabila tim ingin mendatangkan pemain baru.

Itulah mengapa, ia berharap suporter terus memadati stadion setiap kali PSIM bermain. Menurutnya, kehadiran penonton memberikan kontribusi besar terhadap kemampuan finansial klub.

"Kalau ditanya idealnya memang begitu. Di putaran kedua harus ada bujet cadangan sendiri. Intinya, tolong suporter penuhi stadion PSIM, karena itu kontribusi banget untuk di paruh musim supaya kami bisa beli pemain baru," pintanya.

"Tapi, jangan lagi nanti bilang, 'Demo aja manajemen PSIM kalau enggak penuhi janji,'. Padahal, kami semua di sini kerja keras sama-sama. Enggak ada mikirin pribadi masing-masing, ini benar-benar buat DIY. Jadi, jangan ada curiga lagi," ucap Liana.


Bertahan Lama di Liga 1 dan Mimpi ke Asia

Wanita berusia 43 tahun itu berujar, pengelolaan klub Liga 1 membutuhkan perhitungan yang sangat matang. Ia tidak ingin PSIM memaksakan pengeluaran hingga akhirnya kesulitan memenuhi kewajiban pemain.

"Daripada nanti enggak bisa bayar gaji pemain di akhir musim, itu sangat tidak baik. Semua harus dihitung dengan presisi. Makanya, idealnya memang ada spare bujet di paruh kedua untuk penambahan pemain," katanya.

"Tolong stadion PSIM diramaikan karena menyeimbangkan kebutuhan klub di Liga 1 itu tidak mudah. Banyak banget tuntutan PSIM di Liga 1 dan kami mau di Liga 1 selamanya. Sampai mimpi, semua pasti maunya ke Asia."

"Kami ingin bisa bersaing membawa nama Yogyakarta. Masa orang Indonesia enggak punya mimpi ke sana. Mulailah dari hal kecil dulu. Jadi, tolong PSIM ini memang perlu diramaikan stadionnya," ucapnya.

Berita Terkait