Bola.com, Gianyar - Ketika Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) Piala Presiden 2026 menunjuk Bali sebagai tuan rumah semifinal, perebutan tempat ketiga, dan final, disusul tidak adanya penjualan tiket penonton, perdebatan di dunia nyata dan media sosial.
Namun, di balik kebijakan yang dianggap tidak populer itu, ada satu pertimbangan yang ditempatkan di atas segalanya, yaitu keamanan.
Ketua SC Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, bersama Ketua OC, Tsamara Amany, memilih menempatkan keselamatan dan kenyamanan sebagai fondasi utama turnamen pramusim paling bergengsi di Tanah Air tersebut.
Langkah itu menjadi makin penting mengingat empat klub yang lolos ke semifinal Piala Presiden 2026 adalah Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, dan Arema FC.
Keempatnya adalah kekuatan besar sepak bola Indonesia yang memiliki basis suporter masif dengan sejarah rivalitas panjang.
"Saya kira, nomor satu, tentu saja kami memikirkan dari segi keamanan. Bagi kami di kepanitiaan, nomor satu adalah keselamatan. Keselamatan penonton, keselamatan suporter," ujar Tsamara.
"Kami selalu beranggapan menonton sepak bola itu harus aman, harus nyaman, harus tenang, dan harus bahagia."
"Kemarin disampaikan langsung pemilihan venue oleh ketua Steering Committee karena memang kalau pemilihan venue itu keputusan-keputusan yang tinggi seperti itu memang selalu diputuskan ketua Steering Committee. Tentu beliau melihat aspek-aspek tersebut, mempertimbangkannya," jelas Tsamara.
Kembali ke Bali
Langkah berikutnya tidak kalah berani. SC dan OC memutuskan untuk tidak menjual tiket semifinal Piala Presiden 2026, yang awalnya dinilai banyak pihak bakal mengurangi keseruan turnamen.
Sebagian mendukung keputusan itu, sementara sebagian lainnya mempertanyakannya. Namun, seiring berjalannya waktu, Bali berhasil membuktikan sebagai tuan rumah yang aman dan nyaman bagi empat klub legendaris tersebut.
Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Selasa (4/8/2026), semifinal Piala Presiden 2026 dimulai oleh laga Persib kontra Persija diikuti partai Persebaya melawan Arema FC.
"Kalau teman-teman ingat, Piala Presiden yang pertama dibuka di Bali waktu itu. Dan hari ini Piala Presiden ke-8 itu ada di Bali lagi," ujar Ketua PSSI, Erick Thohir.
Piala Presiden memang bak kembali ke rumah. Sewaktu turnamen pramusim itu pertama kali digelar pada 2015 untuk mengisi kekosongan kompetisi, Bali dipilih menjadi lokasi pembukaan.
Tensi Tinggi
Tanpa kehadiran penonton, pertandingan tetap berlangsung dalam tensi tinggi. Persib berhasil mengalahkan Persija 2-1 melalui gol Uilliam Barros pada menit ke-22 dan penalti Balsa Sekulic pada menit ke-28.
Persija sempat memperoleh peluang emas melalui Eksel Runtukahu, Gustavo Almeida, dan Arlyansyah Abdulmanan, tetapi gagal memaksimalkannya, hingga akhirnya bisa memperkecil ketertinggalan lewat Kwon Chang-hoon pada menit ke-86.
Pada semifinal lainnya, rivalitas Persebaya dan Arema FC juga tersaji tanpa kehilangan intensitas. Sembilan kartu kuning dan satu kartu merah yang diterima Diego Landis menjadi bukti kerasnya duel kedua kedua kesebelasan.
Persebaya memastikan kemenangan 1-0 atas Arema FC melalui gol Yuran Fernandes pada menit ke-45+7.
Dirayakan dengan Aman dan Nyaman
Kala peluit panjang dibunyikan pada kedua laga, Bali tidak hanya menghasilkan dua finalis. Pulau Dewata juga berhasil membuktikan sepak bola dapat tetap berjalan kompetitif, penuh emosi, dan sarat gengsi tanpa mengorbankan keamanan.
Kini, Persib dan Persebaya bersiap memperebutkan trofi Piala Presiden 2026 serta hadiah juara senilai Rp8 miliar di Stadion Kapten I Wayan Dipta pada Kamis (6/8/2026).
Di tempat yang sama, Bali kembali menunjukkan perannya bukan sekadar sebagai lokasi pertandingan, tetapi juga ruang netral yang memungkinkan sepak bola Indonesia dirayakan dengan aman dan nyaman.